empatpuluhdua

1K 47 1
                                        

Keesokan harinya haechan benar-benar mengantarkan chenle mendaftar di suatu perguruan tinggi tempat jisung kuliah juga.

"Adek pulang sama kakak mau nggak? Mommy lupa ngasih tau adek hari ini mommy ada acara sama temen-temen mommy. Atau adek mau ikut mommy?"

"Ih mommy kenapa nggak bilang dari semalem, tau gitu nggak usah daftar hari ini. aku mau pulang sama mommy, tapi nggak mau ikut mommy ke acara ibu-ibu", chenle sedikit kesal.

"Maafin mommy ya sayang mommy bener-bener lupa,  yaudah deh mommy nggak jadi pergi. Kita pulang sekarang yuk! Jie kamu kesini naik apa tadi? Mau bareng sekalian aja sama mommy??"

"Aku kesini naik motor mommy, mommy pergi aja nanti chenle pulang sama aku"

Chenle menatap jisung kesal, "ih nggak mau! Aku mau pulang sama mommy"

"Mommy kamu kan ada acara, lagi pula acaranya juga nggak setiap hari kok. Masa kamu tega ngebatalin acara mommy kamu"

"Yaudah sana mommy pergi aja, adek pulang jalan kaki"

"Jauh loh dek, nggak papa kok mommy nggak jadi ngumpul. Ayo naik ke mobil, panas loh ini"

Chenle benar-benar kesal, dia tidak menjawab dan pergi begitu saja meninggalkan haechan dan jisung.

"Chenle!!", haechan teriak memanggilnya namun nama yang dipanggil tetap berjalan lurus kedepan.

"Mommy pergi aja, chenle sama jie aman kok"

"Yaudah mommy nitip chenle ya, hati-hati nanti bawa motornya jangan ngebut"

"Iya siap mommy"

Jisung mengejar chenle yang sudah lumayan jauh, beberapa kali ia membunyikan klakson namun chenle tidak menoleh sedikitpun sampai akhirnya jisung membelokan motornya ke kiri dan berhenti tepat dihadapan chenle.

"Ayo naik, pulang sama aku"

"Nggak mau, aku mau jalan"

"Jauh loh, panas juga"

"Kamu itu siapa sih kak? Kenapa sok akrab banget, aku nggak kenal kamu ya kak jadi jangan seolah-olah kamu itu kenal aku banget!"

Chenle tidak memperdulikan jisung, dia tetap berjalan meski sebenarnya dia tidak tau arah jalan pulang. Jisung tetap mengikuti chenle dari belakang meski chenle tau dia merasa bodoamat dan melanjutkan perjalanannya.

Chenle sampai di pertigaan, dia tidak tau arah rumahnya harus melewati jalan yang mana. Dengan sok taunya dia, dia memilih belok kiri padahal untuk menuju rumahnya dia seharusnya lurus saja.

"Chenle, harusnya lurus kita bukan belok kiri"

"Ck, diem deh. Sana kamu lurus sendiri"

Puluhan chenle berjalan ia tidak merasa lelah sedikitpun, karena rasa kesalnya lebih besar dari rasa capek berjalan.

"Tuh kan mentok ke sawah-sawah, mau jalan kemana lagi le?"

Jalan yang chenle pilih membawanya ke daerah persawahan dan tidak ada jalan lagi.

"Balik lagi lah nyoba jalan lain", jawab chenle enteng.

"Sini naik, apa nggak cape kamu?"

"Nggak mau dan nggak cape"

"Nanti aku turunin lagi di pertigaan sana, ayo naik dulu"

"Jangan bawel deh, aku nggak suka!"

Awan siang yang awalnya panas menyengat itu perlahan meredupkan cahanyanya, langit terbilang cukup mendung dan perlahan tetesan air hujan turun.

 A Greater Love || MARKHYUCK (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang