16. Jejak yang Menghilang

7.7K 404 10
                                        

selamat membaca semua dan semoga suka❤️

FOLLOW DULU BOSSS!

RAMEIN KOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥

JANGAN LUPA VOTE🔥

───

HAPPY READING

───

16. Jejak yang Menghilang

•••

Malam itu terasa sunyi di rumah sakit. Hanya terdengar suara langkah kaki suster yang samar dari kejauhan dan dengung lembut mesin medis yang terus bekerja. Cahaya lampu neon yang redup memantul di lantai keramik dingin, menciptakan suasana muram yang seolah menelan waktu. Di luar jendela, rintik-rintik hujan turun perlahan, membasahi jendela yang dingin. Menambah kesan sendu pada malam yang terasa begitu panjang.

Pemandangan pertama kali yang di lihat Rana ketika membuka matanya adalah ruangan bercat putih dengan aroma antiseptik yang menyengat hidungnya. Cahaya lampu di atas tempat tidurnya tampak berpendar redup, membuat suasana semakin terasa asing dan menekan. Tubuhnya lemas, seolah semua tenaganya telah di sedot habis. Ia melirik tangannya dan mendapati jarum infus tertancap di pergelangan tangan yang dingin.

Rasa ngilu menjalar perlahan, namun tidak sebanding dengan kepedihan yang bersarang di dadanya.

Rana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Matanya berhenti pada sosok Camilla yang sedang tidur di kursi samping ranjang, wajahnya tampak lelah dan pucat. Meskipun sedang tidur, tangannya masih erat menggenggam tangan Rana, seolah tidak ingin melepaskannya walaupun hanya sebentar. Genggaman itu terasa hangat, membawa sedikit rasa tenang di tengah segala ketidakpastian yang melingkupi benaknya.

Gerakan kecil dari Rana membuat Camilla terusik dalam tidurnya. Matanya yang masih di penuhi rasa kantuk terbuka perlahan, namun begitu melihat putrinya yang terjaga, sorot matanya langsung berubah menjadi lega bercampur haru.

"Rana? Sayang... kamu sudah sadar?" suara Camilla bergetar, di penuhi rasa syukur yang mendalam.

Rana tersenyum lemah meskipun bibirnya terasa kering. "Bunda..." panggil Rana lirih dengan suara serak yang hampir tidak terdengar.

"Ya Tuhan.. syukurlah kamu sudah sadar," Camilla mengusap lembut rambut Rana, meskipun dia terkejut mendapati rambut putrinya yang kini pendek dan acak-acakan. Namun, perasaan lega telah menutupi segala pertanyaan yang membayang di pikirannya.

Bayangan siang tadi masih jelas di ingatan Camilla. Panggilan dari pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa Rana di temukan pingsan di sekolah dan di larikan ke rumah sakit membuat dunianya seakan runtuh. Tanpa pikir panjang, Camilla segera meninggalkan butik, memacu mobil menuju rumah sakit sambil gemetar ketakutan.

Dalam perjalanan, ia menghubungi Elvano, berharap sang suami bisa segera pulang. Namun, tugas kerja yang mendesak membuat Elvano baru bisa kembali keesokan paginya, meninggalkan Camilla seorang diri untuk menjaga putri mereka.

Rana menggelengkan kepala pelan, mencoba mengusir rasa pusing yang masih menggelayut di benaknya. "Haus... mau minum," bisiknya pelan.

Camilla segera bangkit, menuangkan segelas air putih dari teko di meja samping dan membantunya minum dengan hati-hati. "Bunda panggilin dokter dulu, ya," kata Camilla sambil menaruh gelas kembali ke meja.

THE SIXTH [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang