Chapter 18

669 45 3
                                    

Teddy segera ke arah belakang mencari Nata dan ternyataa..............
Nata sedang duduk di taman belakang sembari meringkuk sedih disana

"Bodoh lo Nat! lo bodoh banget! sebodoh ini sampe harus berharap lebih sama orang, lo tahu kan? risikonya sebesar itu, dulu sama yang udah digapai aja kalah dan lebih milih masa lalunya" ucap Nata
"Apalagi yang ini, tentu lah dari perbedaan aja udah sejauh itu, ya jelas lah sana lebih milih itu" ucap Nata
"Yang sana aja dah cantik, pendidikannya udah oke, baik, dewasa, tentunya bervalue tinggi, Ingat lo disini kerja! bukannya jatuh cinta."lanjut Nata sembari berkaca-kaca
"Ingat! Seorang Renata tidak akan bisa menggapai seseorang sekelas Teddy Indra Wijaya, maka dari itu ayo menyerah dan mengalah saja. Tidak apa-apa jika itu yang terbaik, mengapa tidak?" ucap Nata

Nata terus-menerus menyadarkan dirinya karena ia merasa tak pantas menyukai atasannya itu.

Tidak lama, muncul suara yang menandakan Nata di taman tidak sendiri
"Lantas mengapa kamu mengalah, Renata?" ucap laki-laki tersebut

Nata melihat ke belakang ternyata ada Teddy yang keberadaannya sudah disana dan mendengarkan perkataan bodoh Nata, Dengan sontak Nata menghapus air mata nya lalu bangkit dari tempat duduknya dan berusaha menghindari namun gagal karena Teddy menghalangi jalannya

"Bapak bisa minggir tidak? Saya mau ke kamar" ucap Nata
"Jelasin dulu kamu ngapain disini? ada acara nangis juga" ucap Teddy
"Nangis? Tidak kok, saya aman tidak ada apa-apa" ucap Nata berusaha meyakinkan Teddy
"Renata, lihat saya sebentar" ucap Teddy dengan lembut

Nata mencoba memalingkan wajah nya namun Teddy dengan reflek memegang tangan Nata dan menatapnya sangat dalam

"Saya mohon ini dilepas" ucap Nata
"Cerita sama saya dulu, Nat" ucap Teddy
"Tidak, biarkan saya simpan sendiri, makasih sudah menawarkan diri untuk menyuruh saya bercerita tapi maaf saya tidak bisa bercerita" ucap Nata melepas genggaman tangan Teddy

Nata berhasil mengalihkan pandangan dari Teddy lalu masuk kekamar dan menutup pintunya
"Aneh haha" ucap Nata membodohkan dirinya sendiri

Nata kembali menangis dibalik bantal yang ia tiduri, Teddy kembali menghampiri Nata dikamarnya
"Dia nangis?" batin Teddy

Tanpa berpikir panjang Teddy lancang masuk kedalam untuk memastikan keadaan Nata dan tetap saja ia menangis disana, Teddy hanya bisa tersenyum melihat Nata meringkuk dibalik selimut itu
"Hei? Sini tangan aku obatin dulu" ucap Teddy angkat bicara

Nata dibalik selimut terkaget dan heran sosok suara itu adalah siapa, ia mencoba memberanikan diri untuk melihatnya

Sosok itu adalah Teddy

Nata hanya bisa menghela nafas saja
"Huftt, ngapain kesini lagi sih?" ucap Nata

Teddy hanya bisa tersenyum
"Tidak usah senyum gitu deh Pak, emang ada perlu apa lagi?" ucap Nata
"Oh ini obat buat tangan kamu, saya lihat tangan kiri kamu terluka karena pecahan kaca itu" ucap Teddy
"Taruh meja saja Pak, nanti saya obatin sendiri" ucap Nata
"Kalau bisa sekarang ngapain dilakuin nanti" ucap Teddy
"Nungguin Bapak pergi dari sini" ucap Nata
"Izinkan saya untuk mengobati tangan kamu ya" ucap Teddy
"Tidak usah mending Bapak pergi saya bisa sendiri" ucap Nata

Tanpa basa-basi Teddy mengambil kotak obat di meja sebelah tempat tidur Nata
"Sini saya obati" ucap Teddy

Nata hanya bisa pasrah dan melamun melihat sikap Teddy yang seperti itu
"Nat? kamu sakit?" ucap Teddy
"Ehh iya? Tidak saya baik-baik saja" ucap Nata
"Masa iya? Cerita aja jangan sampai kamu kepikiran" ucap Teddy
"Aman kok nggak papa" ucap Nata

Disisi lain Nata merasa sedih hingga tak sadar jika air matanya terjatuh

"Kamu nangis? Sakit ya? Tahan sedikit lagi selesai" ucap Teddy

Saat itulah Nata semakin terisak disaat Teddy bertanya tentang kondisinya
"Udah udah, tidak usah nangis ini dah selesai kok, Nat" ucap Teddy

Nata mengangguk iya
"M-maaf" ucap Nata terisak sembari menundukkan kepala
"Buat?" ucap Teddy
"Tidak papa, hanya ingin maaf" ucap Nata

Teddy mengelus kepala Nata
"Saya sudah tahu apa yang terjadi" ucap Teddy

Nata hanya menunduk diam
"Udah udah jangan nangis lagi" ucap Teddy menghapus air mata sembari memeluk Nata
*DEGHH

Nata merasa nyaman disaat di dekapan Teddy
"Kenapa harus menganggap bodoh diri kamu sendiri? Itu nggak baik" ucap Teddy
"Saya bicara fakta" ucap Nata
"Sekarang kamu mau apa?" tanya Teddy

Nata menggelengkan kepala
"Renata?" ucap Teddy

Awalnya Nata menghiraukan panggilan Teddy dengan memeluk erat kembali
"Izinkan saya untuk lebih serius dengan kamu, Renata" ucap Teddy

Sontak Nata terkaget lalu melepas pelukan itu dengan cepat dan menatap Teddy kembali
Dann............



























Cieeeee nungguin nih? Tinggalkan jejak dong bebss ku tercinta 🫶
Makasih ya! See you 😊

Love Me, Major.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang