Chapter 16

54.1K 1.3K 369
                                        

Happy reading

***

Hari telah berganti. Matahari mulai hilang diganti dengan pekatnya malam. Seorang gadis tampak meringkuk di pojok kamar, meratapi nasib. Sudah dua hari dirinya terkurung di kamar ini dan tidak ada satupun orang yang mencarinya.

Suara pintu terbuka dari luar tidak membuat Halera menoleh sedikitpun. Tidak perlu melihat dia juga sudah tahu yang membuka pintu pasti Nanggala. Siapa lagi selain lelaki itu. Mereka cuma berdua di Apartemen lelaki itu.

"Kenapa mojok disitu?" tanya Nanggala begitu melihat sang gadis.

Terdengar suara helaan nafas. Nanggala menaruh plastik makanan di atas nakas. Kaki panjangnya mendekati gadis tersebut. Halera terlihat mundur menghindari Nanggala. Sejauh apapun Halera mundur lelaki tersebut akan terus melangkah mendekatinya. Apalagi tubuhnya sudah menempel di tembok sekarang ini.

Nanggala diam sambil terus melihat wajah ketakutan gadis didepannya itu. Lelaki itu berjongkok lalu mengelus rambut Hera dengan pelan. Kedua bibirnya tersungging senyuman miring saat Hera menjauhkan kepalanya. Gadisnya baru saja menolak elusannya.

"Jangan takut, sayang. Selagi kamu jadi gadis penurut aku akan baik." ujarnya mengelus pipi mulus Hera.

Hera memalingkan wajahnya, enggan melihat wajah tampan lelaki dihadapannya. Ia benar-benar merasa muak dengan Nanggala.

"Ayo kita makan bersama."

Pasrah. Hera hanya bisa pasrah saat tubuhnya digendong oleh Nanggala. Lebih baik ia menurut supaya bisa membuat Nanggala merasa sudah menang, karena sudah berhasil menaklukkannya. Setelah Nanggala percaya padanya nanti. Diam-diam ia bisa menjalankan misi kaburnya. Bila perlu sejauh mungkin.

Melihat Hera terdiam membuat Nanggala mencium kening gadis itu. Sementara, Hera yang sedang melamun terkejut bukan main dengan ciuman Nanggala barusan.

Nanggala mengambil keresek makanan tersebut lalu memisahkannya ke beberapa piring. Ia sengaja membeli banyak karena di dapur tidak ada bahan makanan. Takut Hera tengah malam nanti kelaparan, ia tahu gadis itu suka lapar ditengah malam.

"Mau aku suapin?" tanya Nanggala dengan lembut.

Hera menggeleng pelan, "A-aku bisa sendiri."

Nanggala mengangguk sambil memberikan makanan tersebut pada sang gadis. Ia tersenyum melihat cara makan Hera yang terbilang pelan. Padahal gadis itu belum makan sejak tadi siang. Untunglah Hera tidak memberontak dan mogok makan seperti tadi.

"Kamu cantik. Aku semakin tergila-gila." kata Nanggala begitu saja menghentikan suapan gadis itu. Hera tidak habis pikir dengan Nanggala, kenapa bisa mencintai seseorang seperti terobsesi begini.

Nanggala mengambil alih piring ditangan Hera lalu menyuapi gadis itu. Ia gemas dengan cara makan gadis itu yang sangat lambat.

"Katakan sesuatu, sayang. Dari tadi aku belum dengar suara indah kamu."

Hera menelan makanannya dengan susah payah. Berakhir membuat dirinya tersedak, Nanggala langsung panik mengambil minuman dan memberikan pada sang gadis.

"Makanan sialan itu- kamu gak papa kan sayang?" Nanggala sampai mengelus leher Hera membuat gadis itu merinding.

Hera menjauhkan lehernya sambil menggeleng pelan. "Aku baik-baik aja." jawabnya pelan.

"Hmm, baguslah kalau enggak aku pastikan bikin perhitungan sama pembuat makanan tersebut." ucapnya dengan nada mengancam. "Ayo tidur!"

"A-apa?"

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang