CHAPTER 34

28 5 6
                                        

⚠️ Hati-hati typo bertebaran.

Happy reading ~

‼️Sebelum baca, harap vote terlebih dahulu.‼️

***

"APA?!"

"Wain sama Keyra besok tunangan? Kok bisa?" Sungguh Zayyan masih tidak percaya dengan berita yang di beritahukan oleh ibunya Vio.

"Ya bisa lah." Jawab ibu Ara.

*Flashback

Tadi waktu Lex, Zayyan dan Sing yang baru saja kembali dari taman, di buat bingung oleh 8 dress dan 8 kemeja yang sedang di rapikan oleh ibunya Vio.

"Tante Lena, kemeja sama dress nya mau diapain?" Tanya Sing.

"Ini untuk kalian." Jawab ibu Vio (Lena)

"Untuk kami? Emang mau ada acara apa?" Tanya Helen.

"Coba tebak." Ucap ibu Ara.

"Pertemuan keluarga?" Tanya Lex yang mendapatkan gelengan dari ibu Ara.

"Untuk acara ulang tahunnya Vanessa?" Tanya Zayyan dan gelengan yang ia dapatkan dari ibu Sing.

"Adik mu itu ulang tahunnya masih satu bulan lagi loh, Zay." Ucap ibu Sing.

"Untuk acara tunangan nya kak Kai sama Kak Vania?" Tanya Ara dan juga masih mendapatkan gelengan dari ibu Vio.

"Kai sama Vania tunangannya masih lama lagi." Ucap ibu Vio.

"Ya terus apa?" Tanya Vio.

"Jawabannya Ara itu hampir mendekati." Jawab ibu Ara.

"Hah? Tunangan? Tunangannya siapa?" Tanya Helen.

"Yang akan tunangan itu di antara kita?" Tanya Sing.

"Yup, benar. Yang akan tunangan ada di antara kalian." Jawab ibu Vio.

"SIAPA?!"

"Wain dan Keyra." Ucap ibu Ara.

"APA?!"

*Flashback of

***

Ara memeluk tubuhnya sendiri kala angin sore itu menerpa tubuhnya. suara ketukan sepatu terdengar mendekatinya, namun ia enggan untuk berbalik dan melihat siapa yang mendekat.

Hingga tubuhnya di rengkuh dan di selimuti mantel hangat. Ia hanya memejamkan matanya, menyibukkan diri dengan mengisi rongga paru-parunya dengan aroma mint yang menguar dari sosok yang tengah memeluknya.

Ia merindukan aroma ini, ia merindukan pelukan ini. Ara merindukan Sing nya.

"Gue tahu Lo nggak toleran sama yang namanya dingin. Jangan bodoh." Bisik Sing tepat di telinga Ara.

Ara hanya terdiam dan menyadarkan punggungnya pada dada bidang Sing. Mata cantik itu tertutup rapat.

Lama keduanya terdiam pada posisi itu, sampai Sing menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Ara. Kedua tangan nya memeluk tubuh kecil Ara posesif.

Cinta Tak Bisa Di TebakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang