⚠️ Hati-hati typo bertebaran.
Happy reading ~
‼️Sebelum baca, harap vote terlebih dahulu.‼️
***
Di pagi yang cerah Ara terbangun pada kondisi yang kurang baik seperti beberapa hari sebelumnya. Dirinya turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama kedua orang tua nya.
"Happy birthday, sayang!" Seru kedua orang tua Ara.
"Anak mamah udah umur dua puluh, tapi belum pernah pacaran." Ucap nyonya Alfarendra.
"Kapan nikah?" Ucap tuan Alfarendra.
Selalu pertanyaan seperti itu yang Ara dengar setelah dirinya lulus sekolah. Dirinya kan masih umur dua puluh tahun jadi buat apa buru-buru nikah?
"Kapan-kapan pah." Jawab Ara acuh, lalu mendudukkan dirinya di kursi kosong dan langsung memakan makanannya.
"Udah mendingan atau belum?" Tanya nyonya Alfarendra.
"Udah Lumayan kok."
"Nanti malam sanggup kan?" Tanya tuan Alfarendra.
"Sanggup kok, lagian juga cuman pesta ulang tahun."
"Yasudah kalau begitu kamu makan yang banyak." Ucap tuan Alfarendra.
***
Ara selalu menyukai pesta. Di pesta ulang tahun nya Ara selalu menunggu kejutan dari siapapun itu. Maka malam ini Ara tampil begitu cantik menggenakan dress biru dengan rambutnya yang di gerai. Namun dua tahun belakangan ini dirinya tidak terlalu senang dengan pesta ulang tahun nya. Bukan karena pestanya membosankan tapi karena seseorang.
***
Pukul dua dini hari. Pesta usai. Hari ini Ara sangat bahagia.
Ara berjalan keluar gedung yang tadi untuk merayakan hari ulang tahun nya. Ara menatap langit yang dihiasi bulan dan bintang-bintang yang bersinar.
Tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan seseorang pemuda yang berada di depannya. Pemuda itu menggunakan topeng.
"Lo si-siapa?" Tanya Ara takut.
"Bagaimana bisa kamu melupakanku." Jawab pemuda itu.
"Bu-buka topeng Lo." Ara mengangkat tangannya dan berusaha melepaskan topeng dari wajah pemuda itu. Namun di pemuda mengelak, menepis tangan Ara. Setelah itu ia memegang tangan Ara.
"Tanganmu masih sama lembutnya." Kata pemuda bertopeng sambil tersenyum.
"Siapa Lo sebenarnya?" Ara melepaskan tangannya dari genggaman pemuda itu.
"Kau selalu menyukai kejutan di setiap pesta ulang tahunmu bukan? Apw kau juga mau menerima kejutan dariku?" Pemuda itu menata topengnya yang bergeser dari posisi awal.
Ara terdiam. Dia menunggu pemuda itu bertindak sesuatu. Entahlah, dirinya lebih memilih menunggu apa yang akan di lakukan pemuda itu daripada masuk kedalam gedung.
Pemuda itu berlutut di hadapan Ara, lalu membuka sebuah kotak yang dalamnya berisi cincin.
Ara terpana. "Sangat indah." Ucap Ara spontan. Cincin itu sangat indah.
"Lo siapa? Kenapa lo berlutut? Kenapa Lo ngasih gue cincin?" Rentetan pertanyaan meluncur dari mulut Ara.
"Aku sedang memberikanmu kejutan. Bukankah kau sangat menyukai kejutan? Dan siapa aku? Kau akan tahu jawabannya setelah aku memperlihatkan kalung ini." Ucap pemuda itu sambil mengangkat sebuah kalung yang sama persis dengan kalungnya yang selalu dirinya gunakan.
"Ka-kalung itu..."
Pemuda itu mundur beberapa langkah menjauh dari Ara. Malam semakin larut. Udara dingin menembus kulit mereka.
Tiba-tiba sang pemuda membuka topengnya dan merentangkan kedua tangannya. "Datanglah kesini."
Ara terkejut ketika melihat wajah pemuda itu. Matanya terpejam diiringi butiran bening yang membasahi pipinya. Lantas Ara langsung berlari kearah pemuda itu menabrakkan tubuhnya, memeluk pemuda itu sangat erat dan menangis di dalam pelukan itu.
"Bagaimana? Sudah mengenaliku?" Pemuda itu membalas pelukan Ara.
"Si-sing...."
"Lo udah lupa sama gue? Kenapa Lo nggak ngenalin gue sama sekali?"
Sing menggendong Ara, lalu berjalan menuju sebuah bangku yang terletak di dekat mereka berdua. Sing mendudukkan Ara di pangkuannya.
"Gue kangen sama Lo. Gue selalu khawatir sama Lo karena Lo sakit terus." Ucap Sing sangat lembut.
"G-gue hiks juga ka-kangen hiks sama Lo..." Ara menyenderkan kepalanya di dada Sing.
"Lo tadi beneran nggak ngenalin gue?" Tanya Sing yang di angguki oleh Ara.
"Lo-logat Lo hiks be-beda... Tiba-tiba hiks ja-jadi aku kamu!" Tadi memang Ara sama sekali tak mengenali Sing, namun tadi dirinya merasa tak asing dengan Sing.
Sing menghapus air mata Ara, lalu menggenggam tangan Ara dan mengusap-usapnya. Sing memakaikan cincin tadi di jari manis Ara.
Ara mengangkat pandangannya untuk menatap Sing. "Untuk apa?" Tanya nya.
"Hadiah spesial untuk kekasihku ini." Ucap Sing, lalu mengecup pipi Ara yang mendapatkan pukulan di dadanya dari Ara.
"Sejak kapan gue jadi pacar lo?!" Teriak Ara.
"Sejak tadi."
"Emang gue mau jadi pacar Lo?"
"Aku nggak perlu persetujuan dari kamu, karena aku udah di restui sama kedua orang tua kamu..."
"Tap- hmphh."
Sing mencium Ara, hanya sebentar. Namun itu sukses membuat wajah Ara memerah.
"MY FIRST KISS!!" Teriak Ara setelah Sing mengakhiri ciuman itu.
"Kenapa?" Ucap Sing sambil mengusap-usap telinganya yang sakit karena teriakan Ara.
"First kiss ku hanya khusus untuk my husband!"
"Aku yang akan menjadi suamimu..."
"Tapi-"
"Nggak ada tapi-tapian, kali ini aku maksa!"
"Aku udah dari dulu suka sama kamu..." Lanjut Sing.
"Tapi... Hahh, I love you."
"I love you too, baby."
"KAMI TUNGGU UNDANGAN NYA!!"
Ternyata sedari tadi banyak orang yang melihat kejadian ini. Ara yang mengetahui itu pun langsung membenamkan kembali wajahnya ke dada Sing. Dirinya Malu....
End
Ending nya nggak nyambung wkwkwk.
Aku mau ngucapin makasih kepada kalian yang udah mau baca book ini, walaupun book ini nggak nyambung:)
Untuk sementara aku akan unpublik book ini.
Sebisa mungkin aku besok up book baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Tak Bisa Di Tebak
Novela JuvenilCerita ini sangat-sangat tidak nyambung. Jadi maklum saja jika alur nya kemana-mana :) Terkadang cinta itu datang secara tiba-tiba tanpa ada yang memanggilnya,dan juga Terkadang hubungan persahabatan antara cewek dan cowok berubah menjadi Cinta,iya...
