#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Katanya, Adit mau berhenti merokok. Namun, lihatlah sekarang, baru pukul sepuluh pagi, pria 28 tahun itu sudah menghabiskan sebungkuk rokok.
Benar-benar.
Ucapan pria yang paling tidak bisa dipercaya lainnya—selain janji-janji manis—adalah kalimat 'aku ingin berhenti merokok'.
"Hah ...."
Sekarang Aditya Pratama tengah duduk termenung di balik kemudi. Padahal, mobilnya sudah terparkir rapi di depan supermarket sejak sepuluh menit lalu. Namun, dia belum mau turun sepertinya. Membuat wanita cantik ber-dress baby blue di sampingnya ikut-ikutan menahan diri di dalam mobil.
Jari pria itu mengetuk-ngetuk setir dengan tempo cepat, sementara matanya sesekali berlari ke depan supermarket, kadang pula melirik wanita cantik dengan perut agak membuncit di sampingnya.
Cahaya Januari mengernyit bingung. Ada apa dengan suamiku ini?
"Kenapa, sayangku?" Pertanyaan akhirnya telontar keluar dari bibir mungilnya yang dipoles lipstik nude.
"Hah ...." Adit menghela napas dalam lagi. "Sayang, siniin tangannya." Dia menyodorkan tangan kiri ke arah istrinya.
Caca menurut, memberikan tangan kanannya dengan kening masih mengerut.
Tiba-tiba, Adit meletakkan sebungkus rokok yang masih disegel serta korek api. "Tolong bantu aku buat berhenti merokok. Soalnya ... aku gak mau merokok nanti di depan si kecil." Tatapannya jatuh ke perut Caca. Lantas, tangannya beralih mengelus lembut perut istrinya.
"Sayang, Papa janji bakal terus belajar buat jadi ayah yang baik buat kamu. Bantu semangatin Papa, ya!"
Caca menahan senyumnya yang terus melebar. Sikap manis Adit makin hari kian tak aman buat jantungnya. Apalagi semenjak kehadiran calon buah hati pertama mereka dalam kandungannya—sekarang memasuki bulan kelima.
"Jadi, sekarang gak jadi ke supermarketnya?" tanya Caca, memecah suasana lantaran jantungnya mulai bertalu-talu.
"Jadi. Tapi ... mungkin mau beli permen," jawab Adit, terdengar ragu.
Caca menatap lama suaminya. Berhenti dari kebiasaan yang seperti sudah mendarah daging pasti sulit buat pria itu.
Keduanya berakhir pergi ke supermarket. Namun, diam-diam selama perjalanan mereka, Caca memikirkan solusi alias bantuan untuk suaminya.
***
Sehari berikutnya, Adit sudah seperti mayat hidup. Tanpa rokok benar-benar menyiksanya. Mulutnya terasa kering, masam, dan pahit, apalagi setelah makan. Tak ada pula agenda nongkrong bengong di malam hari sambil menikmati sebatang rokok dan kopi hitam ala bapak-bapak kompleks.
"Ayang gak lapar?"
Sentuhan lembut di kepalanya refleks membangunkan Adit dari tidur siangnya yang dipaksakan. Sebagai pengalih perhatian, sekarang dia menambah jam tidurnya saat senggang.