Chapter 30

37.6K 905 136
                                        

Selamat membaca

***

Suasana kelas saat jam pelajaran  begitu tenang dan damai. Tidak ada yang berisik atau sekedar menoleh sana sini. Kecuali Nanggala, laki-laki itu dari tadi fokusnya bukan ke guru didepannya sana, tetapi pada sang gadis disampingnya. Nanggala tersenyum tipis saat Hera menoleh padanya. Sepertinya gadis itu terlihat risih, namun enggan untuk menegur.

"Dua bulan lagi kalian akan ujian maka persiapkan diri kalian mulai hari ini. Jangan ada yang masih malas-malasan, mengerti?"

"Mengerti buk." jawab semuanya kompak kecuali Nanggala.

"Liat kedepan sana  bukan ke gue!" tegur Hera tak tahan lagi.

Namun, Nanggala seolah tuli ia tetap menatap ciptaan tuhan didepannya. Sayang banget jika dilewatkan. Nanggala benar-benar jatuh cinta pada Hera.  Seakan-akan ada magnet yang menarik untuk terus mendekat.

"Nanggala!" tegur Hera dengan suara terdengar seperti bisikan.

"Lo aja yang fokus, sayang. Gue masih bisa mendengar perkataan Buk Musdalifah tanpa melihatnya." sahut Nanggala.

Hera hanya bisa pasrah. Tidak mau berdebat dengan Nanggala, ia akhirnya kembali fokus kedepan sana. Mencatat materi yang sekiranya penting.

Kiva yang duduknya dibelakang sontak memutar bola matanya, jengah. Harusnya ia yang duduk di samping sang sahabat bukannya Nanggala. Cowok itu tadi mengambil alih tempatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"K-kamu kesal?" tanya cowok yang memakai kacamata kebesaran.

Kiva mendesis seperti ular berbisa, selain kesal sama Nanggala gadis itu rupanya juga sedang kesal sama teman sebangku Nanggala. Laki-laki yang memakai kacamata kebesaran itu menatap Kiva dengan takut-takut.

"Lo sama teman lo sama aja. Sama-sama ngeselin." katanya sebal.

"Iya kamu juga ngeselin."

Kiva mendelik, "Mata lo tuh ngeselin. Ngapain pakai kacamata besar gitu? Mata lo gak minus lo pikir gue gak tahu."

Laki-laki itu membetulkan tata letak kacamatanya saat melihat penampakan di samping gadis itu. "Ini kacamata anti penampakan." balasnya.

"Dihh, emang lo bisa liat penampakan?"

"Bisa tuh disamping lo ada cewek yang matanya keluar." sahutnya membuat Kiva menoleh.

Saat menoleh Kiva langsung terpekik begitu mendapati wajah seseorang yang sudah melotot kearah mereka berdua.

"Apa yang sedang kalian gosipkan?" tanya Buk Musdalifah dengan mata yang melotot.

Hera dan Nanggala ikut menoleh pada Kiva. Suara Kiva tadi begitu nyaring membuat Buk Musdalifah akhirnya menghampiri sang pelaku.

Kiva menelan ludahnya sendiri sambil menatap buk Musdalifah. Ternyata penampakan yang dikatakan teman sebangkunya adalah buk Musdalifah. Cowok itu benar-benar membuat Kiva tambah kesal saja.

"Gak ada buk." Gugupnya.

"Gak ada ngapain sampai gugup gitu?"

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang