Chapter 10

79.5K 2.1K 255
                                        

S e l a m a t m e m b a c a

Setelah terjadi kehebohan pagi tadi kini situasi mulai normal seperti biasa, hanya saja setiap kali Hera lewat atau berselisih banyak anak-anak menatapnya dengan intens. Dan parahnya lagi saat Hera melewati papan pengumuman fotonya dan Nanggala terpasang indah di antara karya anak-anak SMA Rajawali.

Menyebalkan itulah yang ada di pikirannya. Hera tahu Nanggala memang tidak pernah berinteraksi dengan perempuan tapi apakah mereka harus bersikap berlebihan seperti itu. Dan jujur dirinya sedikit risih.

Hera dan Kiva saat ini sedang berada di kantin. Suasana tampak begitu ramai karena jam istirahat baru di mulai. Kedua gadis cantik itu tampak begitu sedang mengoceh --lebih tepatnya Kivana Kejora. Sejak tadi Kiva tidak ada henti-hentinya mengoceh pada Hera.

"Gila ini gila, Hera. Lo tahu gak isi grup gue semuanya foto lo dan Nanggala. Kok bisa lo sama Gala datang secara barengan? Pake pelukan segala lagi."

"Bukannya lo gak mau di gosipkan? Tapi kok gue lihat malah sebaliknya, yah." lanjut Kiva lagi.

Kuping Hera panas mendengar suara cempreng Kiva sejak lima belas menit nonstop mengoceh. Helaan nafas panjang dari bibir mungilnya, Hera menatap Kiva dengan melemas.

"Kivana lo bisa gak diem dulu! Gue lagi pusing sumpah."

"Gak bisa Halera gue gak bisa diem. Ini lo masuk akun pergosipan anak-anak. Gue tuh penasaran ya kok lo bisa sama Gala peluk-pelukan begitu."

"Dia yang meluk gue!" Sergah Hera sambil memutar bola matanya. "Asal lo tahu dia juga yang maksa gue."

Kiva mendudukkan bokong tepat di samping Hera. "Tapi lo kan tahu Nanggala dirumorkan gak suka di deketin cewek bahkan anak-anak bilang dia tuh gay. Gara-gara kejadian tadi lo pasti akan jadi bahan gosip nya anak-anak lo tau itukan?"

"Terus gue harus gimana? Jungkir balik juga gak bakalan bikin gosip berhenti kali."

"Ck, mau lo jungkir balik juga gosip gak akan berhenti, Halera. Tapi, gue punya ide itupun kalau lo mau sih." ujar Kiva membuat Hera mendongak.

"Ide apaan?" tanyanya.

Kiva mendekat untuk membisikkan idenya pada sang sahabat. "Lo harus cari cowok baru buat merendam gosip kalian."

Hera langsung mendelik tajam, "Lo mau gue di tuduh cewek gak benar? Baru dekat sama Nanggala terus ketahuan dekat sama cowok lain. Ide lo justru bikin nama gue tambah buruk."

Kiva meringis bertepatan satu sentilan di dahinya. Padahal niatnya baik lho ini tapi sahabatnya malah berburuk sangka seperti ini.

"Tapi ini jalan satu-satunya."

"Gak mau!" tolak Hera. Lebih tepatnya ia tidak mau mencari masalah. Ia tahu betul Nanggala orangnya agak sinting. Nanti yang ada malah dapat masalah apa lagi ia sudah mutlak di klaim oleh lelaki gila itu.

"Terserah lo deh."

Hera hanya bergumam pelan sambil melanjutkan memakan bakso yang sempat ia anggurin tadi. Keduanya sibuk dengan makanan masing-masing hingga tiba-tiba seseorang mengebrak meja makannya keduanya. Hera mendongak menatap sang pelaku.

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang