Aku dan Nolan duduk berdampingan, bersandar di pinggiran kasur, pandangan kami terfokus ke depan. Udara terasa hening, tapi dadaku dipenuhi oleh gelombang emosi yang tak terkendali.
"Alyssa, hidup itu harus tetap berjalan, dengan atau tanpaku," ucap Nolan dengan suara yang menenangkan, sibuk menyantap mie buatan ku sambil sesekali menoleh padaku dengan tatapan yang penuh empati.
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca, mencoba menahan air mata yang ingin jatuh. "Aku tahu, Nolan. Tapi rasanya begitu sulit untuk melanjutkan tanpamu." ucapku lirih, suara serak karena tertahan oleh tangis.
Nolan menghentikkan kegiatannya sejenak dan menatapku dengan penuh perhatian. "Alyssa kau harus tahu, bahwa selama setahun bersamamu, aku melihat banyak perkembangan dari dirimu. Kini, kau bisa mengungkapkan perasaanmu dengan jujur dan terbuka. Itu sesuatu yang luar biasa." puji Nolan dengan tulus.
Nolan mengungkapkan lebih lanjut, "Ketika kau memutuskan hubungan kita, Alyssa, aku merasa hancur, sedih sudah jelas. Tapi aku tidak ingin menunjukkan kesedihan itu kepada siapapun di sekitarku. Bagiku, itu adalah urusanku sendiri..."
"Namun fakta bahwa aku bercerita ke orang-orang dekatku, termasuk ibu. Mereka juga merasa sedih mendengarnya."
Nolan menyentuh tanganku, sementara matanya melayang ke masa lalu, "Aku masih ingat betapa aku jatuh cinta pada sosokmu, Alyssa. Karena kau adalah perempuan yang begitu mandiri. Dari dirimu, aku belajar begitu banyak hal tentang kemandirian mu itu."
"Aku sayang kamu, Nolan." lirih ku, air mata mengalir deras, membasahi pipiku yang pucat.
"Tanpa kamu katakan pun, aku tahu, Alyssa, aku pun sayang kamu." ucap Nolan akhirnya, sambil mencoba menyeka air mata yang terus mengalir di pipiku.
Namun, kata-katanya membuatku semakin terpukul. "Tapi mengapa, Nolan? Mengapa kau tidak mau mencoba berkembang bersamaku?" tanyaku, mencoba mencari jawaban yang memuaskan hatiku.
Nolan menghela napas panjang sebelum menjawab, "Aku takut, Alyssa. Aku takut bahwa perubahan yang ada pada diriku membuatmu tidak nyaman. Aku tak ingin menyakitimu."
Rasanya dadaku semakin sesak mendengar jawabannya. Aku ingin membantah, ingin memberitahunya bahwa aku akan menerimanya apa adanya, tapi kata-kata itu terdengar hampa di dalam keheningan yang menyelimuti kami, seakan tidak mempengaruhi keputusan Nolan apapun alasannya.
Udara terasa hening, namun dadaku dipenuhi oleh berbagai perasaan yang berkecamuk. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara kami. Suasana sunyi membuatku semakin terdengar dalam hampa. Aku merasa kehilangan, merenungkan apa yang salah dan apa yang mungkin bisa kulakukan untuk memperbaiki segalanya.
Saat itu, aku ingin sekali lebih banyak berbicara, mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di kepalaku. Tapi kata-kata terasa terjebak di tenggorokanku. Aku takut menyuarakan rasa sakit dan kekecewaanku, takut membuat situasi semakin rumit. Namun, di sisi lain, aku juga merindukan kehangatan Nolan, kerinduan akan kebersamaan yang perlahan-lahan memudar.
Aku berusaha menenangkan diri, menekan perasaan yang memenuhi hatiku. Sementara itu, Nolan tetap diam, mungkin juga sedang merenungkan segala sesuatu seperti yang kualami.
Setelah beberapa saat terjeda dalam keheningan, Nolan, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pertemuan itu. "Aku pamit pulang ya," katanya dengan lembut.
Aku menatapnya, mencoba menahan gelombang emosi yang menghantam. "Terimakasih untuk segalanya, Alyssa." ucapnya dengan tulus. "Aku juga tak pernah menyesali apapun tentangmu."
Senyum lembut Nolan menghangatkan hatiku, momen itu membuatku sadar bahwa Nolan sudah pergi, menghilang dari hadapanku. Ruangan terasa sepi, menyaksikan kepergiannya. Aroma lembut Nolan tak lagi terasa, meninggalkan ruangan yang hampa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Andam Karam
Storie d'amoreTerkadang, membuka halaman selanjutnya terasa sulit ketika kita sadar bahwa seseorang yang kita sayangi tidak akan ada di cerita kita lagi. Meski begitu, hidup harus tetap berlanjut, karena cerita kita belum berakhir.
