#JUARA I "BEST PROMOTION" MAC - PROSPEC MEDIA, 2024
"Ze, kalau aku suka sama kamu, gimana?"
Niatnya mau nembak gebetan, tetapi malah dapat balasan surat undangan. Empat tahun memendam cinta pada sahabat sendiri, ternyata kisah asmara Cahaya Januari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mau selama apa pun terpisah, pria tetap akan luluh saat tiba-tiba kembali bertegur sapa dengan masa lalu yang berkesan untuknya."
***
"Hai, Dit."
Gerimis tengah melanda Bandung malam itu, membuat atmosfer lebih dingin dua kali lipat. Meski begitu, keramaian seolah-olah tak pernah mati di jalan raya, mobil dan motor tetap berlalu-lalang. Namun, di antara keramaian itu, MG 5 GT kuning yang dikendarai Adit justru merapat ke ruas jalan yang sepi.
Ada seorang wanita yang tengah duduk di bawah salah satu pohon hias di sana. Kedua tangannya memeluk diri sendiri karena tak kuasa melawan hawa dingin yang menusuk. Ah, bahkan gigil sudah menandakan bahwa dia sudah nyaris tumbang.
Adit keluar dari mobil dengan membawa payung, bertindak bak sang pemeran utama dalam drama-drama romantis yang hendak menemui belahan jiwanya.
"Masuk," katanya sambil memayungi Deby Rinjani yang masih duduk jongkok.
"Aku seneng akhirnya kamu datang." Deby berujar tanpa basa-basi, mengeluarkan gelora yang mulai menyala di hatinya.
Satu kalimat itu seperti detak lain yang menyerang jantung Adit, memberikan sengatan listrik tak kasatmata pada tubuhnya yang dibalut jaket hitam. Dia nyaris tak bergerak, dengan ekspresi kaku dan tatapan datar.
Wanita ini pernah begitu dicintainya.
"Ada tisu?" tanya Deby begitu mereka akhirnya sudah di dalam mobil. Ponselnya basah kuyup karena ikut kehujanan dengan dirinya. Saat keluar dari rumah tadi, dia memang lupa bawa tas atau benda lain; hanya bawa ponsel saja.
Adit memberikan lembaran tisu tanpa bicara. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan menyetir pelan meninggalkan ruas jalan Jendral Achmad Yani.
Beberapa saat lalu, dia baru saja menyelesaikan urusannya dengan Sam. Awalnya Sam memang pergi semobil dengannya, tetapi pria itu kemudian turun di tengah jalan karena harus menemui kekasihnya.
"Aku gak cocok sama Zeze kayaknya," celetuk Deby setelah sepuluh menit mobil berjalan dalam keheningan.
Adit tetap membisu.
"Dia gak seperti kamu, Dit, yang bisa sabar dan paham sama semua sifatku. Dia punya ego yang menyakiti hatiku," lanjut Deby. Tangannya mencabut selembar tisu dari boksnya di dasbor mobil.
Lagi-lagi Adit hanya diam, fokus menyetir. Namun, Deby yakin bahwa pria itu tetap mendengarnya.
"Kami udah sering berantem belakangan ini, makanya tadi aku nekat kabur dari rumah. Aku cuma bawa ponsel, dan ... satu-satunya orang yang kupikirkan saat aku terdesak gini adalah kamu, Dit, dari dulu pun begitu." Deby sengaja menekankan empat kata terakhir meski dengan suara lebih rendah. Jelas itu untuk menegaskan bahwa Adit masih memiliki tempat yang spesial di hatinya.