Suara batuk pria yang tengah menyetir di sampingnya ternyata cukup mengganggu. Padahal Caca tengah berusaha keras mencari ide untuk menuntaskan tanggung jawab terakhirnya.
Dia dapat klien yang terpaksa diterima karena merupakan teman masa kuliah. Jadi, yah, terpaksa dia curi-curi waktu di sela sibuknya persiapan pernikahan.
"Sakit?" tanya Caca setelah bingung memilah kata.
"Cuma agak pusing aja," jawab Adit di sela batuk-batuknya yang makin parah.
Di luar hujan dan AC menyala. Wajar saja, suhu dingin kan bisa menambah rasa tak nyaman pada orang sakit.
Muka Adit memang tampak makin pucat, ada titik-titik keringat yang menghiasinya. Tatapan pria itu juga tampak sayu.
"Jangan terlalu memaksakan. Coba pinggirin, biar aku yang nyetir."
Adit menoleh setelah mendengar ucapan Caca yang penuh keyakinan itu. Dia sempat ragu, tetapi badannya juga terasa makin parah.
"Bisa, cuma aku emang jarang bawa mobil, males. Enakan naik motor ke mana-mana juga," kata Caca.
Akhirnya Adit menurut. Dia segera mencari tempat pemberhentian di punggung jalan.
"Hati-hati," peringat Caca sambil meletakkan tangan di atas kepala Adit begitu pria itu akan keluar dari mobil. Itu agar kepala Adit tak membentur atap mobil saat akan keluar.
Ini kebalik btw adegan romantisnya. Act of service begini harusnya dilakukan seorang pria.
Adit menyadari hal itu, jadi wajahnya yang sudah panas malah tambah panas karena malu. "Terima kasih."
Bukannya menjawab, Caca malah blushing karena sekarang dia berhadapan langsung dengan Adit. Tubuhnya yang memang mungil, jadi seperti anak itik di hadapan jerapah.
Namun, adegan itu segera buyar karena klakson mobil yang lewat. Caca buru-buru masuk dengan dada berdebar, Adit juga tak membuang waktu untuk segera masuk ke mobil.
"Udara Ciwidey kemarin parah banget, sih." Caca membuka obrolan lebih dulu.
Diam-diaman dengan seorang pria di dalam mobil adalah hal yang amat membuat canggung.
"Iya," Adit batuk, "apalagi take berkali-kali."
"Ya salah siapa ngambek segala," cibir Caca tanpa sadar.
Wanita memang kodratnya suka mengungkit. Tak usah heran.
Mendapat serangan itu, Adit tak bisa menjawab. Dia tersenyum kikuk.
Lima menit berkendara, terdengar azan berkumandang dari ponsel Adit, menyusul juga dari beberapa masjid agung di sekitaran.
"Di depan ada masjid, tolong berhenti di sana dulu," pinta Adit dengan suara lemah.
Pria itu sudah bersandar nyaman sambil memejamkan mata. Sepertinya curi-curi waktu buat istirahat.
"Ah, oke." Caca menjawab kikuk. Dia tak menyangka ternyata Adit orang yang cukup disiplin soal waktu ibadah.
Tiba-tiba Caca terpikirkan sesuatu. Adit kan seorang pelaut, bagaimana pria itu akan salat? Apalagi kalau tengah badai.
"Kalau di laut, salatnya gimana?" celetuk Caca, tak menyadari mulutnya sendiri.
"Hmm?" Adit membuka mata, menoleh dengan kernyitan. "Ya salat aja. Kadang pakai alarm ponsel, lihat tanda-tanda alam, gitu-gitulah."
"Terus kalau badai?" Caca jadi makin tertarik.
"Selagi bisa salat, kenapa harus gak salat? Orang sakit yang cuma bisa mejamin mata aja masih bisa salat, kenapa kita yang sehat justru lalai?" Jawaban Adit cukup menohok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Duar, Nikah! [END]
Romance#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024 "Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?" Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
![Duar, Nikah! [END]](https://img.wattpad.com/cover/361732381-64-k505502.jpg)