#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"PAKEEET! Ket paket paket, keeeet! Paket buat Bu ...."
Pintu berderit terbuka. Muncul wanita berdaster dengan perutnya yang makin menonjol. Maklum, sudah memasuki bulan ketujuh.
"Mana, Pak?" tanya Caca dingin.
Wajah kurir ini jadi tak asing lagi karena mereka sudah sering bertemu seminggu belakangan.
Pria berkumis tipis itu menyengir kaku, lantas berbalik untuk mendorong sebuah kotak paket besar yang dilakban dengan rapi.
"Ini, Neng," katanya sambil masih nyengir.
Caca melirik kotak paket itu. Tampak berat, entah apa isinya. Padahal bukan dia yang memesan, tetapi sudah jelas sekali siapa pelaku penumpuk paket ini.
"Bisa tolong dibawa ke dalam enggak, Pak?"
"Boleh, boleh."
Akhirnya paket berhasil diamankan di ruang tengah, bergabung dengan beberapa kotak paket beragam bentuk lainnya yang belum sempat dibuka. Pak Kurir langsung pamit usai memastikan pengantaran paket selesai.
Ponsel Caca yang ada di atas meja terdengar berdering kencang. Panggilan masuk dari Adit.
"Halo, sayangku, istriku, cantikku—"
"Salam dulu," potong Caca begitu mendengar cerocosan suaminya.
"Ciumnya. Kangen aku tuh, pengin dicium Ayang," jawab Adit dengan suara merajuk.
Caca menghela napas, ingat agenda mereka tadi pagi sebelum dia melepas Adit untuk kerja. "Gak! Gak mood."
"Oh, okeee. Maaf, maaf, Sayang. Kangenku gak bisa direm." Adit terdengar menyesal, padahal Caca cuma bercanda bilang sedang tidak mood. Dia hanya malas meladeni kealayan Adit yang dikit-dikit suka modus.
"Ay, tebak deh, aku sekarang di mana?" tanya Adit, berupaya mencairkan suasana.
"Pasti kalau gak ke mal, ya ke toko perlengkapan bayi," tebak Caca yang benar seratus persen.
Adit tersenyum lebar. Kemudian, jarinya mengetuk ikon pengubah panggilan telepon WhastApp ke video call. Caca buru-buru mengangkatnya dan langsung menemukan Adit yang tengah berdiri dengan latar belakang rak baju bayi cowok.
Sejak Caca hamil, Adit jadi doyan ke mal dan pasti pulang dengan tangan heboh bawa tas kanvas berisi pakaian atau peralatan bayi.
"Ayaaang! Bingung mau milih, bagus semua bajunya," cerocos Adit dengan muka semringah.
Tanpa berkata apa-apa, Caca berjalan menaiki anak tangga, menuju sebuah ruangan yang belakangan dijadikan gudang dadakan dari semua paket pesanan Adit.
Ya, semua paket Adit hampir memenuhi satu ruangan.
Saat dibuka, ruangan itu sekarang seperti kamar bayi. Banyak peralatan dan perlengkapan yang mulai dipasang, dari gantungan, boks bayi, mainan, dua rak yang terisi penuh pakaian bayi, dan lainnya.
"Ini masih gak cukup?" tanya Caca sambil agak memelotot.
"Tapi ini bagus, Ay." Adit menunjukkan sepasang sepatu bayi cowok abu-abu ke kamera.
Caca menghela napas. "Beli banyak buat apa toh kalau gak dipake?" omelnya.
"Tapi kalo nanti dipake, pasti lucu."
"Serah!" pungkas Caca dengan dongkol.
Adit bisa menuruti ucapannya untuk apa saja, asal tidak dengan urusan anak mereka. Pria itu terlalu bucin pada anak menurutnya. Anak belum nongol, sudah heboh beli ini-itu.
"Wih, topinya lucu juga. Bagus deh, Ay, kan Ciwidey dingin. Eh, apa nanti kita pulang dulu ya ke Cimahi atau ke rumah Ayang? Biar Ayang ada yang bantu urus debay. Aa gak mau Ayang kecapean soalnya." Adit masih memilih-milih barang yang akan dibelinya—yang faktanya nyaris semua barang itu diambil dan dimasukkan olehnya ke keranjang belanjaan.
"Enggak," Caca menggeleng, "aku mau mandiri, mau belajar urus bayi dari lahir, biar lebih kerasa jadi ibunya."
"Hmm, ya udah, Aa otw jadi suami sigap yang akan selalu sedia 24 jam buat bantu Ayang."
Senyum Caca melebar. Pria itu berbicara dengan nada penuh keyakinan.
"Tapi, Ay, asyik juga kali ya, kalau nanti kita bikin lagi, jadi barang-barang dari kakaknya masih bisa dipake." Adit tampak bergerak menghampiri rak mainan bayi. "Hmm, mungkin empat atau ... oh, sebelas anak aja kali ya, biar bikin klub sepak bola, terus ...."
Caca langsung menutup telepon dan teriak sekencang-kencangnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🐊🐊🐊
Sesuai janji, ya.
Next 200k views auto bocorin season dua:v
Btw belum bisa nulis panjang karena sedang tumbang. :(