SP - Suami Sigap

5.1K 204 13
                                        

Caca jadi lebih moody belakangan ini. Mungkin bawaan hamil. Namun, Adit jadi kena imbasnya.

Pria itu dilatih setiap saat untuk harus lebih memperluas kesabaran, mempertajam kepekaan, dan lebih sigap sebagai seorang suami.

Pernah Caca nangis kejer cuma gara-gara baju yang Adit kenakan kusut karena belum disetrika. Wanita itu menyalahkan diri sendiri, nangis sampai 30 menit, bikin Adit cuma bisa pasrah.

"Ayaaang ...."

Adit yang baru mau memejamkan mata buat tidur siang, langsung sigap membuka matanya-yang memerah-dan berlari ke dapur.

"Kenapa, Sayang?" tanya Adit lemah lembut.

"Seleramu itu agak asin, kan?" Caca balik nanya dengan mata berkaca-kaca.

Adit mengangguk saja tanpa peka situasi.

"Tapi ...." Caca mulai nangis. "Tapi ... aku malah masak kemanisan. Kebanyakan gula merah. Aku udah jadi istri durhaka, gak bisa melayani suami sendiri dengan baik, bahkan lupa selera suami sendiri."

Tangis wanita itu pecah. Adit menghela napas lelah, pasrah.

Ya Allah, aku mencintai istriku dengan sepenuh hatiku, batinnya sambil berjalan mendekati Caca yang masih berdiri di depan kompor sambil memegang sutil.

"Sayang, jangan bicara begitu." Dipeluknya Caca dengan lemah lembut, ditepuk-tepuknya pelan dan penuh sayang kepala wanita itu.

Tangis Caca makin kencang.

Bawaan bumil emang begini, ya?

"Tolok ukur istri durhaka itu bukan dari masakannya, tapi dari sikap kamu sebagai istri. Dan bagi Aa, selama ini kamu udah jadi istri soleh yang selalu bikin hati Aa adem dan tambah bahagia setiap harinya."

Lagi-lagi Adit berkata dengan suara terlembutnya. Dikecupnya kening wanita itu berkali-kali.

Kompor sudah dimatikan, jadi mereka bisa bebas berpelukan.

"Kamu istri Aa yang tercantik dan terbaik, Sayang. Aa selalu makin jatuh cinta sama kamu setiap harinya. Tau gak, kalau Aa lagi lelah kerja, lalu rasa capek itu hilang gitu aja kalau lihat fotomu, denger suaramu, apalagi pas kamu senyum. Kayak maniiis banget, bikin hati adem."

Adit berevolusi dadakan jadi raja gombal level Atlantis. Namun, itu memang keluar dari hatinya, jadi bisa dengan lancar diucapkan.

"Ih, gombal." Caca memukul pelan punggung Adit dengan kedua tangan kecilnya yang melingkari tubuh pria itu.

Adit hanya cengengesan. "Aa jujur, Sayang. Kamu udah jadi belahan jiwaku."

"Iiih!" Caca sudah berhenti menangis dan sekarang malah tersipu malu di pelukan Adit.

"Apaa, sayangku, hmmm?" tanya Adit sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke kening Caca.

"Suuun!" pinta Caca malu-malu.

Adit lalu menciumnya tanpa malu. Tentu saja itu hanya ciuman biasa yang penuh cinta, tidak berlanjut ke episode berikutnya karena Adit sudah lelah batin kalau-kalau nanti di tengah "perjalanan", Caca mendadak "kambuh".

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang