CHAPTER 22

29 9 4
                                        

⚠️ Hati-hati typo bertebaran.

Happy reading ~

‼️Sebelum baca, harap vote terlebih dahulu.‼️

***

Ara melihat Andre yang duduk di ruang tamu sambil di temani dengan secangkir kopi dan melihat ke arah nya dengan senyuman yang menjengkelkan menurut Ara.

"Ngapain sih Lo ke sini?" Tanya Ara dengan nada kesal nya.

"Kan udah gue bilang kalau gue ingin ngajak Lo jalan." Jawab Andre.

"Ck, yaudah ayo cepetan! Gue nggak punya banyak waktu buat orang gila kayak Lo!"

"Siap Tuan Putri."

Sebelum Ara keluar, Ara memberitahu bik Mirna terlebih dahulu jika dirinya akan pergi, karena jika Ara tidak memberitahu bik Mirna, Ara yakin mansion milik keluarga Mahendra akan sangat ramai.

Saat Ara ingin membuka pintunya, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya dan memperlihatkan remaja laki-laki tinggi dan tampan.

"si-sing?"

"Ngapain Lo di sini?" Tanya Sing ke Andre dengan tatapan mengintimidasi.

"Ngapain lagi kalau nggak jemput pacar gue, iya kan sayang?" Jawab Andre sambil memperlihatkan tangan Ara yang dirinya genggam.

'pengen rasanya gue tonjok ni orang.' Ucap Ara dalam hati sambil menatap sengit Andre.

"Pacar? Sayang?" Tanya Sing menatap Ara dan Andre bergantian.

"iya, gue Ama Ara udah resmi pacaran, jadi Lo jangan harap bisa dekat Ama Ara lagi." Jawab Andre.

Ara bingung harus menanggapi bagaimana, jujur ingin rasanya Ara memukul Andre menggunakan balok kayu.

"Jelasin sama gue, Ra." Ucap Sing dengan mata men-najam.

"g-gue emang pa-pacaran sama Andre."

"Lo bohong kan? Lo udah janji sama gue, buat jauh-jauh dari cowok sialan ini." Ucap Sing sambil menunjuk Andre.

"Dia nggak bohong, mending Lo pergi gue mau ngedate bareng pacar gue." Sing sedikit menekankan kata 'pacar.'

Andre mengangkat tangannya untuk merangkul pundak Ara, tak lupa ia mengecup pucuk kepala Ara di depan Sing.

Emosi Sing sudah benar-benar membara, ingin rasanya ia memukul wajah Andre detik itu juga.

"Gw kecewa Ama lo!" Ucap Sing ke Ara, lalu pergi menuju mobilnya dan meninggalkan kediaman keluarga Alfarendra.

Setelah Sing pergi Ara melepaskan rangkulan Andre dan...

Bugh.

Ya, Ara memukul perut Andre sekuat tenaga, sampai membuat Andre meringis.

"Shh, sakit bego."

"Maksud Lo tadi apa!?"

"Yang mana?"

"Nggak usah sok lupa!!"

"Sengaja."

"Anjing Lo!"

"Gue Manusia btw."

"Udah ayo cepat." Lanjut Andre lalu berjalan menuju mobilnya.

Setelah Ara masuk Andre langsung menyalakan mobilnya dan pergi membawa mobilnya dengan santai.

Cinta Tak Bisa Di TebakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang