⚠️ Hati-hati typo bertebaran.
Happy reading ~
‼️Sebelum baca, harap vote terlebih dahulu.‼️
***
Hari itu Ara bangun dari tidurnya dengan susah payah. Entahlah, kayaknya dia keasikan nulis surat untuk Sing. dua tahun belakangan ini Ara sering sekali mengirimkan surat untuk Sing, sebenarnya bukan dirinya yang mengirimkan surat itu, melainkan Lex tapi tenang surat itu yang menulis dirinya sendiri, karena hanya Lex yang mengetahui keberadaan Sing. Walaupun selama ini tak pernah ada balasan dari Sing.
Ara duduk di pinggir kasurnya, kepalanya sangat pusing. Ara berinisiatif untuk turun ke dapur dan mengambil minum untuk dirinya minum agar pusingnya hilang.
Astaga, bahkan untuk bangkit dari kasur pun rasanya berat sekali. Ia terjatuh karena kakinya terlalu lemas untuk menumpu berat badannya.
Lex, Vio dan Dian panik saat masuk ke dalam kamar Ara dan melihat keadaan Ara yang sedang tidak baik-baik saja.
"ARA! Lo nggak papa? Badan Lo panas banget anjir..." Ucap Dian saat memegang kening Ara.
"Pusing..." Ucap Ara lirih.
Lex menggendong Ara setelah mendapat kode dari Vio, dirinya menidurkan Ara di kasur dan menyelimuti tubuh Ara agar tidak kedinginan.
"Gue panggilan bik Mirna ya? Agar di buatin teh hangat dan bubur. Habis itu langsung minum obat." Ucap Dian lalu keluar dari kamar Ara.
Lex melirik sekilas ke arah meja kerja Ara, lalu berjalan mendekati meja kerja itu dan mengambil sebuah amplop yang isinya sangat diketahui Lex.
Lex berjalan mendekat ke arah kasur Ara.
"Lo sakit karena nulis ini?" Ucap Lex serius.
Ara hanya tersenyum dan mengangguk kaku. Lex hanya bisa menggeleng, namun Vio memberikan tatapan maut kepada Ara.
"LO NULIS SURAT BERAPA LAMA KOK BISA SAMPAI SAKIT?!" Semoga Telinga Lex dan Ara baik-baik saja setelah mendengar suara Vio yang sangat keras.
"Nggak lama, cuman sampai jam.... Empat." Ucapan Ara memelan di kata terakhir.
"APA?! Jam empat?! Lo bego atau gimana sih? Kenapa Lo susah banget buat di atur?!" Lama-lama Lex juga ikut emosi karena mendengar ocehan dari istrinya—iya mereka sudah menikah satu tahun yang lalu—walau ocehan itu tak tertuju padanya, namun tetap saja telinganya sakit.
"Iya gue tahu gue salah tapi-" ucapan Ara terpotong dengan suara Kerasnya Vio.
"LO EMANG SALAH! SALAH KARENA-" teriakan Vio terpotong saat Lex membekap mulut Vio dengan tangannya.
"Diam okey? Telinga ku sakit." Ucap Lex.
"Tapi-" Vio langsung diam saat mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.
"Diam paham? Dan Ara... Lo bisa nggak sih jaga kesehatan, hanya karena Sing nggak ada di dekat Lo jadi Lo seenaknya gitu? Kalau Sing tahu Lo sakit lagi, dia bisa marah besar. Coba hitung Lo sakit udah berapa kali di bulan ini dan juga Lo udah berapa kali masuk rumah sakit?" Lex berucap sambil menatap tajam Ara dan itu membuat Ara sedikit takut.
"Lima... Dan sudah dua kali masuk rumah sakit." Cicit Ara pelan.
"Lo bisa hitung Lo sakit udah berapa kali dan masuk ke rumah sakit berapa kali selama dua tahun ini?" Hanya gelengan yang Lex dapatkan dari Ara.
"Udah nggak terhitung!" Nah kan, suaranya Lex meninggi, sampai membuat Ara bergetar.
"Lo tahu? Sing bisa aja pulang sekarang juga dan marahin Lo, tapi sayangnya nggak bisa. Sing di Sana banyak kerjaan." Ucap Lex datar lalu beranjak pergi dari kamar Ara.
Dapat Vio lihat butiran-butiran bening di mata Ara sudah siap untuk meluncur membasahi pipi gadis itu.
Hiks
Isakan kecil berhasil lolos dari bilah bibir kecil Ara. Mendengar Isakan itu Vio langsung memeluk Ara dan menenangkannya.
"Stt, nggak papa. Lex nggak bermaksud buat marah sama Lo tadi, dia cuman emosi karena dia ngerasa gagal ngejaga Lo. Sing udah nitipin Lo ke dia, jadi kalau Lo sakit lagi padahal Lo baru dua hari yang lalu sembuh dia pasti merasa bersalah sama Sing." Ucap Vio sambil mengusap-usap punggung Ara untuk menenangkan Ara.
"Ta-tapi.... Gue ta-takut hiks Sing marah sama hiks gue dan nggak mau pulang hiks ke sini lagi hiks..."
***
"ARAAAA!!"
Pintu kamar Ara di buka dengan tidak elitnya, sampai membuat beberapa orang yang berada di dalam terkejut.
"Nggak bisa pelan-pelan?" Tanya Lex dingin. Sedari tadi Lex hanya diam dan hanya fokus dengan handphone nya, membuat tidak ada mau dekat dengan.
"Kenapa?! Iri?! Yang punya kamar aja diam, kok Lo yang sewot?!" Ucap Agnes.
Lex mengangkat pandangannya, lalu menatap tajam Agnes. Agnes yang mendapatkan tatapan tajam dari Lex pun langsung bersembunyi di belakang Hyunsik suaminya —mereka baru menikah satu bulan yang lalu—
"Kenapa bisa sakit lagi? Lo udah berapa kali sakit?" Tanya Helen yang baru saja datang dengan Zayyan tunangannya.
"Sakit aja terus!" Ucap Keyra yang juga baru saja sampai dengan Wain tunangannya.
"Udah minum obat?" Tanya Andre yang juga baru sampai sambil membawa keranjang buah.
"Makan aja belum." Ucap Vio mewakili Ara yang sedari tadi diam.
"ARA! ini buburnya, cepat makan. Habis itu minum obat." Ucap Dian setelah selesai membuat bubur bersama bik Mirna.
Di susul Davin pacarnya yang membawa nampan berisi teh hangat dan satu mangkuk bubur.
Drtt drtt drtt
"Gue keluar dulu." Pamit Lex saat seseorang menelponnya.
"Mau kemana Lex?" Tanya Leo yang baru saja sampai bersama Melody tunangannya dan disusul Beomsoo, Mona, Wain dan Keyra.
Lex tidak menjawab pertanyaan Leo. Lex hanya menatap Leo sebentar lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Lex kenapa?" Tanya Keyra kepada Vio.
"Biasa... Marah karena Ara sakit lagi untuk kesekian kalinya." Jawab Vio.
***
'dia sakit lagi?' tanya seseorang dari seberang telepon.
"Gitulah." Jawab Lex.
"Bentar lagi ultahnya Ara yang ke 20." Ucap Lex.
'gue tahu.'
"Terus Lo nggak ada niatan buat cepat balik gitu? Gue capek ngurus anak keras kepala itu, dia cuman nurut sama Lo doang, njir."
"Untungnya ada Andre yang bisa bujuk tu anak."
'gue butuh bantuan lo.'
"Cih, beban!"
'mau bantu nggak? Kalau nggak sih nggak papa.'
"Bantu apa?"
~to be continued
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Tak Bisa Di Tebak
Fiksyen RemajaCerita ini sangat-sangat tidak nyambung. Jadi maklum saja jika alur nya kemana-mana :) Terkadang cinta itu datang secara tiba-tiba tanpa ada yang memanggilnya,dan juga Terkadang hubungan persahabatan antara cewek dan cowok berubah menjadi Cinta,iya...
