BAB 18 - Penjelasan

4.4K 159 17
                                        

"Kata maaf memang berarti, tetapi tidak bisa menarik kembali apa yang sudah telanjur terjadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kata maaf memang berarti, tetapi tidak bisa menarik kembali apa yang sudah telanjur terjadi."

***

"NGAPAIN LO DI SINI?" Suara Adit menggelegar. Tangan kanannya meremas kuat buket mawar merah yang dihiasi bulir-bulir air hujan, sementara tangan kirinya menggenggam erat tali paper bag hitam. Jaket levis juga tampak sedikit basah dan rambutnya lepek.

Namun, fokus Adit sekarang hanya pada pria yang ada di samping istrinya, Zeze. Tiba-tiba semua kalimat yang diucapkan Deby berputar di kepalanya, membuatnya tak sabar untuk segera tiba di depan pria yang lebih pendek darinya itu. Langkahnya panjang-panjang, gestur badannya kentara sekali penuh kesigapan kalau-kalau akan ada pertarungan.

Adit berhenti tepat di depan Caca, meletakkan buket bunga dengan sedikit melemparnya ke atas meja. Tangan kanannya lalu menarik dan mengarahkan sang istri agar mundur, berlindung di balik tubuhnya. Tindakan itu seolah-olah mengatakan ultimatum, "Caca milikku!" ke arah Zeze.

"Maaf ...." Caca menyadari kesalahannya dan ingin langsung meminta maaf, tetapi suaranya mendadak hilang begitu merasakan aura menyeramkan yang keluar dari tubuh Adit.

Kedua mata pria itu hanya terkunci pada Zeze, pun dengan gestur badannya yang sepenuhnya mengarah pada sahabat istrinya tersebut.

"Atas izin siapa lo masuk ke sini?" tanya Adit ketus. "Dia?" Dia beralih pada Caca dengan memasang tampang galak.

"Jangan kasar sama wanita!" tegur Zeze, salah sangka. Namun, jelas sekali dia panik begitu melihat tatapan tajam Adit yang sedikit mengarah pada Caca.

"Bukan urusan lo. Dia istri gue!" Adit tak mau kalah.

"Oke." Zeze kehabisan kata-kata. "Caca gak salah, gue yang maksa masuk," jelasnya jujur.

Caca sudah dag-dig-dug tak karuan di belakang tubuh Adit. Terlebih pria itu terus menggenggam erat pergelangan tangannya. Tubuhnya yang tinggi menjulang, dengan kata-kata yang keluar bernada tegas, benar-benar menciutkan nyali Caca. Lalu, pandangannya tak sengaja terarah pada buket mawar merah di atas meja. Apa yang hendak diperbuat suaminya ini? Apakah ... untuk Deby?

"Lo gak punya malu, kah?" cerca Adit tanpa basa-basi.

Jelas saja harga diri Zeze tergores dan membuat kesabarannya yang memang sejak tadi menipis langsung habis. Dalam gerakan secepat kilat, tangan kirinya meraup kerah jaket Adit, sementara tangan kanannya terkepal bulat, siap meluncurkan satu bogeman.

"Jangan berantem!" sela Caca yang tak bisa berpindah sedikit pun dari tempatnya karena cengkeraman Adit. Air mata pertamanya jatuh lagi dan Adit langsung menyadarinya.

"Keluar sekarang!" usir Adit sebelum emosinya lepas kendali. Sejak tadi dia sudah berusaha menahan singa yang mengaum buas dalam dirinya. Kalau melihat ketidaksopanan Zeze sedikit lagi, bisa-bisa ruang tengah ini betulan jadi ring tinju dadakan.

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang