Chapter 33

32K 713 119
                                        

komen kalian lucu lucu deh

Jangan lupa follow akun wattpad ini yaww
tiktok: im_anna80
instagram: kim_annaya80
tandai typo yaww supaya aku bisa segera revisi

💅💅

Selamat membaca

***

Setelah berhasil meloloskan diri, Hera membanting pintu kamar dan segera menguncinya rapat-rapat. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun tidak beraturan. Gila. Sedikit lagi harga dirinya tercabik oleh kelakuan Nanggala Adiwijaya—laki-laki yang kini sah menyandang status sebagai suaminya, namun bertingkah layaknya monster tak berakal.

"Brengsek," desisnya penuh muak. "Dia pikir dia siapa, hah? Seenaknya mau menyentuh gue."

Hera bersandar di balik pintu, tubuhnya merosot perlahan hingga duduk di lantai dingin. Matanya menatap kosong ke depan, sesekali melirik ke arah gagang pintu seolah takut benda itu akan berputar kembali. Kunci sudah terpasang, tapi rasa aman tak pernah benar-benar datang.

Gadis itu kembali melirik pintu kamar setelah melarikan diri dari Nanggala. Ia bahkan mengunci kamar saking takutnya, Nanggala bisa nekat berbuat macam-macam. Namun sejak tiga puluh menit tidak ada tanda-tanda kedatangan laki-laki itu sehingga membuat Hera sedikit lega.

Nanggala dan sifat brengsek nya memang benar-benar keterlaluan. Hera tak habis pikir Nanggala bisa berbuat sejauh itu sama Virly. Dan kenapa juga harus Virly? Apa tidak ada perempuan lain sampai-sampai Virly yang notabenenya masih satu sekolah dengan laki-laki itu.

Helaan nafas berat dari celah bibir gadis itu. Inilah yang Hera takutkan. Jika sebelum menikah  ia selalu kepikiran bahwa Nanggala mempunyai seorang kekasih. Tapi dulu ia mengiranya seorang laki-laki bukan seorang gadis. Tentu kondisinya saat ini berbeda.

Bagaimana Hera menanggapinya? Apa yang harus ia lakukan.

Marah? Ia juga tidak mempunyai alasan untuk marah. Karena ia pun belum tahu akan perasaannya terhadap Nanggala. Mungkin perasaannya untuk saat ini lebih kecewa dari pada marah. Kecewa pada Nanggala yang sudah berani mempermainkan pernikahan mereka yang masih berumur sebiji jagung.

"Ck, Dia mikir gak sih sebelum ngelakuin itu." kesal Hera.

Di ingat-ingat kok tambah kesal ya. Apalagi saat mengingat bagaimana entengnya Nanggala mengatakan bahwa dirinya dijebak. Lucu sekali.

Dan lebih lucu lagi, apakah ia akan terus berdiam diri di kamar hingga malam tiba? Jika iya, tamatlah dirinya. Perutnya sejak tadi sudah meronta minta diisi. Namun untuk sekadar keluar kamar saja, nyali Hera tak ada.

Ia tidak mau kejadian di Apartemen Nanggala kembali terulang.

"Laper...." Hera mengusap perutnya.

Satu-satunya jalan adalah menahan lapar demi keselamatannya. Lagian untuk hari ini saja besok-besok ia pastikan tidak akan. Karena besok ia ingin keluar dari rumah ini. ia tidak mau tubuhnya yang akan menjadi korban laki-laki itu. Cukup Virly tidak akan ada Hera.

Gadis itu sesekali menguap menahan ngantuk. Rasa kantuk akhirnya menyerang. Tanpa sadar, Hera tertidur. 

Sementara itu, di ruang tamu, Nanggala tengah berkutat dengan laptopnya. Tugas mendadak dari sang ayah memaksanya menyelesaikan pekerjaan sebelum menyusul Hera yang mengurung diri di kamar. 

NANGGALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang