#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cinta hadir karena terbiasa. Jadi, dinikmati saja setiap proses mendebarkan itu."
***
KARENA LELAH DENGAN setumpuk aktivitas dadakan, ditambah sebelumnya baru selesai berlayar, tubuh Adit sepertinya sudah overload. Semalam setelah mengantar kepulangan mertuanya, kepalanya mendadak berdenyut nyeri, tubuhnya pun seperti kehabisan tenaga dengan sensasi panas dingin yang membuat tak nyaman.
Sebenarnya, Adit tipe yang jarang dan tidak mudah sakit. Namun, sekalinya sakit, obatnya yang paling manjur adalah kehangatan sang mama. Sayangnya, sekarang dia sudah menikah dan terpisah dari Danita Zianandra. Lagi pula, mana mungkin dia sengaja pulang ke rumah ibunya hanya untuk merengek-rengek minta dimanja biar sakitnya cepat sembuh. Apa tanggapan istrinya nanti? Wanita itu kan belum tahu sisi kekanakannya.
Lalu, sekarang seisi kepala Adit mendadak kosong begitu menemukan posisinya saat bangun tidur.
Ada Caca di dekatnya, teramat dekat malah. Tangan kanan wanita itu memeluk tubuhnya yang bersandar nyaman ke dada Caca, sementara istrinya bersandar lelah ke kepala ranjang. Tangan kirinya jadi bantal dadakan Adit, dan ... dia memeluk pinggang wanita itu dengan erat.
Lalu, yang jadi masalah utamanya adalah ... dia bertelanjang dada.
Astagfirullah, apa yang udah kulakuin? batin Adit panas dingin. Mukanya sudah pucat pasi. Kepalanya kembali berdenyut dan sesuatu jatuh dari jidatnya. Kompresan. Apa semalaman wanita itu sudah merawatnya?
Gini banget punya kebiasaan aneh pas lagi sakit. Pria itu memijit-mijit keningnya. Ada banyak kebiasaan aneh ketika dia sakit. Selain harus selalu menempel pada sang mama, dia juga suka lepas baju meski sedang demam dengan alasan karena gerah.
Adit merotasikan pandangan, menemukan baskon putih kecil di nakas lalu sebuah kemasan pembalut wanita yang sudah dibuka di sisinya. Jempolnya memijit kening, berupaya mengenyahkan rasa pusing yang terus berdenyut. Dia terbatuk sekali dan langsung mengalihkan pandangan pada wajah istrinya yang tetap tenang. Caca tak terganggu sedikit pun. Sepertinya dia sangat kelelahan.
Jam menunjukkan pukul 04.40. Sudah lewat waktu Subuh. Adit memaksakan tubuhnya untuk bangkit dari kasur, tanpa mengganggu Caca sedikit pun. Namun, sebelum pergi ke kamar mandi, dia lebih dulu membetulkan posisi tidur Caca dengan hati-hati.
Selamat tidur, Cahaya-ku, batinnya sambil mengusa-usap lembut kepala Caca. Namun, lagi-lagi wanita itu tak memberi reaksi, terlalu lelap dalam tidurnya.
Tadinya Adit berencana akan menyiapkan sarapan sehabis melaksanakan salat Subuh, tetapi kepala yang terus berdenyut sudah cukup menjadi tanda bahwa tubuhnya butuh istirahat sedikit lagi. Jadi, Adit kembali naik ke kasur, bergabung dengan Caca yang masih tidur. Mungkin dia perlu tidur dua atau tiga jam lagi untuk memulihkan tenaga. Tubuhnya sedikit segar setelah mandi dan keramas tadi, tetapi sekarang malah kedinginan.