#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Laki-laki selalu punya sisi kekanakan yang akan ditunjukan pada seseorang yang membuatnya nyaman."
***
SEBUAH RUMAH MINIMALIS dua lantai menjadi tempat ketibaan Caca dan keluarga. Bangunan itu memiliki kesan elegan dengan pemilihan warna cat dominan cokelat, dilengkapi beberapa lampu hias yang menyala oranye lembut. Ini rumah yang sudah dihuni Adit sejak tiga tahun lalu meski hanya sesekali ditinggalinya ketika tengah rehat dari berlayar. Sebagai ganti, Dinda-lah yang menjadi penghuni tetap rumah dua lantai itu.
Mereka tiba tepat ketika azan Magrib berkumandang, jadi langsung bergegas masuk untuk bersiap-siap menunaikan ibadah. Kemudian, para wanita sibuk memasak, termasuk Dinda. Caca pikir akan canggung berkenalan dengan adik ipar, tetapi ternyata perkenalan mereka berlangsung lancar. Wanita berusia 22 tahun itu adalah orang yang banyak bicara dan suka bercanda, sefrekuensi dengan Vanda.
"Baik-baik di sini ya, Neng." Vanda memeluk erat putrinya dan menghadiahi beberapa ciuman sayang.
"Nitip si Neng ya, A," kata Ikram dengan tabah sambil memeluk Adit.
Sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam, kedua orang tua Caca akan pamit pulang. Vera tak ikut mengantar karena urusan pekerjaan sehingga Ikram dan Vanda hanya kembali berdua. Lalu, dengan alasan tak mau mengganggu pengantin baru, Dinda pun ngacir lima menit lalu, kembali ke rumah kedua orang tuanya yang berjarak kurang dari seratus meter dari sana.
"Aman, Yah, Ma. Neng udah jadi tanggung jawab saya sekarang," kata Adit lalu tersenyum manis. "Dan ..., terima kasih sudah memberi saya kepercayaan itu."
Ikram melebarkan senyum. "Saya percaya kamu, Dit. Tapi, kalau sampai kamu sakitin si Neng, walau sedikit saja, Ayah gak akan pernah segan buat pukul kamu." Itu ancaman serius dari ayah mertua dan Adit cuma bisa menyengir kaku.
"Udah, Yah. Ayo, pulang! Kita gak boleh lebih lama ganggu pasangan muda. Mereka harus punya banyak waktu buat reproduksi cucu kita," goda Vanda yang berakhir cekikikan sendiri.
Eh, Ikram malah ikut-ikutan menahan tawa. "Iya, Ma. Ayah lupa, dulu juga kita perlu hal itu buat itu," balasnya lalu mencium kening Vanda yang tertutup hijab hitam tanpa malu sedikit pun.
Mereka kemudian berjalan pergi dengan Ikram merangkul mesra istrinya. Caca dan Adit mengantar sampai pintu depan, kemudian mencium tangan keduanya bergantian sebelum mereka benar-benar pergi dengan SUV hitam yang dikendarai Ikram.
Caca memandangi kepergian kedua orang tuanya. Setelah 25 tahun hidup bersama, dibesarkan dengan penuh cinta oleh mereka, sekarang dia benar-benar berpisah rumah dari kedua orang yang amat dicintainya. Sekarang dia sudah dalam tahap mengambil langkah pertama untuk membuat keluarga sendiri.
Caca mengangguk pelan, lalu tiba-tiba mengerutkan keningnya cukup lama, sambil terus berjalan mengikuti Adit. "Mau langsung tidur, A?" tanyanya begitu melihat Adit naik ke lantai dua. Tangannya refleks mengelus perut yang terasa sakit. Pasti mau haid, nih.