nestapa

17 1 0
                                        

Aku duduk sendirian di sudut kamar, air mata mengalir deras di pipiku. Setiap hembusan napasku terasa berat, membebani dadaku yang sesak oleh keputusasaan. Di tanganku, ponselku tergeletak tanpa tujuan, layar yang redup menampilkan pesan terakhir dari Nolan. Aku tahu saat ini aku harus mengambil langkah keluar dari zona abu-abuku, tetapi hatiku masih terjerat dalam harapan yang menggelapkan pikiranku.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan, dan kakak perempuanku, Alma, masuk dengan langkah hati-hati. Aku mengangkat wajahku yang penuh dengan air mata dan menatap kakakku dengan mata sayu. Tanpa berkata apapun, Alma duduk di sampingku, memelukku erat.

"Aku tahu, Alyssa." Alma berkata lembut, suaranya penuh dengan kehangatan dan perhatian. "Aku tahu kamu sayang dengan Nolan, tetapi kamu harus menghadapinya. Kamu tidak bisa terus-terusan berada dalam keadaan ini."

Aku menangis lebih keras, merasa kesedihanku ditangkap oleh kata-kata bijak kakakku. Alma membelai rambutku dengan lembut, mencoba memberiku sedikit kelegaan.

"Kalau cowo ngebiarin kamu pergi dengan mudah, bahkan tanpa coba nyelamatin hubungan kamu, biarin dia pergi," Alma melanjutkan, suaranya bergetar dengan kebijaksanaan. "Dia cuma ga cukup cintai kamu untuk perjuangin kamu. Dan kalo dia benar-benar ingin mempertahankan kamu, gaada apapun yang bisa ngehalanginnya, bahkan pride atau egonya."

Aku mendongak, memandangi kakakku dengan mata yang penuh dengan kebingungan dan kepedihan. Air mata masih mengalir di pipiku, namun ada keinginan yang kuat untuk memahami mengapa segalanya berakhir seperti ini.

"Aku tau ini berat buat kamu, tapi kamu juga harus tau," kata Alma dengan suara yang lembut namun tegas. "Cowo itu ga bodoh, kalau dia mau sama kamu, dia pasti bertahan sama kamu apapun alasannya. Ini sekarang engga kan? Dia emang udah gamau aja, Alyssa."

Tanganku gemetar saat aku mencoba menyerap kata-kata Alma. Sementara hatiku ingin menyangkalnya, tapi ada bagian dalam diriku yang tahu bahwa kata-katanya benar. Nolan tidak lagi ingin bersamaku, dan itu adalah kenyataan yang menyakitkan.

"Kenapa dia gamau sama aku sih kak?" tanyaku dengan suara yang serak, sambil menghapus air mata yang terus mengalir deras.

Alma menatapku dengan penuh kasih sayang sebelum menjawab, "Untuk alesannya kenapa dia akhirnya gamau sama kamu, kayanya kamu gaperlu tau sih, untuk apa lagi Alyssa? Buat kamu memperbaiki diri? Sadar Alyssa, dia gamau sama kamu bukan kamu yang kurang dari segi apapun. Emang dia udah gamau sama kamu aja, lagian aku tau banget ko dia ngejar kamu seperti apa. Tapi yang perlu kamu tau, cowo itu bisa ngejar cewe sampai ujung dunia kalau itu emang cewe yang dia mau."

Aku terdiam, meresapi kata-kata Alma dengan hati yang berat. Meskipun sulit untuk diterima, aku masih mempertahankan keyakinan bahwa Nolan tidaklah seperti yang diungkapkan kakakku. Aku masih ingat kata-kata Nolan dari masa lalu, ketika ia mengungkapkan bahwa ia butuh waktu lama untuk benar-benar melepaskan hubungan sebelumnya. Bahkan ibu Nolan sendiri mengakui bahwa putranya bukanlah sosok yang mudah melepaskan seseorang yang pernah ia cintai, meskipun hubungan itu telah berakhir.

"Percuma, Alyssa," katanya dengan nada bijak yang membuatku merenung. "Kamu gabisa memaksa seseorang untuk merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasain. Cukuplah kamu udah berusaha memohon Nolan untuk bertahan, karena semua usaha itu bakal sia-sia. Yang ada, kamu cuma ngelukain harga diri kamu sendiri di depannya, Alyssa."

Kakakku mungkin benar, aku tidak bisa memaksa Nolan untuk mencintai aku kembali.

Andam KaramTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang