19. Chip 🔞

1.4K 78 23
                                        

"Apa ini?" kata Nunew, meraba bagian belakang telinganya.

"Itu chip transparan, hanya digunakan dalam keadaan darurat. Chip itu bisa menunjukkan keberadaanmu di mana saja dan musuh tidak akan menyadarinya. Jadi jangan sampai kau melepasnya. Chip itu akan melekat di kulit tanpa terlihat. Dengan chip itu aku juga bisa mendengar siapa saja yang berada di dekatmu. Ini untuk jaga-jaga saja kalau CIA menangkapmu, karena kita tidak tahu kapan mereka akan menjalani aksinya," sahut Zee.

Beberapa hari ini Nunew memang tak henti-hentinya berlatih. Setiap hari dia akan pergi ke perusahaan dan berlatih dengan Floe atau Rise. Saat di rumah, dia juga berlatih dengan Moon maupun Zee. Hanya saja kalau dengan Zee, hasil akhirnya akan berbeda. Ranjang selalu menjadi kisah akhir latihan mereka.

Nunew menghela napas panjang. Dia pikir, sekeras apapun latihannya, dia tidak akan bisa menyamai kekuatan para vampir. Dibanding dengan agen-agen CIA yang sudah mendapat pelatihan bertahun-tahun dan dirinya yang cuma beberapa hari, kekuatannya bukan apa-apa. Persamaan dirinya dan CIA hanya dari spesies mereka yang sama-sama manusia. CIA memang punya pengaturan sendiri untuk rekrutannya. Semua yang berada dalam perusahaan itu seratus persen manusia. Mungkin kalau dia masih menjadi manusia naif seperti sebelumnya yang sangat membenci vampir, mungkin dia tidak akan berpikir panjang untuk mendaftar sebagai rekrutmen di sana.

"Apa kau yakin akan benar-benar menemukanku melalui chip ini?" tukas Nunew dengan suara lirih. Tangannya masih meraba-raba chip yang sudah tidak terasa di belakang telinganya.

"Ayo kita coba!" ajak Zee seraya menghilangkan furnitur kamarnya dan hanya meninggalkan sofa dan meja. Lampunya disetel temaram. "Kau bisa pergi ke kamar mandi, aku akan  di sini  merekam suaramu dan menandai tempatmu."

Nunew menurut. 

Daripada duduk di dudukan toilet, Nunew memilih merebahkan tubuhnya di bak mandi. Setelah terasa nyaman, dia mulai berbicara. "Apa kau mendengarku?" tanya Nunew. Tak lama kemudian, Zee mengirim pesan menandakan suaranya terdengar jelas. "Aku tidak tahu apakah dengan cara ini akan berhasil untuk CIA. Aku hanya ingin kau tau, setelah ini selesai, aku ingin pergi liburan denganmu. Bukannya aku seratus persen yakin kau bisa menyelamatkanku, hanya saja siapa yang tahu tentang masa depan. Sehebat-hebatnya kau, aku yakin cenayang bukan keahlianmu. Namun, bila aku tidak selamat, aku ingin kau merelakanku. Atau... bila aku terluka parah, sejujurnya aku tidak ingin kau mengubahku. Selain aku takut proses transisinya gagal, aku masih belum siap untuk jadi vampir. Tapi daripada mati, aku lebih suka menjadi vampir dan bisa bersamamu." Tetesan air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata Nunew. "Ya ampun, aku bicara apa, sih?" dekut Nunew lirih sambil mengusap pipinya. "Pokoknya, jangan biarkan aku mati. Kalau aku mati, aku akan menghantuimu."

Zee yang mendengar suara Nunew ditambah dengan tangisannya tak kuasa menahan emosi. Sebenarnya dia juga ingin menangis, tapi tangisnya seketika kembali setelah mendengar kalimat terakhir Nunew.

Setelah tidak mendengar apa-apa dari Nunew, Zee pergi ke kamar mandi dan melihat Nunew menangis dalam diam sambil meringkuk di bak mandi. Dia baru sadar kekasihnya sekecil itu. Zee akhirnya ikut duduk dalam bak mandi dan memangku Nunew. "Kau tidak akan mati. Kan sudah kubilang, kalau kau mati aku akan bunuh diri," asalnya.

"Berhenti bercanda!" sungut Nunew seraya memukul dada Zee.

Zee membantu menghapus pipi basah Nunew dan mengeratkan pelukannya. "Apakah kau yakin aku boleh mengubahmu menjadi vampir?"

Nunew menggeleng. "Aku tidak mau. Tapi kau harus janji itu jalan terakhir. Kalau aku masih bisa ditolong dengan pengobatan manusia, kau harus melakukannya dengan cara itu."

"Aku janji."

"Aku tidak takut mati, aku hanya takut tidak bisa melihatmu lagi."

"Itu tidak akan terjadi," kata Zee mengecup dahi Nunew lembut.

Bite MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang