"Kok gak baca pesan yang gue kirim?", tanya Luna langsung saat baru sampai sekolah, morning sickness membuatnya telat datang ke sekolah, hingga ia datang 2 menit sebelum bel berbunyi
"Pesan apaan Lun?", tanya Naya teman sebangku Luna yang bingung Karena Luna datang-datang langsung mengintrogasi Jidan
"Ohh sorry gue baru baca semalem, sorry ya. Besok-besok gue anterin", ucap Jidan lanjut bermain game bersama teman sebangkunya tanpa memperdulikan Luna yang menyerah untuk lanjut mengintrogasi, ia akhirnya duduk di bangkunya sambil memegangi kepalanya sendiri
"Ada masalah apa sih lu sama Jidan, kayaknya akhir-akhir ini berantem terus ga kayak dulu", Luna hanya menggelengkan kepalanya
Jam pelajaran berjalan seperti biasanya, hingga berakhir pelajaran olahraga di jam terakhir dengan materi voli, materi yang disukai oleh Luna, dengan senang Luna mengeluarkan seragam olahraganya dari dalam tas sambil mengobrol dengan Naya
Timbul rasa khawatir dengan materi yang hari akan diajari, Jidan memperhatikan Luna yang terlihat senang. Kalau cuma senam mungkin Jidan tidak akan mempermasalahkan nya tetapi ini, pasti butuh gerakan-gerakan yang sangat extra
"Eh dikamar mandi pasti rame, gue nempatin duluan yak", Luna mengangguk setelah ditinggal Naya
Jidan menghampiri meja Luna lalu menahan baju seragam milik Luna, "Gausah olahraga",
"Apaan sih Ji, hari ini materinya favorit gue"
"Gue bilang, lo... ga usah olahraga", Jidan menatap tajam tepat ke arah mata Luna sambil menekankan kata-katanya
"Gue gamau lo kenapa-napa, inget lo juga bawa nyawa disana", Jidan menunjuk tepat ke arah perut Luna dengan matanya dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya, menghindari warga kelas mendengar ucapan mereka walaupun kelas sudah sepi
"Terus gimana? Gue gapunya alesan buat ga ikut olahraga", Jidan mengambil seragam olahraga milik Luna lalu ia masukkan ke dalam tas nya
"Bilang aja lo ga bawa bajunya"
"Terlanjur, Naya udah terlanjur liat gue bawa seragam"
"Kalo gitu", Jidan mengambil kembali seragam olahraga milik Luna, ia melirik kesekian yang sudah kosong lalu dengan cepat merobek seragam Luna dengan mudah menggunakan kedua tangannya
"Gila lu Ji"
"Alesan ini bisa lu pake sampe sembilan bulan kedepan kan, bilang seragamnya robek karena lu tadi jatuh", Jidan menghampiri meja Luna dan memberikan kembali seragam olahraga yang sudah robek itu
"Mending lu istirahat di kelas, belajar kek sambil nungguin pelajaran olahraga selesai", Jidan menepuk pelan pucuk kepala Luna sebelum meninggalkan kelas untuk berganti baju
Luna duduk di bangkunya memperhatikan seragam olahraga nya, ingin sedih tapi Jidan ada benarnya juga. Dia ga mungkin terus terusan tidak olahraga dengan alasan tidak membawa baju atau sakit, yang ada ia makin dicurigai
"Woy, gue tungguin juga Lun... Lun. Kok ga ke toilet?"
"Gue izin ga olahraga Nay, baju gue robek tadi jatoh pas mau turun tangga eh nyangkut", Naya mendecak, ia izin kepada ketua kelas untuk membantu perizinan Luna
"Gapapa nanti Luna ngeliatin aja di pinggir lapangan. Langsung ke lapangan ya Nay udah mau mulai soalnya"
"Oke thanks pak ketu", Naya kembali menghampiri Luna dan menyuruh Luna apa yang dikatakan oleh ketua kelas mereka tadi, Luna tersenyum, setidaknya ia bisa melihat teman-temannya bermain voli walaupun ia tidak akan ikut andil bermain disana
Jidan memicingkan matanya, melihat Luna yang berjalan beriringan bersama Naya, ada rasa kesal karena Luna tidak menuruti kata-katanya untuk beristirahat dikelas saja, Jidan tidak bisa menahan keinginannya untuk tidak menghampiri Naya dan Luna
"Gue bilang kan dikelas aja, kuping lo dimana Lun?",
Naya melotot tidak suka, "Siapa lo larang Luna? HTS doang kan? Jangan belagak kayak pacar deh",
Jidan menatap Naya tidak kalah kesalnya, "Lo gatau apa-apa Nay, mendingan diem",
"Dih?!, apa yang gua gak tau soal Luna? Kita kan temen deket"
"Lagian gue cuma mau liat dong kok Ji," ucap Luna akhirnya, ia mengusap pundak belakang Naya agar meninggalkan Jidan, ada rasa bersalah mendengar ucapan Naya tadi. Mereka berdua memang selalu berbagi rahasia, tapi gimana reaksi Naya jika tau soal rahasia besar yang sedang ditutupi oleh Luna sekarang ini?
🐶
Jidan merebahkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamar yang berakhir mengingat kejadian panas yang dilakukannya bersama Luna di tempat sekarang ia tiduri, hal ini sudah menjadi kebiasaannya semenjak Luna berkata kalau ia hamil, ada perkiraan yang muncul dalam benah Jidan . 'kalau saja waktu itu ia tidak dipenuhi hawa nafsu', 'kalau saja waktu itu ia memaksa akal sehatnya berjalan', 'kalau saja ia memaksa Luna untuk memakai pengaman', 'kalau saja.....' begitu seterusnya
Jidan menggeleng, membuka ponselnya lalu mencari-cari soal kehamilan di kolom pencaharian nya, apa saja yang tidak dan yang boleh dilakukan dan dimakan saat sedang hamil, sekarang kolom pencaharian di ponselnya sudah dipenuhi oleh beberapa hal tentang kehamilan, karena Jidan masih tabu untuk hal itu
"Pulang sekolah main hp terusss, mending temenin ibu yuk belanja", ucap Ibunda Jidan sambil tersenyum, ayahnya baru saja dinas keluar kota tadi pagi Padahal baru pulang latihan gabungan dua hari yang lalu
"Baru kok bu, ayok", Jidan bangkit lalu mengambil jaketnya, menghampiri ibunya yang sudah bersiap-siap untuk belanja keperluan rumah
Seperti biasa Jidan hanya bisa mengikuti ibunya sambil mendorong troli hingga hampir penuh, "Kamu ada keperluan lain gak Dan?"
Jidan terlihat berfikir, lalu mengangguk, "Aku ambil cemilan ya bu", sang ibu mengangguk
Jidan lalu pergi meninggalkan ibunya untuk melihat-lihat lorong yang terdapat rak cemilan, ia mengambil cemilan yang ia sukai lalu mencari ibunya, menjelajahi satu persatu lorong hingga matanya terpaku pada salah satu rak yang mengundang perhatiannya
Rak yang hanya terisi oleh beberapa produk susu ibu hamil yang didominasi warna pink terang dengan berbagai rasa, pikirannya seketika menerawang, 'Kira-kira kalau beli buat Luna, dia suka yang mana ya?'
Matanya masih menelisik beberapa produk, bibirnya tertarik ke atas tanpa sadar ia terkekeh pelan, membayangi perut Luna yang membesar persis seperti perempuan yang tergambar di kardus susu hamil itu,
"Jidan", Jidan menoleh, senyumannya luntur melihat Luna yang berjalan mendekatinya
"Lo... Mau beli susu hamil juga?", tanya Luna dengan wajah yang sumringah
Juga?
Berarti Luna memang berniat membelinya kan?
Alis Jidan terangkat, ia menggeleng pelan. "Mau liat-liat aja",
Luna mengangguk pelan, senyumannya luntur karena ekspetasinya sendiri. "Kirain gue lo mau beliin buat gue"
"Enggak kepikiran sampe mau beli sih, cuma tadi mikirin... Kira-kira, lu suka yang varian rasa apa?",
🐶
KAMU SEDANG MEMBACA
Duty (Park Jihoon)
Acak"Kenapa lo ga jujur kalo lo yang hamilin Luna, Jidan!. Kalo gini salahnya kan bang Yudis juga kena imbasnya", "Lo nyalahin gue? Terus kenapa Luna malah diem aja dan ga nyangkal kalo sepupu lo yang hamilin dia?", Katakanlah Jidan pecundang karena ti...
