duapuluhlima

1.5K 67 1
                                        

Haechan pergi ke sebuah cafe karena ia sangat ingin memakan cake coklat, ia duduk sendirian disalah satu meja paling ujung.

"Permisi kak, kakaknya sendirian?", tanya seorang wanita kepada haechan.

"Iya kak, sendirian"

"Boleh gabung ngga kak? Tempatnya penuh"

"Boleh, silahkan kak", haechan mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk satu meja dengannya.

Haechan dengan sesekali melirik kearah wajah wanita tersebut, ia seperti merasa wanita itu habis menangis.

"Kak, maaf kamu habis nangis ya?"

"Ah kelihatan ya? Iya kak"

"Loh kenapa? Ada masalah ya"

"Sebenernya sepele sih kak tapi sedikit buat sakit aja.."

"Maaf, memangnya ada apa?"

"Saya nikah muda terus langsung dikasih anak, setelah anak aku lahir suami jadi lebih perhatian ke anak. aku selalu dicuekin, suami aku selalu menomor satukan anak tapi aku istrinya engga.."

Haechan mendengar cerita tadi wanita itu menjadi sedikit takut, apa nanti mark akan seperti itu kalau anaknya sudah lahir?

Dari cafe itu haechan yang awalnya ingin langsung pulang jadi mengurungkan niatnya dan pergi ke kantor mark.

Langkah demi langkah ia lalui sampai kini berada didepan pintu ruangan suaminya itu, ada rasa ragu disana untuk menyentuh gagang pintu itu sampai akhirnya pintu itu dibuka dari dalam oleh mark.

"Loh sayang kamu kesini nggak bilang"

Haechan hanya menatap mark dengan ekspresi sedihnya.

"Ada apa sayang?"

"Kamu mau kemana?"

"Ke ruangan jeno sebentar mau ambil berkas"

"Yaudah sana ke jeno dulu"

"Kamu masuk aja ya tunggu didalam, tiduran di sofa dulu aja"

"Iya nanti, udah sana pergi dulu ada yang mau aku omongin soalnya"

Mark berjalan ke ruangan jeno sedangkan haechan masuk kedalam ruangan milik suaminya itu. Didalam sana haechan gelisah, ia takut tapi tidak tau apa yang akan dilakukan.

"Abang mau nggak ya..", kalimat itu selalu keluar dari mulut dan pikiran haechan.

Mark masuk kedalam ruangannya dan haechan langsung salah tingkah. Jantungnya sungguh berdebar lebih kencang dari sebelumnya.

Mark duduk disamping haechan mengelus kepala istrinya itu, "kamu mau ngomong apa?"

"Mark, aku ngga mau punya anak"

"Maksudnya gimana?"

"Aku nggak mau punya anak mark, ayo adeknya ilangin lagi aja", haechan mulai menangis.

Mark bingung kenapa tiba-tiba haechan seperti ini.

"Kenapa? Bisa jelasin pelan-pelan?"

Haechan menceritakan semua kepada mark tentang ucapan wanita yang tadi di cafe.

Mark hanya bisa menggeleng dan sedikit tertawa, "mana mungkin aku kaya gitu sayang, dibandingkan dengan siapapun kamu tetep nomor satu buat aku"

"Nggak, kamu bohong. Itu cuma kalimat penenang, ayo abang ke dokter please", haechan terus menangis.

Mark sudah tau kalau haechan itu orang yang gampang memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, haechan memang sering sekali takut sama hal yang bahkan ia menjalani saja belum.

 A Greater Love || MARKHYUCK (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang