belenggu

17 2 0
                                        

Hari-hari setelah hubungan dengan Nolan berakhir, setiap langkah yang kuambil terasa seperti berat. Setiap pagi, aku bangun dengan perasaan yang sama: kerinduan yang mendalam dan kehampaan yang menyelubungi hatiku.

Ponselku bergetar di atas meja, menandakan pesan baru masuk. Aku tahu siapa yang mengirimnya tanpa perlu melihat layar. Itu pasti dari Nolan, yaa, bahkan nada notifikasi dari Nolan pun yang berbeda dengan notif lainnya, tidak aku ubah sama sekali. Aku membiarkan segala hal tentang Nolan tetap seperti semula, tak kusentuh, tak kuganti.

Sebagian dari diriku ingin mengabaikannya, berpura-pura bahwa aku tidak peduli. Tapi entah mengapa, aku masih mengambil ponselku dan membuka pesannya. Mengapa aku melakukan ini pada diriku sendiri?

Aku bertanya-tanya. Aku tahu hasilnya akan selalu sama. Aku akan merasa tidak enak setelahnya. Mengapa aku membiarkannya? Mengapa aku memberinya begitu banyak akses ke dalam hidupku?

Aku malu dengan caraku menunggu pesannya. Bagaimana bisa aku begitu berharap setiap kali ponselku berbunyi? Aku sadar bahwa itu gila, tapi aku masih berharap. Aku akan menjawab setiap kali dia membutuhkanku, tanpa ragu-ragu, dan itu membuatku sadar bahwa diriku sangat menyedihkan.

Aku berharap semuanya akan berubah pada akhirnya, itu yang membuatku jadi mengemis di hadapannya untuk kembali. Masih ada sebagian kecil yang penuh harap di dalam hatiku. Aku masih menunggunya untuk melihatku, menginginkanku, memilihku.

Menerima pesan dari Nolan membuatku berdebar, pertanda bahwa bagian dari diriku masih terikat padanya. Dia bertanya tentang kabarku, dan aku tahu dia tidak akan menerima jawaban apa pun kecuali yang sebenarnya. Namun, aku menjawab dengan kata-kata yang dia ingin dengar, menyembunyikan kegelisahan dan rasa sakit yang masih menghantui hatiku.

Tetapi, pertukaran pesan itu membuatku semakin sadar akan perasaanku belakangan ini. Betapa sulitnya melepaskan seseorang yang begitu aku cintai. Ini adalah pengalaman pertama bagiku, dan aku merasa seperti berada di dalam kegelapan.

Meskipun kita berpisah dengan damai, aku masih merenungkan keputusan-keputusan yang telah kami ambil. Aku bahkan memohon padanya untuk memperbaiki hubungan kita, tapi nyatanya, itu tidak mungkin.

Membicarakan kembali hari-hari kami membuatku memahami bahwa perasaankanku tidak sepenuhnya baik-baik saja. Aku mencoba menutup mata terhadap kenyataan bahwa aku masih sangat merindukannya. Meski begitu, aku tak bisa mengabaikan fakta bahwa kami berdua tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Meski kami saling mencari tahu kabar satu sama lain, tetapi kita masih terjebak dalam kesedihan yang sama.

Percakapan itu membuka mataku. Mungkin, mempertahankan harapan untuk kembali bersamanya adalah hal yang bodoh, tapi aku tidak bisa menahan diri. Aku masih ingin memperbaiki segalanya, meskipun aku tahu itu hanyalah sebuah impian.

Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah kita sebaiknya memberi ruang pada satu sama lain? Apakah kita harus menghentikan upaya kami untuk tetap terhubung? Mungkin ini adalah saatnya untuk mengakhiri semuanya, meski hatiku terasa berat memikirkannya. Bahkan ketika kita berbicara dengan jujur satu sama lain, aku merasa campur aduk. Aku bahagia bahwa kita masih berada di jalur yang sama, bahwa dirinya pun masih memikirkanku, tetapi juga merasa sakit karena tidak bisa kembali ke masa lalu yang menyenangkan.

Setiap kali aku berharap pada kemungkinan untuk memulai kembali, aku sadar bahwa aku masih terjebak dalam masa lalu yang belum terselesaikan. Chat seperti ini membuatku bahagia, tapi juga menyakitkan. Mungkin mempertahankan hubungan kami yang baik-baik saja ketika hatiku masih terikat padanya bukanlah keputusan yang tepat. Itu hanya membuatku semakin tersakiti. Kecuali jika sekarang dia benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita dari awal, aku akan dengan senang hati menerimanya.

Andam KaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang