SP - Modus Papa Debay

2.4K 151 21
                                        

"KANGEN DEBAY

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"KANGEN DEBAY."

Cahaya Januari menghela napas lelah begitu sang "bayi besar" tiba-tiba menempeli perutnya yang terbalut daster motif bunga sakura.

"Minggir ih, lagi makan seblak juga!" usir Caca yang risi diganggu saat makan.

Namun, bukannya menurut, Aditya Pratama malah merengut sambil mengencangkan pelukannya. Mau bagaimana lagi, sekarang wanita ini istrinya, miliknya sepenuhnya, jadi sah-sah saja mau dia berbuat apa juga.

"Pengin disapa debay dulu," rengek Adit yang sudah pura-pura tidur di perut buncit istrinya.

Andai saat ini Caca tidak pakai daster, mungkin sudah dia suruh wanita itu menyibakkan bajunya agar pipinya bisa menempel langsung dan merasakan pergerakan calon buah hati mereka di dalam sana.

Kehamilan Caca sudah memasuki bulan kelima, jelas sudah mulai ada gerak dari calon debay yang selalu membuat mereka terkejut bahagia.

"Gak ada. Lagi tidur dia." Caca bicara dengan mulut penuh mengunyah ceker.

"Eh, emang gitu?" Adit mengangkat kepala. "Emang bayi bisa tidur?"

Caca menghela napas. "Aa pikir bayi kita tuh batu? Nggak makan nggak tidur?" jawabnya galak.

Adit merengut lagi, lantas kembali menempelkan pipi dan mengusap-usapkannya ke perut Caca. "Adek, Papa dimarahin Mama," katanya dengan suara diimut-imutkan.

Caca hampir muntah.

"Mama galak, ya? Mama gak sayang Papa? Apa? Kamu bilang, kalau Mama sayang Papa, Mama harus cium Papa empat kali?" Sekarang pria itu bicara sendirian.

Ada-ada saja tingkahnya.

"Gak usah modus!" peringat Caca dengan memelotot galak.

Bibir Adit langsung melengkung ke bawah, lantas dia mengangkat tubuhnya dan terus mendekat sampai hidung mereka nyaris bersentuhan.

Otomatis Caca menahan napasnya. Bahkan setelah berbulan-bulan mereka sah menjadi pasangan suami-istri, jantungnya masih selalu bereaksi berlebihan saat momen-momen tertentu.

Caca jelas paham arti tatapan suaminya, tetapi sekarang entah kenapa dia teramat gugup. Apalagi saat pria itu terus diam, memaku tatap padanya, mengunci tubuh mereka sehingga sama-sama membeku.

Lalu, dalam satu gerakan cepat, tangan kanan Caca memasukkan sisa ceker ayam ke mulut suaminya—yang langsung dilahap pria itu dengan kaget.

"Pedes ih," keluh Adit yang berakhir mengulum ceker ayam dengan hati dongkol.

Modusnya di sore yang cerah ini gagal total.

"Lagian ganggu aja kerjaannya. Orang lagi makan, malah modus-modus. Debay dijadiin alibi, dasar buaya cap ceker ayam!" omel Caca yang mencerocos—bagi Adit—gemas sambil lanjut menghabiskan sisa seblak di mangkuk.

Sehabis posyandu tadi, Caca kepengin makan seblak ceker. Untunglah ada warung seblak di dekat rumahnya dan Adit langsung meluncur ke lokasi. Namun, karena sayang pada calon bayi mereka, Caca terpaksa menurunkan kadar pedas pada seblak pesanannya.

"Enak, Ay, mau lagi."

"GAK!" Caca memelotot galak sambil dengan sigap mengangkat mangkuknya, menjauhkan dari Adit.

"Bukan seblaknya, tapi suapan Ayang-nya," ralat Adit yang kemudian tersenyum lebar. Ada sisa cabai yang menyempil di giginya.

"Modus terosss! Emang gini ya, punya suami spek buaya darat."

Caca beranjak berdiri begitu selesai menghabiskan seblak, kemudian beranjak ke wastafel untuk menyimpan bekas makan. Namun, Adit dengan gesit merebut peralatan makan itu dan membawanya ke wastafel.

"Bumil gak boleh banyak capek, nanti debaynya ikut capek." Pria itu bicara sambil mencuci mangkuk. Selesai dari sana, dia beralih mengekori Caca yang berjalan untuk kembali ke sofa.

Dengan iseng, Adit mengikuti gaya berjalan Caca yang agak mengangkang. Pria itu hanya tertawa saat mendapat pelototan dari sang istri.

"Sini tangan Ayang," pinta Adit begitu Caca akan membersihkan tangannya yang masih basah dengan tisu.

Caca menurut. Adit langsung mengambil beberapa lembar tisu dan dengan lembut mengusap-usap tangan Caca.

"Eh, kalau Debay nanti lahir, masa aku manggil kamu Ayang terus, ya?" celetuk pria itu tanpa mengangkat pandangan. "Mimi-Pipi gimana?"

"Mimi Peri kali!" semprot Caca yang tak menyukai saran panggilan alay itu.

"Ayah-Bunda?"

"Kayak anak SD yang pacaran alay di Facebook-Facebook itu."

"Hmm, Papa-Mama? Tapi terlalu biasa." Adit tampak berpikir.

"Ya udah kalau gak mau yang biasa, sebutannya Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu aja," saran Caca, bercanda.

Namun, Adit malah mengangguk. "Boleh, tuh. Terus habis itu kita berkembang biak sampai punya penduduk sekerajaan."

"Berkembang biak, emangnya aku ikan lele, hah?" Lama-lama Caca sebal juga pada suaminya ini.

Adit cengengesan. "Kan, kalau pria udah sayang sama satu wanita, dia suka lupa rem, Ay." Kedua alisnya bergerak-gerak.

Mulai!






***
WKWK
Adit ke kebiasaan. Suka modus alay wkwkwkwk

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang