BAB 17 - Bukti

2.9K 127 7
                                        

"Selalu ada celah untuk selingkuh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Selalu ada celah untuk selingkuh. Selalu ada cara untuk berpaling."

***

SEPERTINYA INI BADAI pertama pernikahan mereka. Setidaknya sejak malam mereka nonton bareng, Caca seperti menunjukkan tanda-tanda mengibarkan bendera perang. Adit otomatis langsung intrsopeksi diri dan merenung lama, mencari-cari kesalahan yang siapa tahu telah diperbuatnya. Hasilnya, tak ada kesalahan yang dia sadari, atau—anggapannya—dia memang tak membuat kesalahan.

Caca berubah begitu saja. Kemarin saat mengantar kepergiannya, wanita itu tak pasang senyum sedikit pun. Belum lagi malamnya mereka tidur terpisah karena Adit tidur duluan lalu Caca janji akan menyusul, tetapi ternyata wanita itu tidur di sofa ruang keluarga.

"Sam." Adit menyesap rokok dan mengembuskan asapnya dengan tatapan kosong.

"Hm?" jawab Sam sambil fokus pada kameranya.

"Cara nanganin cewek PMS gimana?"

Sam setengah membanting kepalanya ke kiri, agak kaget dengan pertanyaan itu. "Binimu PMS?" tanyanya dan Adit mengangguk. "Wah, gak dapat jatah, dong?"

"Sam, kau ke bengkel gih atau ke steam buat nyuci otakmu yang seuprit itu biar isinya gak kotor terus," titah Adit yang kembali menyesap rokok.

"Dih." Sam mencebik cuek.

"Gak bener nih anak. Kenapa sih yang ada di otakmu tentang pernikahan tuh selangkangan mulu?" omel Adit.

"Lah," Sam balik tak paham, "kan nikah itu—"

"Ibadah seumur hidup!" sela Adit yang tak ingin mendengar mulut kotor sahabatnya lagi.

Saat ini mereka tengah duduk berdua di atas Jeep Sam, menikmati hamparan kebun teh Ciwidey yang dipangkas rapi dan tampak luas. Langit sore Ciwidey kali ini tampak cantik dan memukau. Cuaca cerah, langit bersih, dengan hamparan kebun teh hijau di bawahnya memang pemandangan yang sangat memanjakan mata.

"Atau dia badmood ya gara-gara denger aku mau berlayar lagi?" Adit berupaya keras menerka-nerka sambil menikmati rokok yang sisa setengah batang lagi.

"Lah, kamu mau berlayar lagi? Yakin? Di umur pernikahanmu yang belum seminggu itu?" cecar Sam. Kali ini dia sudah meninggalkan kamera yang tergantung di lehernya, fokus sepenuhnya pada Adit. "Padahal kalian masih panas-panasnya, lho."

"Panas-panas, gak ya! Emangnya dispenser?" balas Adit galak.

"Halah, sok gengsi, tahunya binimu diembat juga tiap malem!" cibir Sam.

Adit menonjok pelan perutnya. "Mulutmu, Sam, kek udah dipake cipokan sama setan." Tawa sahabatnya meledak. "Kemarin Surya emang nawarin job, cuma ya itu opsi kesekian dulu lah untuk sekarang. Sekarang gak mau berlayar dulu, makanya aku nyari kerjaan lain yang bisa pulang-pergi tiap hari. Aku sekarang udah punya rumah—"

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang