[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
Singkat saja. Cerita ini mengisahkan seorang anak perempuan yang mempunyai impian besar. Jika yang lain mempunyai impian untuk menjadi dokter,polisi dan psikologi tapi seorang Aqila berbeda. Impian terbesarnya yait...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم . . . "Jika Sayyidina Ali saja tidak ingin bayangan istrinya dilihat oleh orang lain, maka Mas juga tidak ingin jika foto-foto kamu tersebar di media sosial dan dilihat banyak pasang mata. Dan Mas juga tidak akan pernah melakukan itu Zaujati" -Muhammad Agam Fikri Al-Hafidz- . . .
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suasana di Bandara di pagi hari cukup padat banyak orang yang berlalu lalang kesana-kemari. Saat dua pasangan muda itu datang semua pandangan keluarga kini terarah kepada Aqila
"Astaghfirullah Agam!!! Kenapa Aqila jalannya pincang kaya gitu?" Ucap Akmal
"Sstt...Akmal ini urusan suami istri, kamu kan belum nikah" timpal Tio
Jam penerbangan mereka tidak bersamaan dan keluarga Agam sudah pergi lebih dulu dari mereka
"Huekk...huekk" Aqila sedikit berlari dan menjauh dari keluarganya, ia masuk ke toilet yang jaraknya tidak jauh dari mereka
Sementara itu Agam juga ikut menyusul Aqila
Disana Agam hanya bisa menunggu jauh dari luar toilet karena disana banyak wanita yang bukan mahramnya. Kedua netranya melihat Aqila yang baru saja keluar dari kamar mandi
"Kamu gapapa sayang?"
"Dari pagi aku mual terus Mas"
"Nanti setelah sampai kita ke dokter dulu yah" ucap Agam sambil menuntun Aqila.
🌸🌸🌸
Kini Agam dan Aqila telah berada di Rumah Sakit Jakarta saat ini mereka tengah menunggu hasil dari laporan hasil tes yang dilakukan oleh Aqila
Di hadapan mereka sudah ada Dokter yang sedang melihat hasil laporan Aqila
"Selamat yah Pak, Istri bapak sedang hamil"
Sebuah senyuman lantas terukir di bibir Agam tak kalah pula dengan Aqila hanya saja senyumnya ditutupi oleh Niqab yang dikenakannya
"Ini beneran Dok?" Tanya Agam yang masih tidak percaya
Dokter menganggukkan kepalanya
"Sekali lagi selamat untuk Bapak dan juga Ibunya. Saya harap pola makannya dijaga yah dan tolong jangan memikirkan sesuatu yang berlebihan dan cemas berlebihan karena itu akan berdampak pada bayi yang ada didalam kandungan Ibu"
Rasa bahagia Agam tidak dapat digambarkan lagi. Saat keluar dari ruangan, Agam langsung membawa Aqila kedalam pelukannya hingga tanpa sadar air matanya menetes tak lama pelukan merenggang lalu tiba-tiba saja kening Aqila dicium oleh Agam setelah itu Agam setengah berjongkok dihadapan Aqila