Chapter 17

50.5K 1.4K 468
                                        

Sebelum baca Vote dulu nanti lupa!

Sebelum baca Vote dulu nanti lupa!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat membaca

***

"Lo mau gue lakuin ini?" tanya Nanggala begitu berhasil melepaskan baju gadis itu. Hera terus menggeleng. Demi tuhan, Hera tidak mau. Nanggala menjauh untuk mengambil minum, tenggorokannya terasa kering.

Kesempatan tersebut digunakan, Hera untuk mundur.

"J-jangan. Gue mohon-," Hera terus mundur hingga hampir terjatuh jika saja Nanggala tidak menariknya.

Nanggala mendengus sinis kala mendengar perkataan gadis yang kini sudah dalam kendali nya. Ia menunduk untuk mendekatkan wajahnya keduanya, hingga hampir tidak ada jarak. Hera menahan nafas begitu Nanggala mulai menyesap tengkuknya. Perlahan namun pasti, ciuman dan gigitan kecil Nanggala membuat Hera menggeliat tidak nyaman.

Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh besar tersebut untuk menjauh, namun lagi-lagi ia kalah telak. Perbedaan proporsi tubuh mereka sangat berbeda jauh. Nanggala mengeram marah saat Hera dengan sengaja menghindar ciumannya. Laki-laki itu menghentikan ciumannya. Menatap tajam gadis cantik di bawahnya dengan kesal.

"Balas ciuman gue!"

Hera memalingkan wajahnya membuat Nanggala geram. Lelaki itu mencengkram dagunya dengan deru nafas yang kian memburu. Hera bergidik ngeri saat melihat sisi gila Nanggala tersebut.

"Shhh.....Jangan bikin gue tambah gila, Halera." bisik Nanggala dengan kepala yang sudah nyut-nyutan. Sejak memulai aksinya ia belum ketahap berikutnya itu sebabnya kepala dan bawahnya sudah sakit bukan main.

"Lo tahu gue paling gak suka diabaikan. Jadi balas ciuman gue!"

Nanggala kembali mencium gadis yang berstatus tunangannya itu. Hera bisa saja menendang Nanggala begitu lelaki tersebut lengah, namun dipikir-pikir bukankah lebih baik ia harus menjadi gadis yang penurut. Cara menyakiti diri sendiri tidak mempan. Maka cara lainnya adalah patuh.

Nanggala mengigit bibir bawah Hera, sehingga gadis itu refleks membuka mulutnya. Kesempatan itu digunakan oleh Nanggala memperdalam ciumannya, memasukkan lidahnya untuk bermain-main didalam sana.

Hera memejamkan matanya, ia tidak ada pilihan lain selain membalas ciuman lelaki tersebut. Nanggala meraih tekuk Hera, memperdalam ciuman keduanya. Saat sang gadis mulai ikut membalas tanpa sadar membuat sudut bibir Nanggala tersenyum.

Kepala Hera pening dan pasokan udaranya menipis. Gadis itu memberontak dengan memukul-mukul dada Nanggala dengan sisa tenaga yang ada.

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang