#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Proses pendekatan itu dilakukan secara perlahan. Jangan terburu-buru, nanti hasilnya tak sesuai keinginanmu."
***
"MA–MAAF," KATA PRIA itu pelan. Dia berdeham dengan kaku dan segera menjauhkan diri. Caca pun mengikutinya. Jadi sekarang mereka duduk di ujung sama ujung kasur. Bahkan, Caca bisa saja terjengkang kalau sedikit lagi dia bergeser ke kiri.
Tanpa kata, keduanya memberi jeda untuk masing-masing menenangkan diri. Adit meraih ponsel, entah berbuat apa karena pria itu tampak fokus—entah pura-pura fokus. Caca pun kabur ke kursi gaming yang masih dekat dari kasur, tetapi spot itu cukup baik untuk mengamankan diri. Tanpa sadar, dia mengambil ponsel dan membuka gim Mobile Legends: Bang Bang. Sialnya, dia lupa mengecilkan volume ponsel sehingga intro gim itu meledak di keheningan kamar.
"Eh, main game, tah?"
Tahu-tahu Adit sudah berdiri di belakang kursi gaming Caca dan melongok penasaran. Caca nyaris jantungan, dia segera berdeham dan mengangguk.
"Gak apa-apa, tah?" tanya wanita itu takut-takut.
"Ya gak apa-apa, emangnya kenapa?" balas Adit santai. Dia celingukan, hendak mencari tempat untuk duduk karena ingin melihat Caca main gim.
"Oh, oke." Caca angguk-angguk canggung. Tanggung sudah log in gim, ya sudah dia lanjut solo rank saja. "Mau lihat?" tawarnya pada Adit yang baru saja menarik kursi kecil dari depan meja rias.
Pria itu mengangguk. "Huum. Tier kamu udah Immortal aja, aku mah sejak main masih di Epic," adu pria itu. Sekarang dia sudah merapat ke kursi Caca, fokus menyimak.
"Emang main sejak kapan?"
"Sejak ...." Adit menahan jawabannya karena tidak mungkin dia jujur bahwa dirinya main gim sejak putus dari Deby. Ya, gim memang pelarian terbaik untuk jiwa-jiwa yang patah hati. "Season ini, deh," sambungnya.
"Pantes." Caca memasang senyum simpul dan Adit terpukau saat tak sengaja menangkap pemandangan singkat itu. Senyum Caca manis. Dia khawatir dirinya bisa punya penyakit diabetes kalau setiap hari disuguhi senyuman manis istrinya.
Gim pun dimulai, tak ada obrolan lagi. Adit hanya sesekali menceletuk yang dijawab singkat pula oleh Caca. Caca memang gamers sejati, skill bermainnya membuat Adit kagum. Kurang lebih skill wanita itu setara dengan Sam dan teman-teman party-annya yang mengajarinya cara bermain gim ini.
Tubuh yang lelah tak bisa bohong. Di gim ketiga, Adit mulai tak bisa menahan kedua matanya untuk tetap terjaga. Mulutnya juga terus menguap dan tangannya terasa pegal untuk menopang tubuh. Dia butuh kasur untuk rebahan.
"Ngantuk?" Suara Caca membuat kedua mata Adit kembali terjaga.
"Gak, kok." Pria itu menggeleng. Dia baru saja dapat momen manis untuk melakukan pendekatan, masa mengalah sama rasa kantuk?