
"Aku tak menyangka, secepat itu kita bisa serumah dan menyandang status suami-istri."
***
INI MALAM PERTAMA dan Caca rasanya masuk ke sarang harimau begitu menginjakkan kaki di kamarnya. Padahal ini ruangan yang menjadi "habitatnya" selama belasan tahun ini. Namun, sekarang terasa asing karena banyaknya dekorasi yang menutupi setiap sudut, ditambahi beragam aroma wewangian, dan kasur yang dihias berlebih-menurutnya.
Terlebih kalau ingat akan ada penghuni tambahan di sini. Berbagi kasur dengan seorang pria ....? Tubuhnya refleks bergidik dengan bulu-bulu berdiri serempak. Dia memukul-mukul kepala, berusaha mengenyahkan pikirannya yang mulai ke mana-mana.
"Kebanyakan temenan sama Vera tuh gini jadinya!" Dia mengomel dalam bisikan.
Di ruang tamu, Vera yang sedang asyik gibah dengan Vanda mendadak bersin, membuat sebutir kacang asin melompat keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba pintu terdengar dibuka oleh seseorang. Adit muncul, masih dengan setelan acaranya karena baru selesai ngobrol dengan banyak tamu. Dia belum sempat berganti pakaian apalagi mandi.
"Eh, hai!" sapa pria itu, kaku.
"Hai juga." Caca lebih kaku dan kelihatan canggung. Dia berdeham dengan mata tak berhenti bergerak untuk mencari pelarian lain.
"Mandi belum?" Adit berjalan pelan kemudian duduk di salah satu sudut kasur yang sudah ditaburi bunga-bunga. Khas kamar pengantin banget.
"Belum," jawab Caca. Dia memilih duduk di meja rias dan mulai mencopot satu per satu pernak-pernik yang menempeli tubuhnya. Untuk mengikuti acara malam tadi, dia masih dirias meski tak seheboh siang tadi. Tiba-tiba dia merasakan hawa kehadiran yang mendekat. Saat mendongak, rupanya Adit sudah berdiri di belakangnya.
"Mau dibantu?" tawar pria itu.
Dari dekat begini, ternyata tubuh Adit menjulang tinggi. Bahkan, saat pria itu merundukkan tubuh, Caca masih perlu usaha untuk mendongakkan kepala dan berhasil menatap wajah suaminya. Suami? Ah, astaga!
"Kenapa?" tanya Adit begitu melihat reaksi aneh Caca. Wanita itu kelihatan salah tingkah sekaligus canggung.
Caca merasakan pipinya memanas begitu saja. "Kak-eh, maksudnya A ... Aa mandi duluan aja," kata wanita itu. Dia sempat ragu, bingung harus mengganti panggilan apa kepada suaminya, mengingat sapaan 'kakak' terlalu asing untuk pasangan halal. Sayang? Ish, tidak, tidak! Lidahnya bisa geli maksimal kalau sampai memakai panggilan itu.
"Hmmm, yakin gak mau dibantu?" Suara Adit melembut. Membuat Caca termenung sesaat. Kenapa pria itu tampak kecewa?
"Bukan gitu maksudnya. Aa kan capek pastinya, habis nerima banyak tamu. Jadi, Aa mandi duluan aja. Soalnya kan pria itu mandinya cepet. Lah, aku malah masih sibuk copotin perintilan ini," jelas Caca dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Duar, Nikah! [END]
Romance#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024 "Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?" Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
![Duar, Nikah! [END]](https://img.wattpad.com/cover/361732381-64-k505502.jpg)