SP - Berhenti Merokok

1.4K 64 0
                                        

Caca percaya semua ucapan Adit karena pria itu amat memegang teguh janjinya dan bertanggung jawab terhadap setiap kata yang diucapkannya. Namun, baru kali ini dia dibuat melongo dengan keplinplanan pria itu.

"Ca, bantu aku berhenti merokok."

Adit baru mengatakan itu sepuluh menit lalu, tetapi sekarang dia sudah tampak gelisah dengan terus mendecapkan lidah dan celingak-celinguk ke sana-sini.

"Fokus ke jalan, A," tegur Caca yang tetap fokus ke ponselnya, main gim.

"Ca, rokokku mana?"

Caca menghela napas. Setelah nikah, satu fakta baru yang terungkap terkait Adit adalah, pria itu perokok akut. Semua sahabat prianya memang perokok, tetapi Adit ini sudah versi parah.

"Katanya Aa mau pelan-pelan stop rokok," sindir Caca yang kali ini menatap tepat ke sepasang mata Adit.

Tanpa menjawab, pria itu mengambil tangan kanannya dan menciumnya. Senyum manisnya terbit, tetapi Caca paham bahwa ada maksud di baliknya. "Gak bisa, Ca, mulutku pahit banget ini."

"Katanya mau berhenti ngerokok." Caca berupaya teguh pada pendiriannya untuk membantu pria itu.

"Kali ini aja, ya?" rengek Adit. Dia memasang tampang memelas.

Lampu lalu lintas berubah merah, mobil yang dikendarai Adit pun berhenti di barisan kedua. Jalanan cukup sepi malam ini karena hujan gerimis tengah turun. Caca dan Adit baru saja selesai dari agenda jalan-jalan malam. Ini baru pukul sepuluh malam, belum terlalu malam untuk menikmati waktu di luar.

"Cahaya," panggil Adit dengan suara setengah merengek.

Caca melirik lampu merah, masih lama. Lampu merah Bandung jangan heran kalau bisa membuatmu sampai lumutan.

Wanita itu berpikir cepat, mencari cara bagaimana agar suaminya bisa menepati ucapan dan tekadnya sendiri.

"Pahit banget lho rasanya ini," keluh Adit yang tampak makin gelisah. Saat lampu merah berubah hijau, dia mengemudikan mobil dengan lesu.

Bagi perokok sepertinya, rokok adalah detak jantung meski pada kenyataannya merokok justru merusak jantung.

"Sabar, tahan. Belum juga satu jam." Caca lanjut main ponsel sambil nyemilin Yuppi rasa stroberi.

Hela napas frustrasi Adit terdengar, tetapi Caca terus mengabaikannya. Biarlah, biar pria itu tersiksa demi mewujudkan keinginannya sendiri.

"Caca, udah lebih sejam, nih."

Begitu mobil tiba di halaman depan kediaman mereka, Adit langsung menatap Caca dari kursinya dengan penuh harap. Bahkan, pria itu menggenggam erat kedua tangannya.

Caca nyaris luruh melihat wajah memelas Adit. Namun, sekarang jantungnya tengah berdetak tak karuan dan sedang berupaya ditenangkan. Masalahnya tadi dia tiba-tiba kepikiran sebuah ide yang mungkin berhasil membantu Adit, hanya saja agak berisiko.

Adit kembali menghela napas frustrasi lagi dan bergerak gelisah. Terjadi perang batin dalam dirinya. Bagaimanapun, dia memang berniat untuk berhenti merokok, tetapi sisi lainnya merasa tak sanggup untuk itu.

"Oke, tapi merem." Suara Caca sedikit gemetar.

Tanpa banyak tanya, ajaibnya, Adit langsung menurut. Pria itu kembali menghadap istrinya sambil memejamkan mata. Namun, beberapa detik menunggu, tak terjadi apa-apa. Akhirnya Adit membuka mata, tetapi detik berikutnya, kedua matanya membola.

Caca mendekatkan wajah sambil memejamkan mata, kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibir suaminya.

Adit menahan napas, merasakan jantungnya berdetak belingsatan hanya karena aksi kecil istrinya.

Caca masih memejamkan mata, mencium bibir Adit sambil menahan napas. Adit kembali memejamkan mata, takut ketahuan istrinya. Kemudian, bibirnya terasa kembali kering. Caca sudah menarik diri.

"Tuh, bonus karena udah berhasil nahan gak ngerokok satu jam," kata Caca usai mengumpulkan nyawanya.

"Serius?" Adit menatap lekat wajah istrinya yang merah padam.

Caca mengangguk.

"Jadi, itu bonusku karena tahan gak ngerokok?"

Caca mengangguk lagi.

"Jadi, sekarang kalau aku tiap berhasil nahan rokok, akan dapat bonus ciuman dari kamu, Ca?"

Caca diam.

"Yang artinya, kalau tiap aku mau ngerokok dan biar tahan gak ngerokok, aku harus cium kamu ya, Ca?"

Kedua mata Caca membulat sempurna. Heh, teori dari mana itu? Tidak, tidak! Bisa-bisa dia mati muda karena jantungan.

"Jadi ...." Adit mendekat dan dalam gerakan cepat, kedua tangannya menangkup pipi Caca, dan dengan cepat mencium bibir wanita itu. Ciuman manisnya sengaja dilama-lamakan, apalagi Caca pasrah—karena membeku—dengan aksinya.

"Sekarang aku mau ngerokok, dan ciuman sama kamu obatnya," sambung pria itu usai menyudahi ciuman mereka. Senyum jailnya terbit, membuat kedua matanya agak menyipit.

Sementara itu, Caca masih membeku sambil menahan napas. Stok nyawanya sisa 10%, langsung mode darurat usai melalui adegan romantis dengan suaminya sendiri.

Ya gimana, mereka masih sama-sama malu-malu satu sama lain di usia pernikahan yang baru dua bulan. Saling panggil sayang saja belum.

"Kok diem? Mau ciuman lagi, ya? Oh, kali ini mau yang gaya hot?" Adit berbisik tepat di telinga kanan Caca.

Sontak wanita itu tergemap kaget. Dia mengerjap dan kedua tangannya buru-buru membuka pintu mobil. Kemudian usai terbuka, Caca buru-buru turun dan ngibrit ke pintu rumah.

Di dalam mobil, Adit tak bisa menahan tawanya melihat istrinya salting brutal.

"I love you, Cahaya. Aku menyukai semua yang ada pada diri kamu."

Ah, sayang sekali Caca tak bisa mendengar itu. Andai bisa, pasti muka wanita itu tambah merah padam.

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang