Chapter 19

40.6K 1K 159
                                        

Cuek. Satu kata itulah menggambarkan sosok lelaki yang sedang menghisap sebatang rokok tersebut. Sementara, gadis di sampingnya secara terang-terangan melihat bagaimana lelaki itu mengembuskan asap rokoknya.

Virly Maharani terus menatap Nanggala dengan penuh damba. Lelaki incarannya tepat di sampingnya sekarang. Tidak perlu bersusah payah cowok itu sendiri yang mendekat.

"Ngapain?" tanya Nanggala.

Virly tertegun mendengar suara berat Nanggala. Ada perasaan aneh yang sedang berdetak tak karuan sekarang. Virly seperti jatuh dari atas ketinggian. Kulitnya bahkan meremang. Sifat genitnya hilang begitu saja yang ada sifat malu-malu tapi mau.

"E-emm lo ganteng." kata Virly tanpa merasa malu.

Nanggala tidak menoleh namun wajahnya datar saat mendengar pujian gadis itu. Inilah alasannya tidak suka berdekatan dengan perempuan, selalu saja seperti ini. Ganteng? Hah, jika saja tidak memiliki wajah setampan ini mungkin saja para cewek-cewek tidak akan memujinya.

Virly tersenyum namun sedetik kemudian senyumannya hilang saat melihat cincin di jari manis cowok itu. Ia lupa Nanggala sudah bertunangan. Tapi, selagi jalur kuning belum melengkung acara tikung-menikung masih bisa Virly lakukan. Demi cintanya. Lebih tepatnya tidak ingin kalah.

"Gue boleh minta nomor hp lo gak?"

"Gak!"

"Kenapa?" tanya Virly.

"Privasi."

"Oh, oke. Nanti malam gue mau ke bar Dasta mau join gak?" Virly tersenyum penuh harap. Ingin sekali ia bisa mendekati Nanggala

Nanggala menoleh. Matanya memicing melihat wajah perempuan di sampingnya itu. Cantik tapi lebih cantik Hera. Baju kekecilan membuat tubuhnya tercetak jelas. Nanggala mendengus begitu sadar bahwa cewek itu bernama tag Virly Maharani.

Gadis yang suka membully. Bahkan memiliki kasus yang tak lagi terhitung hampir membuat cewek itu di DO dari sekolah.

Virly mendongak begitu Nanggala bangkit dari duduknya. Tubuh tinggi cowok itu menjulang membuat Virly merasa kagum. Nanggala bersiap meninggalkan Virly namun baru dua langkah suara cewek itu membuatnya berhenti.

"Lo gak mau join? Gue gak ngajak lo sendirian lo bisa bawa teman-teman lo. Gue mau traktir lo sebagai awal perkenalan. Gue tau lo juga udah punya tunangan dan gue juga udah punya pacar. Anggap aja lo dapat minuman gratis. Jadi mau join gak?" tanya Virly diakhir kalimatnya.

Nangala tersenyum miring. "Kita lihat nanti."

Setelah itu Nanggala meninggalkan Virly begitu saja. Sementara, Virly sudah memekik tertahan. Senyuman penuh kemenangan tercetak jelas di wajah cantik gadis itu. Jawaban Nanggala itu bearti iyakan? Tapi, belum tentu juga Nanggala benaran datang.

***

Hera memutar badannya begitu melihat Nanggala dan teman-temannya menuju kantin. Ia melangkah lebar sembari meremas roknya. Ia agak takut melihat sorot mata cowok itu begitu melihatnya. Walaupun Nanggala tidak mendekatinya tetap saja ia segan. Ia di kurung hampir sekarat melihat bagaimana sisi cowok itu.

"Anjir kenapa malah balik ke kantin." Maki Hera begitu sadar langkahnya menuju kantin. Mau balik lagi sudah pasti ia akan berhadapan langsung dengan Nanggala.

Berbeda dengan Hera yang tampak kacau Nanggala justru terlihat tenang. Cowok itu terus memperhatikan langkah Hera yang kini malah kembali ke kantin. Sudut bibir cowok itu tertarik kesamping membentuk sebuah senyuman penuh seringai. Gadisnya tampak menggemaskan dan ia merasa waktu seminggu terasa sangat lama, satu hari saja terasa satu abad.

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang