Chapter 32

36.8K 935 151
                                        

Don't forget to follow my account
Tiktok: im_anna80
Instagram: kim_annaya80
Wp:krsnazhra

Happy reading

***

Pukul tujuh lewat tigapuluh hujan baru berhenti. Beberapa daerah yang memiliki dataran rendah sudah di rendam air. Kebanjiran kecil, namun cukup berefek besar bagi pengguna jalan. Banyak mobil-mobil yang mengantri saat beberapa mobil macet di jalanan. Khususnya, Nanggala yang sudah sejak tadi ia menunggu mobil didepannya yang  tidak bergerak sedikit pun. Laki-laki itu terus merutuki kesialannya. Dari dijebak oleh Virly lalu kejebak macet. Benar-benar doubel sial.

Nanggala khawatir pada istrinya yang ia tinggalkan sejak semalam itu. Apa Hera mencarinya? Atau Hera malah kesenangan saat dirinya tidak ada?

Sial, berbagai pertanyaan tanpa jawaban itu membuat Nanggala pusing. Mau menelepon Hera juga tidak bisa karena ponselnya mati sejak semalam.

Dua jam kemudian akhirnya ia dan pengguna mobil lainnya terbebas dari macet. Mobil yang dikendarai Nanggala melesat menuju kediamannya. Sesampainya di depan rumah, ia langsung mencari keberadaan sang istri.

"Sayang?"

"Halera?" teriak Nanggala saat tidak menemukan keberadaan Hera.

Nanggala panik. Ia tambah panik saat tidak menemukan Hera di kamar. Kemana istrinya itu? Apa nekat pergi ke sekolah?

Tidak mau membuang waktu, keturunan Adiwijaya itu segera mengambil baju seragam sekolahnya. Tujuannya saat ini adalah sekolah untuk memastikan Halera ada disana. Seketika, Nanggala menyesal meninggalkan Hera tadi malam kalau pada akhirnya ia dibuat panik begini.

Nanggala kembali memasuki mobil. Benar-benar nekat menerobos macetnya kota jakarta yang sedang dilanda banjir. Nanggala seolah tak mempermasalahkan hal tersebut. Jam hampir menunjukan angka sepuluh pagi, dimana jam istirahat telah selesai.

Sesampainya di depan gerbang masuk mobil Nangala tidak bisa masuk. Nanggala yang kelewatan kesal menurunkan sedikit kaca mobil. Sang satpam yang kelihatan bingung sontak terkejut saat melihat laki-laki tersebut.

"Den?"

"Buka pintunya, pak!"

"Waduh kok telat?" tanya bapak satpam penasaran. Ia sedikit heran saat melihat salah satu murid yang selalu datang awal tiba-tiba telat. Namun, tak urung ia membukakan gerbang sekolah.

"Ada musibah. Terimakasih, pak." Nanggala membalas saat melewati sang satpam.

Penjaga gerbang sekolah SMA Rajawali hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang kaya. Musibah apa sehingga telat pergi sekolah? Mana lagi jam pertama sudah selesai.

Tak mau memikirkan hal yang tidak penting pria paruh baya itu kembali menutup pintu gerbang.

***

"Mana Hera?"

Kiva menoleh begitu mendengar suara tak asing. Matanya sontak agak membulat saat melihat tubuh tinggi Nanggala di sampingnya. Dan apa katanya tadi? Hera?

"Lo cari Hera? Seriously? Kalian satu rumah kenapa malah tanya sama gue yang beda rumah."

Kelas sedang kosong karena guru yang harusnya mengajar terjebak banjir. Namun, walaupun begitu kelas seluruh siswa tetap belajar dengan cara mereka sendiri. Didalam kelas ada hanya terdapat tiga orang- termasuk Kiva, sementara yang lainnya pergi ke perpustakaan.

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang