#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan menyangkal kata cinta kalau jantungmu berdebar setiap kali berada di dekatnya."
***
ADIT BERDEHAM CANGGUNG begitu menemukan wajah Caca di antara orang-orang yang sudah duduk manis di meja makan. Jantungnya tak bisa bohong, berdetak cepat dan menghantarkan sensasi aneh ke sekujur tubuh, memberi pertanda bahwa mulai ada yang lain di hatinya.
Namun, ternyata tak hanya dirinya saja yang bereaksi begitu. Caca pun refleks membuang pandangan, padahal tengah asyik mengobrol—lebih tepatnya diajak ngobrol—sama Vera. Dia tak kuasa menyembunyikan perasaannya atau sekadar membuat ekspresi muka tembok di hadapan suaminya.
Ya gimana, bangun tidur tadi mereka sudah dalam posisi pelukan, rapat banget lagi. Mengingat itu, muka Caca dan Adit panas begitu saja.
"Kenapa kamu, hah?" Vera jadi sebal sendiri karena gibahannya tentang Aa Jong-suk tak digubris lagi oleh Caca, padahal sahabatnya itu tadi cukup ekspresif.
"Gak," jawab Caca lalu berdeham lagi.
Begitu merotasikan tatapan karena menyadari kehadiran satu orang lagi di antara keramaian meja makan, Vera langsung mengangguk-angguk dengan senyum miring merekah di wajah tanpa makeup-nya. "Kalian habis bercocok tanam berapa ronde?" celetuknya.
Ikram yang tengah menyeruput teh melatinya langsung terbatuk-batuk. Lalu, tawa menyembur dari Fahmi yang sedang mengajak putri kecilnya berbicara, membuat bayi satu tahun itu menangis kencang dan dia berujung ditegur istrinya.
Wajah Adit dan Caca merah padam. Caca langsung menghadiahi Vera dengan pukulan kencang di pundaknya, sementara Adit membeku sepersekian detik sebelum menarik kursi kosong yang masih tersisa dan duduk di sana.
"Frontal banget kamu, Ver," kata Fahmi. Dia menyerahkan putri kecilnya pada sang istri yang langsung beranjak untuk menenangkan si kecil. "Eh, tapi aku penasaran juga lho sama kalian."
Mendapat tatapan penuh selidik dari kedua orang itu, Caca menciut di tempat duduknya. Apalagi saat menemukan wajah—yang entah kenapa malah terlihat penasaran juga—Adit yang duduk tepat di sampingnya. Ikram sendiri hanya geleng-geleng dan lanjut sok sibuk baca koran harian terbaru.
"Gak ada!" Caca menjawab tegas dan jujur.
"Masa?" Fahmi dan Vera kompak menyahut.
Fahmi mencondongkan tubuhnya lalu berbisik, "Aa dulu main sampe ...," dia celingukan mencari istrinya, "sampe nyaris subuh."
Vera meringis, Caca pasang tampang horor, dan Adit yang tak sengaja mendengarnya hanya bersikap pura-pura tuli.
"Tenaga pengantin baru emang gak main-main ya, A?" tanya Vera sok polos.
Caca nyengir keki. Bisa jadi pasien psikiater dia kalau lama-lama duduk di antara kedua orang ini.
Fahmi mengangguk, menahan tawa. Dia kembali beralih pada satu-satunya adiknya itu. "Jadi, Dek, gimana Adit di ranjang?" Pertanyaannya terlontar dalam bisikan, tetapi jelas sekali Adit bisa mendengar karena posisi mereka tak terlalu berjauhan.