"Jauhi Halera Nanggala!" Masih dengan napas tersengal-sengal Farez melangkah mendekati dua remaja didepannya itu.
Galang dan Sangkara di belakang sana hanya bisa menonton karena tidak tahu apa-apa. Melihat Farez dan Nanggala sama sama mengeluarkan aura permusuhan yang sangat ketara, mereka yakin ada sesuatu yang terjadi.
"Semakin lancang." komentar Nanggala lalu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipisnya.
Farez diam menunggu kelanjutan perkataan Nanggala.
"Lo yang harusnya jauh-jauh sama tunangan gue ralat calon istri gue." Nanggala menyeringai begitu melihat perubahan ekspresi Farez.
"Lo gak pantas jadi tunangan Halera apalagi jadi suaminya." balas Farez tak mau kalah.
Alis Nanggala terangkat sebelah. Berani sekali si brengsek itu mengatakannya tak pantas jadi suami Hera emang dia sendiri pantas begitu. Nanggala mendengus dibuatnya.
"Lo sendiri lebih gak pantas sama Hera!"
"Cihh," Farez kesal. Ia kira Nanggala terpancing emosi namun sayangnya cowok itu biasa-biasa saja. "Gue sama lo berbeda. Gue bisa bahagiakan Hera tanpa paksaan seperti lo."
"Sepertinya lo belum puas gue hajar yaa. "gumam Nanggala masih bisa di dengar mereka. Termasuk Hera yang berada di belakang lelaki itu.
Hera tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa kedua sahabat itu kini bermusuhan. Apa sebenarnya yang terjadi? Hera melihat Farez didepan sana cowok itu juga ikut melihatnya dengan senyuman manisnya. Belum sempat mencerna apa yang terjadi ia sudah di kejutkan dengan Nanggala menarik tangannya.
"Lo milik gue!" Nanggala menarik Hera masuk ke dalam pelukannya. Tidak terima Si brengsek Farez tersenyum pada sang gadis. Sedangkan Hera dengan posisi membelakangi Farez mulai gelisah. Hera tidak bisa melihat siapa-siapa selain koridor menuju gudang sekolah.
"N-nanggala lepas!" Gadis itu kembali memberontak. Ini masih area di sekolah dengan Nanggala bersikap seenaknya seperti ini akan menimbulkan gosip nantinya. "Lepasin gue!"
Nanggala seolah tak mempunyai kuping. Ia malah mengeratkan pelukannya dan mengecup kepala Hera. Seolah-olah menandakan ia lah yang lebih berhak bersama gadis tersebut. Sementara, Hera hanya bisa pasrah dalam dekapan Nanggala.
Jelas itu semua tidak luput dari perhatian Farez. Ingin sekali Farez menarik tubuh mungil Hera itu. Tetapi, melihat wajah Nanggala membuatnya urung. Farez tahu Nanggala sedang mempermainkan emosinya. Tidak ada yang bisa menebak pikiran gila Nanggala jika ia berani menarik Hera.
"Kenapa diam Farez Abinata?"
"Lepasin Halera Nanggala!"
"Ahh, Sayang sekali gue gak dengar. Apa tadi Rez?" tanya Nanggala menyebalkan. Sengaja memancing amarah Farez.
"Bajingan gila." umpat Farez. Kesal melihat kegilaan Nanggala yang kembali membuat ulah.
Nanggala sengaja meraba pinggang Hera dengan sensual. Ah, sial sekali ia harus menahan keinginannya untuk mencumbu gadisnya. Berbeda dengan Nanggala yang mati-matian menahan keinginannya Hera justru mematung. Gadis itu syok saat tangan besar Nanggala mengusap perutnya.
"Napas sayang!" bisiknya menyadarkan Hera. Nanggala masih beradu pandang dengan Farez, namun tangannya tak tinggal diam.
Gadis itu mendongak. "Lepasin gue atau gue akan batalin pernikahan sialan ini, Nanggala putra Adiwijaya!"
Fokus lelaki itu teralihkan sekarang. Nanggala menyeringai begitu melihat keberanian gadis dalam pelukannya.
"Mau gue kurung lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
NANGGALA
Fiksi RemajaDi jadohin sama cowok yang memiliki rumor gay padahal aslinya brutal. Hati Halera seperti dibuat ganjang- ganjing, saat berhadapan langsung dengan cowok gila, seperti Nanggala Putra Adiwijaya. *** Nanggala dengan segala rumor nya, keturunan Adiwija...
