SP - Ngidam Mi Ayam

6.2K 227 55
                                        

Malam ini Ciwidey lebih tenang dari biasanya. Suhu dingin yang menusuk justru mendukung suasana untuk lebih semangat bermalas-malasan di tempat tidur, bergelung selimut atau memeluk orang terkasih. Letak rumah yang jauh dari jalan raya juga membuat suasana amat sepi.

Adit setengah melemparkan tubuh lelahnya ke tempat tidur, siap terjun bebas ke alam mimpi usai seharian bekerja lembur bagai kuda demi anak-istri. Air dingin yang membasuh tubuhnya bagai guyuran es sedikit mengusir encok-encok.

Sayangnya itu belum cukup. Capek habis kerja gini tuh lebih tepat kalau dapat belaian penuh cinta dari sang istri.

"Yang."

Adit menahan lidahnya yang hendak digerakkan. Dia lebih dulu dipanggil oleh Caca, padahal niatnya mau memanggil wanita itu untuk memenuhi hasrat kekanakannya.

Minta dipeluk maksudnya.

"Hmm?"

"Kayaknya enak ya, makan mi ayam malem-malem gini," lanjut Caca begitu melihat suaminya mengangkat kepala, memandangnya dengan kening berkerut.

"Emang ada?" Adit balik bertanya. Dia bergelung pelan, cari posisi nyaman dari kehangatan tubuh istrinya.

"Ya ada, kalau dicari. Itu kan ada mi ayam Mang Kur, enak banget mi ayamnya. Dedek bayi udah ngiler, nih."

'Dedek bayi', dua kata keramat yang akan membuat Adit langsung patuh.

Usia kandungan Caca sekarang memasuki empat bulan dan Adit sudah terlatih lebih dari andal untuk menyadari setiap gerak-gerik calon bayinya.

Ngidam, sebutlah Caca kalau punya keinginan aneh itu suruhan dari bayi mereka, dan Adit mau tak mau harus mengabulkannya.

"Oke."

Adit terpaksa bangun meski malas kuadrat. Ini waktunya me time sama Caca dengan bermanja-manja pada wanita itu. Lah, calon bayinya malah minta yang aneh.

Karena semingguan ini Adit mulai jarang olahraga, jadi dia keluar dengan berjalan kaki. Seingatnya, memang di pertigaan jalan menuju rumah, ada tukang mi ayam yang selalu dibanjiri pelanggan meski tempatnya cuma di gerobak dorong.

Ini masih pukul delapan malam, tetapi dia sudah lembur sejak sehari sebelumnya. Jadi sekarang dia sudah sedikit letih. Namun, kalau ingat permintaan bayi mereka ini, mana berani dia menuruti rasa malasnya.

"Mang, beli mi ayam," kata Adit dengan bersemangat sambil duduk di kursi panjang yang kosong. Beruntung ternyata penjual mi ayam tersebut masih buka.

"Siap. Berapa porsi?" tanya pria berkopiah putih itu. Namanya Kurniawan, tetapi sering disapa Mang Kur.

"Dua aja, Mang," jawab Adit sambil melihat-lihat kendaraan yang berlalu lalang.

"Oke. Pedas keduanya?"

Mendapat pertanyaan itu, Adit termenung lama. Seingatnya, istrinya suka pedas, tetapi sekarang kan wanita itu tengah mengandung. Tak baik makanan pedas berlebih untuk bayinya, kan?

"Sedang aja," putus Adit mantap.

"Sip. Selamat menunggu dengan nyaman, Tuan Muda," canda mamang-mamang tukang mi ayam.

Kebetulan dia hafal muka Adit karena pria itu suka wara-wiri di sekitaran sini. Belakangan dia tahu, ternyata Adit pindah ke sini bersama istrinya. Yah, dia sudah mangkal jualan di sana hampir lima tahun, jadi cukup akrab dengan warga desa.

"Udah siap, Kang," kata Mang Kur sambil menyodorkan plastik putih berisi dua porsi mi ayam.

"Makasih." Adit menerima plastik itu sambil menyodorkan uang kertas biru. "Ambil aja kembaliannya, buat Mang Kur."

Duar, Nikah! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang