BAB 22 - Cahaya Kecil

3.8K 119 29
                                        

"Dia yang pergi berarti bukan yang terbaik untukmu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dia yang pergi berarti bukan yang terbaik untukmu. Sebaliknya, dia yang datang tanpa diundang, adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuk melengkapi hidupmu."

***


SATU JAM TANPA Caca saja sudah menyiksa, apalagi ini mau 24 jam.

Semalam, usai Caca pulang dengan kedua orang tuanya, Adit tak punya kuasa untuk mengejar. Bahkan, meski yang ingin dilakukannya detik itu adalah memeluk Caca erat, atau minimal mengajukan satu kalimat tanya mengenai apa kesalahannya yang membuat wanita itu sampai menangis mengadu pada kedua orang tuanya.

Bukan tak mau, Adit hanya merasa tidak tepat memaksakan kehendaknya. Tatapan penuh luka Caca dengan mata bersimbah air mata bak menjadi mimpi buruk yang meneror. Setiap ingat itu, Adit merasa kehilangan separuh demi separuh raganya. Dia memang seorang pria yang gagal.

Saat ini, Adit duduk di balik kemudi dengan muka pucat pasi dan mata merah karena kurang tidur. Jelaslah, malah semalam dia cuma bisa tidur satu jam. Kehilangan Caca membuatnya berantakan. Kepalanya hanya penuh oleh dugaan-dugaan buruk bak benang kusut yang tak usai-usai, sementara hatinya terus bergolak oleh beragam perasaan.

Mungkin sekaranglah masa Adit merasakan kealayan manusia yang sedang dimabuk cinta. Namun, situasinya lebih serius. Mereka sudah terikat pernikahan, jadi masalah ini tak bisa dianggap remeh.

Satu jam lalu, Vanda mengirim pesan, memanggilnya untuk segera datang ke kediaman sang mertua. Adit jelas langsung berangkat meski hatinya tambah campur aduk saja. Tatapan horor Ikram terus menghantui. Rasa bersalah yang menggerogoti hati membuat perasaannya tambah tak karuan.

Mobil MG 5 GT kuningnya memelan begitu memasuki gang menuju kediaman Caca. Tatapannya makin fokus, malah genggamannya pada setir tanpa sadar menguat sendiri. Kemudian, akhirnya dia tiba di depan rumah dua lantai itu.

"Asalamualaikum." Adit perlu menyiapkan diri nyaris setengah jam di dalam mobil dan tambahan lima menit berdiri kaku di depan pintu besar yang tertutup rapat itu. Namun, itu masih belum cukup karena suaranya yang keluar teramat pelan.

Adit berdeham. "Asalamualaikum!" ulangnya dengan nada lebih keras.

"Waalaikumsalam."

Ada jawaban dari dalam. Handel pintu pun berbunyi dan berputar, lalu muncul Vera yang menyambut dengan tampilan jaketan.

"Masuk, cepat! Udah ditunggu sama Mama dan Ayah!" perintah wanita itu dengan ekspresi galak.

Adit menarik napas sebelum mengambil langkah pertama. Kediaman itu begitu hening sampai membuatnya bisa mendengar detak jantung sendiri dengan lebih jernih. Lalu, begitu masuk ke ruang keluarga, debar di dadanya makin kencang saja.

Ikram dan Vanda sudah menunggu di sana. Pandangan keduanya langsung teralih begitu menyadari kemunculan Vera dan Adit.

"Kamu gagal memenuhi ucapanmu sama saya," todong Ikram tanpa basa-basi. Bahkan, dia tak lebih dulu menyuruh menantunya yang baru tiba itu untuk duduk. Tugas itu digantikan oleh Vanda.

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang