Chapter 37

9.1K 657 265
                                        

Virly merasa Farez menyembunyikan sesuatu.

Tidak biasanya seorang Farez Abinata mau berurusan langsung dengan Virly Maharani.

Hari sudah mulai sore, suasana apartemen terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Cahaya matahari yang mulai condong masuk melalui jendela besar, memantulkan bayangan panjang di lantai. Virly berdiri di dekat meja dengan tangan terlipat di dada, ekspresinya dingin—lebih tepatnya menahan emosi yang belum sepenuhnya padam.

Di seberangnya, Farez bersandar santai di dinding.

Farez diam.

Seolah sedang menunggu reaksi sang pemilik apartemen.

Tidak ada percakapan selama beberapa detik panjang yang terasa menekan.

Tatapan Farez tidak biasa. Ia tidak menatap seperti orang yang sedang menantang, juga bukan seperti orang yang marah. Lebih seperti seseorang yang sedang mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya—tenang, fokus, dan terlalu sabar.

Virly menyadari itu.

Dan justru itulah yang membuatnya semakin kesal pada Farez.

"Berhenti natap gue," ucap Virly tajam. Ia benar-benar tidak mau berurusan dengan Farez yang mulai terlihat berbeda. Cukup Nanggala, ia tidak mau lagi berurusan dengan Farez.

Farez tidak langsung memalingkan wajah. Ia masih memperhatikan gadis didepannya itu.

"Kenapa?" tanyanya Farez pelan.

"Gue nggak suka." balas Virly kesal. Apa lelaki itu tidak tahu bahwa ia sangat membencinya. Sejak dulu juga Virly sudah tidak suka sama Farez.

Virly ingat sekali pada saat mereka di Bar Dasta. Saat itu ia tidak sengaja jatuh ke kepangkuan Farez akibat dorongan Nanggala, dan tebak apa yang Farez lakukan pada saat itu. Lelaki itu langsung mendorongnya jatuh ke lantai. Saat itulah ia sudah mulai membenci Farez.

Farez itu tidak punya perasaan.

"Ck, gue punya mata." ujar Farez pelan, namun masih kedengaran.

Farez mendorong tubuhnya menjauh dari dinding, lalu melangkah mendekat dengan ritme pelan—tidak tergesa, tidak ragu.

Setiap langkahnya membuat jarak di antara mereka menyempit. Virly refleks menegang. Farez mau ngapain mendekat.

"Jangan deket-deket." seru Virly tidak ingin Farez tambah dekat padanya.

Farez berhenti hanya satu langkah di depannya. Terlalu dekat, sehingga udara di antara mereka terasa hangat, sempit, dan penuh tekanan yang tidak terlihat.

Virly mendongak, menatap dengan kesal. Farez sedikit menunduk. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Seolah satu gerakan kecil saja cukup untuk menghapus sisa ruang. Detik berjalan lambat membuat suasana terasa berbeda.

Virly hampir mendorong Farez menjauh dari tubuhnya, tapi gerakannya justru lambat. Farez menyeringai lalu memiringkan kepalanya sedikit, napasnya nyaris tak terasa, lalu berbisik pelan di dekat telinga Virly.

"Lo benci gue..."

Hening.

"...tapi lo masih butuh gue." bisik Farez membuat bulu kuduk Virly merinding.

Kalimat itu jatuh seperti pisau tipis—tidak keras, tapi tepat. Virly langsung mendorong bahu Farez dengan kuat.

"Jangan sok ngerti gue!"

Farez mundur setengah langkah. Ekspresinya tetap tenang—bahkan sudut bibirnya nyaris membentuk senyum tipis yang sulit dibaca.

"Gue emang nggak ngerti, tapi masa depan lo ada ditangan gue," katanya datar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang