Selamat membaca
"Lo udah ngapain aja sama Gala?" tanya Kiva heboh bertepatan seseorang masuk ke dalam toilet.
"Oh, jadi lo Nanggala normal!" ucap orang itu membuat keduanya kaget. "Bagus deh kayaknya gue punya kesempatan buat ambil hatinya."
"Tapi, gue penasaran kalo gak salah denger tadi lo mau tunangan sama Gala?" tanyanya pada Hera.
"Gak usah di jawab juga gak papa. Dapat informasi Gala normal aja gue udah puas. Hmm, sepertinya gue punya kesempatan buat Gala jatuh ke pelukan gue." ujarnya. Lalu terdengar suara tawa gadis itu yang terdengar menyebalkan.
Hera menatap wajah gadis didepannya dengan teliti. Lalu setelah tahu siapa gadis itu ia mendengus. Ia tentu ingat, apalagi saat melihat kebawah bagian roknya ia tidak mungkin salah orang. Gadis itu adalah gadis yang sama. Gadis centil, sepertinya Virly memang tertarik dengan Nanggala karena melihat senyuman lebar gadis tersebut.
"Kayak cantik aja lo." Kiva menyahut, sambil membenarkan tata letak rambutnya. Terlihat jelas dari wajahnya gadis itu terlihat mengejek.
"Belum tentu juga Nanggala mau sama lo. Mimpi lo ketinggian."
"Gue emang cantik! Kenapa iri lo sama gue," sinis Virly.
"Iri sama lo? Sorry yah gue lebih cantik dari lo."
"Sok, cantik."
Kiva mendelik. "Ya emang cantik dan asal lo tahu cantik gue alami. Nggak kayak lo tebal sama makeup."
"Dasar centil." seru Kiva lagi.
Muka Virly sudah merah. Tangannya mengepal kuat, seperti siap untuk menonjok muka sambong Kivana Kejora. Virly tahu siapa kedua gadis didepannya ini, namun ia tidak takut. Ngapain takut coba lagian ia sudah biasa mem-bully adik kelasnya. Untuk sekedar melawan dua gadis itu tak masalah baginya.
"Lo yang centil, dasar cewek gila."
"Hah, kalah cantik sama gue terus sekarang ngatain gue cewek gila. Lo tuh yang gila. Datang-datang malah bikin rusuh."
Hera yang mendengar jawaban sang sahabat pun meringis. Sebenarnya, tidak salah sih Kiva mengaku cantik seperti itu. Tapi, kedua kubu tersebut sudah mulai terpancing masing-masing kala mendengar geraman Virly.
"LO! CEWEK SIALAN."
Virly mendekat dan menjambak rambut Kiva. Untungnya Kiva cepat mengindari sehingga hanya beberapa helai yang bisa Virly gapai. Kiva yang sudah kesal pun ikutan menarik rambut Virly. Keduanya saling tarik-menarik bahkan tak segan Kiva mencakar kulit kepala Virly.
"Arghhh....mati lo cewek gila."
"Lo yang mati, sialan!"
"Dasar cewek centil! Muka mirip pantat babi aja bangga. Awss---Her, bantuin gue!" teriak Kiva membuat Hera yang mematung hanya bisa menghela napas.
Hera yang bingung pun mulai melerai pertikaian kedua gadis itu. Namun, sayangnya mukanya kena pukulan kala Kiva ingin memukul Virly.
Hera meringis sambil menyentuh pipinya. Ia menoleh ke arah cermin kala saat merasakan pipi bagian dalamnya terluka. "Mereka seperti kerasukan. Padahal cuma masalah sepele." ucapnya, pelan.
"RAMBUT GUE! SIALAN LO GUE BARU KE SALON KEMARIN."
"GAK PEDULI. LEPASIN RAMBUT GUE."
Virly tak mau kalah ia mulai membalas Kiva dengan mendorong kepala gadis itu mundur hampir mengenai Hera. "Awssh---Sakit gila lo merusak rambut gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
NANGGALA
Fiksi RemajaDi jadohin sama cowok yang memiliki rumor gay padahal aslinya brutal. Hati Halera seperti dibuat ganjang- ganjing, saat berhadapan langsung dengan cowok gila, seperti Nanggala Putra Adiwijaya. *** Nanggala dengan segala rumor nya, keturunan Adiwija...
