#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Laki-laki yang serius akan datang langsung ke rumah. Karena laki-laki yang benar-benar mencintaimu, tak akan lebih lama menggantungmu dalam ketidakpastian."
***
SELEPAS BERBINCANG SANTAI dan melaksanakan salat Isya, ruang keluarga kediaman Ikram Rivandra mendadak diliputi ketegangan, terutama dua orang yang menjadi inti acara.
"Jadi, sesuai yang sudah kami jelaskan sebelumnya, bahwa kedatangan kami ke sini pun ada maksud tertentu." Seorang pria berbicara dengan penuh wibawa, sepertinya dia ayah Adit. "Sebelum itu, Nak Caca, ada yang ingin Adit sampaikan kepada kamu."
Aditya Pratama mengangguk begitu dipersilakan bicara. Dia pun menghadap Caca. "Cahaya, sebelumnya saya minta maaf karena ingkar atas ucapan saya sendiri. Saya mendapat musibah, saudara dekat saya kecelakaan dan meninggal sehari setelahnya. Jadi, saya tidak bisa memenuhi janji saya sama kamu. Lalu, saya terlalu fokus mengurus permakaman, saya tidak sempat cek ponsel." Dia terlihat menggosok-gosok pelan kedua telapak tangannya.
Sekarang Caca sudah tampil cantik dan feminim—dengan gaun pinjaman Vanda yang untungnya cocok—gara-gara dipaksa dandan oleh Vanda dan Vera. Mana mode buru-buru karena mereka hanya punya waktu beberapa menit bada Isya, itu pun sudah ditunggui oleh para tamu. Untunglah Vera punya tangan sakti sebagai perias berpengalaman.
"Tidak apa-apa." Jujur saja, hati Caca campur aduk sekarang. Namun, jelas dia paham dan bisa menerima alasan Adit. Bagaimanapun kehilangan orang terdekat merupakan pukulan berat.
Lalu, pandangan Caca teralih pada Vera dan Ega, duo sahabat somplaknya yang pastilah menjadi biang kerok dalam acara ini.
"Terima kasih. Jadi, kedatangan saya ke sini adalah untuk memenuhi janji saya sama kamu. Saya ingin melamar kamu. Apa kamu bersedia menjadi pendamping hidup saya?" tanya Adit to the point.
"Dit, Dit, gak ada romantisnya banget," bisik seorang pria sepantaran Adit yang duduk di kursi dekat Ikram. Dia langsung mendapat teguran dari pria di sebelahnya. Mungkin keduanya sahabat Adit.
Caca melempar tatap pada kedua orang tuanya.
"Semua terserah kamu, Neng," kata Vanda sambil menahan senyum. Jelas sekali wanita itu tengah menahan kebahagiaannya yang teramat sangat. Itu berarti, Adit sudah berhasil mendapat lampu hijau dari kedua orang tuanya.
Caca beralih pada sahabat-sahabatnya yang malah memberi gerakan heboh, pertanda mendukung penuh untuk menjawab 'iya'. Vera justru kelihatan sibuk merekam. Kemudian, kepalanya memutar kembali ucapan Vanda selagi mereka bersiap tadi di kamar.
"Laki-laki yang serius akan datang langsung ke rumah, menemui Mama sama Ayah untuk meminta izin atas kamu, bukan cuma tebar kata-kata dan janji manis untuk bikin kamu baper, tetapi sulit kasih kepastian. Karena laki-laki yang benar-benar mencintaimu, tak akan lebih lama menggantungmu dalam ketidakpastian."