Chapter 15

59.5K 1.5K 256
                                        

Happy reading


***

"NANGGALA!"

"BUKA PINTUNYA. GUE MAU PULANG."

"Tolong buka pintunya!" teriak seorang gadis didalam kamar untuk sekian kalinya. Nanggala yang sedang bersandar di ruang tamu sambil menghisap rokok seolah-olah tidak mendengar gedoran yang dilakukan gadis tersebut.

Nanggala melirik sekilas lalu kembali pada aktivitasnya menyesap minum dingin untuk menyegarkan kepalanya. Merasa gerah ia melepas seragam sekolahnya berserta kaos yang dijadikan dalamnya juga. Setelah dirinya membuka baju barulah ia bangkit dan melangkah menuju pintu untuk membuka pintu kamar.

Hera yang sedang mengusap wajahnya mendongak saat melihat Pintu terbuka. Susah payah ia menelan ludahnya saat melihat penampilan lelaki tersebut. Gila, apa kebiasaan lelaki tersebut emang suka seenaknya membuka baju didepannya. Tubuh Nanggala memang bagus, mungkin sangat bagus dengan otot yang kekar seperti itu. Tetapi, ia belum terbiasa.

"Kenapa diam?" Nanggala mendudukkan tubuhnya di sofa sambil memperhatikan gadisnya. Nanggala tersenyum sinis saat melihat kebungkaman Hera.

"Gue mau pulang!" setelah lama terdiam akhirnya Hera mengutarakan niatnya.

Lelaki didepannya tersebut tidak menimbulkan reaksi sama sekali membuat Hera merasa Nanggala mengizinkannya untuk pulang. Namun, saat ingin melangkah tatapan lelaki tersebut berubah mengerikan.

"Diam di tempat lo, Halera!"

"A-apa?"

"Lo gak dengar? Jangan coba-coba lo keluar tanpa seizin gue!" ucapnya penuh peringatan.

Hera yang mendengar perkataan Nanggala hanya bisa mematung. Belum lagi Nanggala mengubah cara bicaranya. Tidak ingin membuat kekacauan ia kembali duduk di tepi kasur milik lelaki tersebut. Suasana hening mengisi ruangan mereka, hanya terdengar dentingan jam yang setiap detik bertambah.

Nanggala mengambil sebatang rokok dan pemantiknya. Ia butuh benda mengandung nikotin itu jika sedang dalam suasana buruk. Ia bisa saja melampiaskannya pada Hera, hanya saja ia tidak ingin membuat gadis itu tambah cerewet minta pulang.

"Kenapa lo kurung gue di kamar Apartemen lo? Gue punya rumah dan keluarga. Gue harus pulang sekarang."

Nanggala diam tidak menjawab laki-laki itu sibuk dengan aktivitasnya.

Hera meremas roknya hingga terlihat kusut. "Nanggala!"

"Hubungan kita itu gak sehat. Gue sama lo gak akan bisa bersatu." ucapnya lagi dan lagi-lagi laki-laki tersebut belum ada merespon ucapnya.

"Gue gak suka dikekang apalagi di kurung seperti ini. Lebih baik kita akhiri saja." Hera menarik nafas pelan seolah keputusan yang akan diambilnya bisa saja membuat dirinya miskin saat itu juga.

"Gue akan bilang sama kedua orang tua gue buat batalin perjodohan ini."

Perkataan seorang gadis tersebut membuat sang pendengar menghentikan aktivitasnya. Menoleh sebentar lalu mendengus. Tubuh polos bagian atasnya dia biarkan terbuka. Seolah-olah dia memang sengaja memamerkan otot-ototnya yang tampak kekar.

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang