CHAPTER 38

34 4 3
                                        

⚠️ Hati-hati typo bertebaran.

Happy reading ~

‼️Sebelum baca, harap vote terlebih dahulu.‼️

***

Seorang gadis cantik sedang berjalan sendirian di jalan setapak yang sepi, bagaimana tidak sepi? Sekarang sudah tengah malam, jadi wajar saja jika jalan setapak itu sepi. Malam ini adalah malam yang sangat indah karena di hiasi oleh bulan dan bintang. Serta tak lupa gedung pencakar langit yang saling memamerkan keindahannya.

Gadis tersebut sedari tadi hanya menatap kosong jalanan itu dan jangan lupakan butiran-butiran bening yang akan jatuh membasahi pipinya. Mengingat sahabat kesayangannya seperti sedang menjauhinya.

Sing, sudah lebih dari satu bulan ini dirinya tak terlihat, Ara sudah mencoba untuk menghubungi Sing namun hasilnya nihil. bahkan saat Ara menghampiri Sing ke mansion pemuda itu dirinya pun tak ada. saat tanya ibunya Sing bukanya menjawab Sing di mana, ibunya Sing malah mengalihkan pembicaraan. Juga saat bertanya dengan yang lain jawabannya selalu 'nggak tahu' dan 'sedang pergi mungkin' pergi? Cih,  jika memang pergi kenapa tidak menjawab panggilan dari Ara?

Ara terduduk di tempat duduk yang berada di pinggir jalan setapak tersebut. Dirinya hanya menatap kosong ke depan sampai tidak menyadari air matanya telah jatuh.

Hiks

Satu isakan kecil lolos dari bilah bibir kecil itu.

"Sing... Lo di mana?"

"Lo pe-pergi hiks kemana? Gue ada hiks salah ya sama hiks Lo?"

"Sampai-sampai Lo hiks nggak ja-jawab panggilan hiks gue."

"Ka-kalau gue punya salah hiks bilang biar gue hiks minta maaf. Jangan malah menghindar dari hiks gue."

"SING! LO KEMANA!? GUE KANGEN! gue kangen hiks."

"Sing... Gue nggak mau jauh-jauh dari Lo..."

"Sing..."

***

Terhitung sudah 30 menit Ara menangis di sana. Matanya sudah sangat sembab dan hidungnya pun sudah memerah.

Sampai sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan Ara. Seorang pemuda keluar dari mobil itu dengan cepat turun dari mobilnya, lalu berlari menghampiri Ara dan memeluknya.

"Kenapa di sini? Mana sendirian." Tanya pemuda itu khawatir.

"Sing..."

"Kalau mau cari Sing jangan di sini, Lo nggak bakal ketemu Sing kalau di sini. Pulang yok." Ucap pemuda itu yang kini menenangkan Ara.

"Ndree, Sing ke-kemana? Kenapa hiks dia nggak ada kabar sama hiks sekali? Dia marah hiks sama gue?" Ara mendongakkan kepalanya.

Andre melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata Ara dengan kedua ibu jarinya.

"Nggak, Sing nggak marah sama Lo. Pulang yok, biar gue antar." Ucap Andre lembut namun mendapatkan gelengan dari Ara.

"Kenapa? Ntar kita mampir deh ke supermarket yang buka 24 jam buat cari makanan, Lo belum makan dari tadi pagi. Bahkan dari satu bulan yang lalu Lo jarang makan, lihat Lo tambah kurus." Ucap Andre.

"Mau sing...." Lirih Ara.

"Tapi-"

"MAU SING!"

Andre menghela napas berat. "Ya udah, ayok ikut gue."

"Kemana?"

"Lo mau tahu Sing ada di mana kan?" Ara hanya mengangguk.

"Makanya ayo ikut gue." Andre menarik pergelangan tangan Ara agar mau mengikuti nya.

Cinta Tak Bisa Di TebakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang