SP - Tersingkirkan

2K 108 18
                                        

Caca hampir melempar centong yang dipegangnya begitu menemukan Adit tengah mengejeknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Caca hampir melempar centong yang dipegangnya begitu menemukan Adit tengah mengejeknya. Pria itu meniru caranya berjalan dengan dilebih-lebihkan. Ya maklum, kandungannya sekarang memasuki delapan bulan, sudah agak susah dan hati-hati kalau berjalan.

"Aa, diem ih!" amuk Caca dengan kedua alis bertaut.

Bukannya menurut, Adit malah tertawa sambil terus mengikuti Caca yang berjalan menuju ruang tengah. Mereka baru saja menyelesaikan agenda memasak untuk makan malam, yang lebih banyak dikerjakan Adit dan Caca cuma duduk manis sambil sesekali bertugas mencicipi.

"Aku ngambek, nih!" ancam Caca, serius.

Adit langsung berjalan normal dan setengah melompat memeluknya. "Jangan dong, Sayang," bujuknya. Tangannya berubah seperti akar yang membelit erat tubuh gemuk Caca. Bahkan, pelukannya tak lepas saat Caca memilih duduk di sofa.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi, disusul sebuah suara familier. Adit dengan terpaksa melepaskan pelukannya, lalu beranjak untuk membukakan pintu.

"Anak Mama," Vina datang-datang langsung memeluk Caca, "kangeeen banget. Kamu apa kabar? Debaynya?"

"Alhamdulillah baik, Ma. Debay juga sehat dan aku juga kangen Mama." Caca tersenyum malu-malu.

"Mama mah datang ganggu waktu romantisan Adit sama Caca doang," sela Adit yang tahu-tahu sudah menempeli mamanya meski wanita itu masih berdiri.

"Haih, udah nikah masih aja manja-manja, gak malu sama istrimu?" Meski mengomel, Vina tetaplah membiarkan Adit memeluknya dari belakang.

Senyum misterius Caca melebar dan Adit bisa menangkapnya. "Ma, A Ditya malah lebih parah kalau sama aku," bebernya sembari menahan tawa.

"Gawat! Mama harus lindungi kamu!" Vina buru-buru beralih pada menantunya dan menjauhkannya dari Adit.

Caca memeletkan lidah, merasa menang dari Adit. Sementara itu, Adit tampak merengut.

Bahaya ini kalau mamanya sampai memisahkan dirinya dari Caca. Bisa-bisa aksi modusnya sebelum tidur tak terlaksana, padahal sebulanan lagi ranjang mereka akan ramai dan dia sudah pasti tak punya kesempatan lagi untuk jadi bayi besar Caca.

Hadeuh.

"Udah yuk, Sayang, Mama mau denger cerita kamu soal perkembangan debay dan perjuanganmu waktu hamil." Vina melirik sinis pada anaknya yang tengah merangkul manja lengan kirinya. Dengan pelan dia melepaskan tangan Adit. "Yang udah bangkotan gak usah ikutan, ya. Ini urusan wanita," sambungnya.

"Ma—"

"Kecuali kamu juga hamil," potong Vina, mematahkan semua kalimat banding yang hendak diucapkan Adit.

Kedua wanita itu kemudian beranjak pergi. Adit tak bisa mengekori karena sudah mendapat pelototan maut dari mamanya.

Hmm, kalau mamanya sudah protektif gini, dijamin nanti malam dia tidur sendiri.

Yap, dugaannya benar.

Begitu malam tiba, selesai Vina menjamu Caca makan malam, Adit langsung jadi patung cor yang tak dianggap ada. Kedua wanita itu asyik mengobrol, tanpa melibatkan dirinya.

"Pa, tolongin. Ke sini lah, Pa, bantuin Adit," rengek Adit pada papanya melalui telepon.

Tidak bisa ini, dia tidak ada teman mengobrol semalaman. Lagi pula, papanya ini ada-ada saja, lebih mementingkan pekerjaan ketimbang kebutuhan anaknya yang haus akan kasih sayang.

"Haih, Dit, Dit. Papa masih di kantor, telepon nanti, apalagi buat denger kamu merajuk-rajuk. Malu sama umur."

Telepon berakhir. Adit manyun, apalagi saat Caca menahan tawa melihat ekspresi jengkelnya.

"Sayanggg ...." Adit melompat dan duduk di samping Caca yang baru saja mendaratkan diri di sofa empuk ruang tengah.

"HUSH! Minggir, minggir!" usir Vina galak.

Adit merengut, merajuk dengan mengeratkan pelukan pada Caca.

Vina datang, memukulnya dengan sendok bersih. "Gak nurut ucapan Mama, hm?"

Melihat pelototan mamanya, Adit akhirnya beranjak dengan dongkol.

Tolong siapa pun itu, termasuk mamanya, jangan pernah memisahkan dirinya dari Caca.

"Maaa, jangan pisahin Adit dari Caca, nanti Adit gak bisa napas," rengek pria itu tanpa melihat mamanya.

"Dih, najis."

Itu suara Dinda, yang ternyata tengah melakukan video call dengan mamanya.

"Alaymu kebangetan, Bang, bikin aku hampir muntah," sambung Dinda.

"Diem, Din, atau uang jatah bulanannmu Aa potong," ancam Adit serius.

"Dih, ambekan. Amit-amit, Teh, Teteh sabar banget punya laki alay, ambekan, dan spek bocil kek A Adit." Dinda beralih bicara pada kakak iparnya.

"Gak apa-apa, Din, hitung-hitungan simulasi sebelum punya anak betulan," balas Caca yang mengundang tawa Dinda.

"Tuh, aku kan bayi besarnya Ayang Caca, jadi—"

"Gak usah kencang-kencang meluknya, tar debay-nya kenapa-kenapa!" tegur Vina.

Duh, mertua yang terlalu sayang anak sampai menganaktirikan anak sendiri. Adit mau baper, tetapi dia lakik, tetapi juga dia butuh pembelaan Caca. Namun, bukannya membela, wanita itu malah tertawa lepas.

Duh, sudah pasti deh, malam ini dia tidur cuma bisa meluk guling.

🐊🐊🐊

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🐊🐊🐊

Update revisian Duar, Nikah!
Saat ini saya sedang gugup dan takut. Masalahnya Duar, Nikah! versi terbaru itu rombak alur nyaris 70%. Saya takut pada gak suka euy dengan versi revisinya. 🥺

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang