SP - Flashback (1)

4.1K 157 2
                                        

Nikah mendadak itu tidak ada dalam kamus hidup seorang Cahaya Januari.

Nikah mendadak juga bukan alternatif keputusan yang bisa diambil.

Nikah mendadak tentu adalah babak baru yang membuat hidup seperti jungkir balik dalam waktu singkat.

Caca mengira hidupnya sedang dipermainkan takdir. Dari mulai nembak Zeze yang berujung dapat balasan surat undangan, hadirin pernikahan sahabat sendiri yang menguras hati, lalu dilelang teman-temannya di panggung bak barang diskon.

Kemunculan Aditya Pratama untuk pertama kalinya di depannya, yang tak lain di panggung pelaminan Zeze, merupakan kejutan tak terkira. Dari pertemuan dan obrolan singkat itu, Caca mulai mengalami malam-malam insomnia yang menyiksa.

Rasa takut, ragu, bimbang, penasaran, pasrah, silih berganti menggoyahkan keputusannya. Dia mengira, Adit hanya bercanda akan melamarnya, tetapi diam-diam berharap pria itu benar-benar melakukannya.

Harapan memang induk dari patah hati tak berkesudahan.

"Bengong ae ni calon manten!"

Vera nongol tiba-tiba, membuat Caca merasa jantungnya terjun bebas sepersekian detik.

"Masuk tuh salam dulu ngapa!" sembur Caca. Dia beralih merebut stoples berisi kue kering akar kelapa yang akan diambil Vera, lalu memberikan tatapan galak.

"Udah. Kamunya aja yang bengong." Vera duduk di samping Caca. Dalam sekejap, ekspresi wajahnya berubah dipenuhi keusilan. "Pasti lagi mikirin gaya malam pertama yang cocok sama Adit, yaaa? Ck, tenang, kalo dapat suami tinggi besar itu bisa coba banyak gay—"

"Ngok!" Caca mencomot mulut Vera dengan tangannya yang penuh remah dan minyak dari kue kering akar kelapa.

Vera ngomel badmood, tetapi tak berhenti gitu saja.

"Hari ini aku mau urus-urus berkas nikahan ke KUA, sih. Tapi, Adit belum sampe juga," kata Caca, bercerita tanpa diminta.

Ya daripada dengerin Vera ngobrol ngalor-ngidul yang ujungnya bahas urusan rumah tangga versi 1821.

"Paling nyangkut di rumah janda," celetuk Vera tanpa mikir.

Caca berdecih, tak heran dengan kelakuan sohibnya. "Kemarin malah lembur urusin perintilan nikahan. Adit sih yang paling sibuk ke sana-sini, padahal harusnya dipingit." Dia mencapit sebutir kue nastar dari stoples lainnya yang mengisi meja.

"Asalamualaikum!"

Sebuah suara yang familier itu menghentikan obrolan keduanya.

Caca dan Vera menoleh, kompak menjawab, "Waalaikumsalam."

Adit tampak celingukan, agak melongo lama ke arah ruangan yang lebih ramai, tempat para tetangga berkumpul dan sibuk memasak beragam olahan.

Kemudian, tatapannya tertuju pada seorang wanita berambut pendek yang hari ini memakai baju atasan pendek belang-belang dan celana gombreng selutut warna hitam.

"Tunggu ya, aku mau ganti baju dulu," pamit Caca diikuti Vera. Keduanya segera ngibrit ke kamar.

Sepeninggal keduanya, Adit duduk di sofa dan memejamkan mata. Tadi di depan dia sudah bertemu calon mertuanya yang tampak sibuk. Jadi, sekarang dia memiliki sedikit waktu untuk mengistirahatkan badan.

Ternyata mempersiapkan acara nikahan itu tak semudah kelihatannya. Selain itu, ada saja ujian yang datang, entah dari masalah persiapan, personal, sampai gangguan dari luar.

Sampai saat ini, Adit masih merasa seperti mimpi atas keputusan yang diambilnya.

Melamar kenalan mantan sendiri, di pelaminan mantan, di hari dirinya melepaskan wanita yang selama bertahun-tahun dijaga dengan sepenuh hati. Wajar bila orang mengira dia bercanda, atau menjadikan Caca pelampiasan semata. Namun, tak ada sedikit pun pikiran itu di kepalanya.

Saat melihat Caca, dia hanya merasa mereka senasib dan berpikir untuk coba saling mengobati.

"Eh, dia tidur?" Caca terdengar berbisik.

"Bangunin aja." Vera ikutan berbisik meski suaranya lebih keras.

"Kasihan tapi, dia kayaknya kecapean banget."

Adit mendengar itu dengan jelas meski kedua matanya terasa berat untuk dibuka. Dia ketiduran, tetapi kesadarannya tidak lengkap sepenuhnya.

"Maaf," sela Adit. Mulutnya terasa pahit dan kering.

Pria yang hari ini memakai sweter hitam itu mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian mengusap wajah.

"Udah siap?" tanyanya sambil menyipitkan mata melihat Caca.

Sekarang wanita itu tampil lebih fashionable. Dia mengenakan rok kain cokelat muda panjang yang dipadukan dengan baju rajut abu-abu dan outer cokelat. Untuk rambutnya yang pendek itu dibiarkan tergerai. Sebagai pelengkap, dia membawa tas mini kecil karakter Chopper dari One Piece.

"Cantik," sanjung Adit. Dia berdiri, tetapi mendadak semua yang dilihatnya berputar hebat, belum lagi tubuhnya terasa tak bertenaga sedikit pun.

"Eh, A?" Caca refleks menahan tubuh tingginya.

Adit berusaha mempertahankan keseimbangan. Dia pusing, mungkin efek banyak kerjaan sampai kurang tidur dan lupa makan. Namun, sekarang bukan saatnya dia mengeluhkan itu. Lagi pula, sakit segini bukan apa-apa baginya.

"Maaf-maaf," ulangnya penuh sesal. Sekarang dia sudah bisa kembali berdiri sempurna.

"Tapi Aa gak apa-apa? Mukanya pucat gitu. Kita gak usah jadi pergi aja deh, nyuruh yang lain aja, kan bisa diwakilin," cerocos Caca, berubah jadi emak-emak sigap.

Adit menggeleng. "Yang lain kan udah sibuk, lagian aku masih kuat, kok."

Melihat kesungguhan di sepasang mata beriris hitam legam itu, membuat Caca akhirnya mengangguk.

Vera yang sejak tadi cosplay jadi manekin berdeham pelan, membuat Caca akhirnya menyadari keberadaannya. Padahal tadi dia menyaksikan adegan romantis, tetapi gagal mengeluarkan kalimat godaan gara-gara situasinya tidak pas.

Caca dan Adit akhirnya pergi, sementara Vera ngacir ke dapur untuk melanjutkan aksi penjarahannya.

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang