duapuluhtiga

1.5K 72 1
                                        

Pukul tujuh pagi haechan sudah mandi dan kini ia berada didepan meja riasnya, memakai rangkaian skincare paginya dilanjut memakai make up yang tidak terlalu tebal.

Padahal ia tidak akan pergi kemana-mana, tapi entah kenapa pagi ini ia ingin sekali berdandan dan memakai baju bagus.

Mark menyenderkan badannya diambang pintu menatap istrinya itu yang sibuk dihadapan cermin, senyum dari bibir mark tak kunjung hilang. Sudah bermenit-menit ia memandang haechan tetap saja senyuman itu tetap berada disana.

"Kenapa senyum-senyum?!", tanya haechan yang tiba-tiba menyadari suaminya itu memandangnya sangat lama.

"Cantik", jawab mark singkat

Haechan menyipitkan matanya, "bohong"

Mark mendekat kearah haechan, ia berjongkok untuk menyetarakan dirinya dengan haechan yang duduk di kursi rias.

"Perihal kamu, aku nggak pernah bohong. Kamu cantik, dan akan selalu cantik"

Haechan mendorong pundak mark sampai mark hampir terjengkang.

"Ih adek liat nih daddy kamu gombal banget, kalo kamu cowo jangan kaya dia ya terus kalo kamu cewe perhatiin nih jangan mau kalo ada cowo yang kaya dia", ucap haechan yang menunduk menatap perutnya.

Haechan berdiri untuk mengambil hair dryer namun tangannya ditahan oleh mark, "kenapa?"

"Aku aja yang ambil, kamu duduk"

Haechan kembali duduk menunggu sang suami mengambil hair dryer yang ia butuhkan.

Setelah selesai dengan urusannya, haechan mengajak mark untuk pergi ke rumah taeyong karena haechan ingin sekali memakan sup buatan taeyong.

"Bubu lagi di butik, tadi ketemu aku waktu lari pagi"

"Yaudah ayo ke butik bubu aja"

selama perjalanan menuju butik taeyong, haechan sangat ceria. Aura kebahagiaannya bisa terlihat sangat jelas.

Haechan menoel-noel lengan suaminya pertanda ada sesuatu yang ia mau.

"Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Atau mual?"

"Ish nggak mual, aku pengin makan bubur deh"

"Mau? Boleh. Barangkali ada ya dijalan kta berhenti"

"Udah ada kok, aku tau dan udah liat"

"Dimana? Masih jauh?"

"Tadi", singkat padat dan ....

Mark menepikan mobilnya, "tadi gimana sayang?"

"Tadi aku udah liat ibu-ibu yang jualan bubur kita udah lewatin, tadi waktu aku noel kamu itu. Harusnya kamu tau dong tapi malah lanjut jalan"

"Kamu nggak bilang"

"Terus kamu nyalahin aku?!"

"Engga, aku puter balik ya"

"Jangan"

"Kok jangan, tadi katanya udah kelewat"

"Jalan aja kesananya, mobilnya tinggal disini"

"Jauh loh sayang"

"aku mau jalan"

"Kamu disini aja ya? Biar aku lari kesana"

"Nggak mau, mau ikut jalan"

Mark berusaha memberi pengertian kepada haechan, namun tau sendiri haechan seperti apa.

Akhirnya mark mengalah dari pada harus berantem gara-gara hal sepele ini, mengingat hubungannya baru saja membaik.

Disepanjang perjalanan haechan menyapa orang-orang yang berlalu lalang, lima belas menit berlalu kini haechan sudah berada ditempat ibu-ibu penjual bubur tersebut.

"Ibu, aku mau bubur yang ini"

"Boleh kakak cantik, sama apa lagi?", tanya penjual tersebut.

"Kamu mau yang mana?", haechan menanyakan suaminya yang sedari tadi mondar mandir melihat satu persatu panci berisi bubur tersebut.

"Yang ini aja", mark menunjuk salah satu dari bubur yang tersedia disana.

Mark menyuruh haechan untuk duduk dibangku yang disediakan disana karena ia takut kandungan haechan kenapa-kenapa mengingat tadi habis jalan jauh.

"Ih kamu nggak usah lebay deh, aku tuh cuma hamil bukan sakit parah"

"Kasian adeknya capek habis jalan jauh"

"Dia ada bentuknya aja belum mana bisa ngerasain capek, udah deh aku gamau duduk"

Akhirnya mark duduk sendiri namun kursinya dipindahkan ke samping haechan, baru saja mark duduk dua menit haechan sudah mengeluh cape dan ingin duduk.

"Mau duduk, cape"

Mark berdiri menyerahkan kursi tersebut untuk haechan duduki.

Setelah selesai dengan bubur pesanannya, mark dan haechan kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh.

💐

Taeyong sedikit terkejut mendapati anak dan menantunya tiba-tiba datang ke butik. Haechan langsung to the point ingin sekali memakan sup buatan mertuanya itu.

Taeyong sedikit heran kenapa tiba-tiba haechan ingin sampai-sampai ia datang ke butik hanya untuk menyampaikan hal itu saja.

"Menantu bubu lagi hamil lagi, doain ya bu biar selamat sampai lahir", jawab mark yang membuat taeyong teriak bahagia.

Berkali-kali ia jatuhkan ciuman itu ke pipi haechan dan tangannya yang mengelus-ngelus perut haechan.

"Pasti bubu doain buat cucu pertama bubu"

Haechan memandang mark begitu juga sebaliknya. "kedua bu, yang pertama kan ada anaknya jeno", ucap mark.

"Bubu lagi nggak mau bahas itu, yang perlu dibahas itu gimana nanti supaya kandungan diperut istri kamu lahir selamat", jawab taeyong kepada mark dan hanya dijawab anggukan oleh mark.

"Kamu nanti lebih hati-hati ya sayang jangan sampai lalai lagi, bubu nggak nyalahin kamu cuma ngasih tau aja. Jangan salah paham ya"

Haechan tersenyum, "iya bu engga kok, yang dulu bakal aku jadiin pelajaran. Aku juga udah niatin ke diri aku buat nggak ambil job model dulu tapi kalu ada endorse tetep aku terima"

"Kamu mau makan supnya kapan?"

"Sebisanya bubu aja, kalau hari ini nggak bisa besok juga nggak papa bu"

"Bubu bisa kok, sekarang juga bisa. Bubu bikin sekarang ya?"

"Loh bubu katanya ada kerjaan, masa pulang sekarang?", tanya mark pasalnya sang ibu menyanggupi jika membuatkan haechan sup sekarang juga.

"Siapa bilang bubu pulang? Disini ada dapur, masak disini aja"

Mark heran, "Sejak kapan ada dapur?"

"Kamu sih nggak pernah kesini, butik bubu kan udah diperbesar lagi. Kamar tidur juga ada, kalau bubu kabur ya kabur kesini dari pada ke hotel bayar"

"Sayang, kamu tidur aja. Nanti kalau udah jadi sup nya aku bangunin", mark menyuruh hechan untuk tidur karena ia sedari tadi melihat haechan terus menguap. Ini karena haechan bangun sangat pagi dari hari-hari biasanya.

"Masuk aja ke ruangan bubu, dipojok kanan ada pintu itu kamarnya. Mark sana anterin, bubu masak dulu"

Mark mengantarkan haechan untuk beristirahat sedangkan taeyong meminta tolong asistennya untuk membeli beberapa bahan yang ia gunakan untuk membuat sup.

Tidak perlu menunggu waktu yang lama haechan sudah terlelap dengan tangannya yang dipijit oleh mark. Sebelum tidur haechan meminta tangannya dipijit karena pegal.

Mark mengelus perut haechan yang masih sangat rata itu, dalam diam ia berharap anaknya bisa sehat dan selamat sampai ke dunia.




________________________

Halo semuaa!! Aku minta dukungannya kalian yaa, terimakasih yang udah mau baca!💗💐

_

 A Greater Love || MARKHYUCK (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang