Nunew menatap takjub pada pemandangan di hadapannya. Perkebunan nan asri membentang luas saat Zee dan Nunew mendarat di tempat Zee dilahirkan. Karena sudah hampir panen, harum buah matang mengudara di sekitar mereka.
"Apakah ini semua milik keluargamu?" tanya Nunew setelah keluar dari mobil melihat-lihat sekitar mereka.
"Bisa dibilang begitu. Tapi hampir 90 % yang bekerja di sini adalah manusia. Di rumah kami juga hanya ada sedikit sekali vampir. Jadi orang tuaku memang berteman dekat dengan orang-orang sekitar. Ayo, kau pasti lelah karena perjalanan panjang. Kita akan punya waktu untuk berjalan-jalan di sekitar sini," sahut Zee.
Mereka kembali berkendara menuju rumah utama. Nunew gugup bukan main. Dia menyuruh Zee untuk berhenti di pinggir jalan sebelum masuk ke area rumahnya dengan alasan ingin menghirup udara segar, padahal dia hanya ingin menenangkan diri sebelum bertemu dengan orang tua Zee. Nunew takut dia tidak diterima dan mereka akan kecewa pada Zee karena bukannya membawa wanita malah membawa vampir laki-laki mungil.
Zee pasti bisa menebak alur pikiran Nunew. Dia merangkul Nunew dan mengecup keningnya. "Orang tuaku tidak menakutkan. Kau tenang saja," jelas Zee mencoba menenangkan Nunew.
"Bagaimana kalau mereka kecewa padamu karena membawaku?"
"Aku sudah memberitahu mereka tentangmu. Jadi kau bisa tenang. Apalagi kita ini vampir, memangnya kalau aku berpasangan dengan wanita, mereka akan mengharapkan cucu? Tidak juga, kan?"
Benar juga, kata Nunew dalam hati sambil mengangguk.
Saat sebuah kastil menjulang tinggi tampak oleh mereka, Nunew hanya bisa menganga takjub. Matanya tak lepas dari kastil itu. Sayangnya, dia langsung berbalik pada Zee karena tampaknya Zee tidak mengambil jalan ke arah kastil.
"Bukankan kita akan ke sana?" Nunew menunjuk kastil dengan danau jernih di depannya.
"Tidak. Kastil itu memang milik keluargaku, tapi sejak 200 tahun lalu, kastil itu tidak lagi ditempati. Baru beberapa tahun lalu kastil itu dibuka untuk umum sebagai tempat wisata. Orang tuaku merasa hidup di kastil hanya berdua sedikit kurang nyaman. Jadi mereka membangun rumah yang lebih kecil dan bisa ditempati beberapa pekerja."
"Sayang sekali," dekut Nunew sedih. "Padahal aku ingin melakukan seks di sana."
Ciiiiitttttttttttttttt
Decitan mobil yang mengerem mendadak dan tubuh mereka terlontar ke depan membuat Nunew kesal sambil melototi Zee.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Zee seraya ikut membelalak menatap Nunew.
"Melakukan seks di sana," katanya sambil menatap Zee polos.
"Wah... sejak kapan kau berubah mesum begini?" sahutnya seraya menjalankan mobilnya kembali.
"Entahlah. Sejak berubah menjadi vampir otakku berubah menjadi agar-agar setiap memikirkan seks. Apakah ini normal untuk ukuran vampir?"
Zee terbahak-bahak, tak kuasa menahan diri dengan perkataan kekasihnya. "Sepertinya saat menjadi manusia, kau menekan keinginanmu akan seks," goda Zee, "makanya saat berubah menjadi vampir hormonmu lepas kendali."
Nunew memukul lengan Zee. "Mungkin kau benar. Saat menjadi manusia aku selalu ketakutan karena setiap bercinta aku akan kesakitan, begitupun setelahnya," sindir Nunew seraya melirik Zee kesal. "Sekarang pun masih sakit sih," Nunew menyentuh bagian belakangnya, "tapi sejak menjadi vampir, aku bisa pulih dengan cepat setelah bercinta."
"Ah, pantas saja seks terakhir kita sangat membara. Aku sampai dikurung seharian di kamar untuk memuaskanmu." Zee mengelus paha Nunew sambil membelokkan mobil di depan rumah bergaya abad pertengahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bite Me
FanfictionMenjadi vampir kalangan atas tidak menjadikan Zee bebas dari tuduhan. Misalnya kasus penculikan manusia baru-baru ini. Penyelidikan awal mengarah pada perusahannya. Zee, sebagai pemilik perusahaan sontak menjadi tersangka utama. Tuduhan itu berawal...
