23. Terjebak Dalam Ilusi

7K 352 31
                                        

selamat membaca semua dan semoga suka❤️

FOLLOW DULU BOSSS!

RAMEIN KOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥

JANGAN LUPA VOTE🔥

───

HAPPY READING

───

23. Terjebak Dalam Ilusi

•••

Koridor rumah sakit terasa seakan menyesakkan di setiap langkahnya. Hawa antiseptik menusuk hidung, dan suara langkah kaki perawat yang berlalu-lalang membuat pikirannya semakin kacau. Namun, Pramariz terus berjalan cepat, menjauh dari keramaian. Setiap langkahnya seperti membawa beban berat yang tidak kasatmata. Dia tahu, semakin lama ia berada di rumah sakit ini, semakin sulit baginya untuk menyembunyikan kegelisahannya.

Setelah melewati pintu kaca menuju taman belakang, Pramariz berhenti sejenak. Mata tajamnya menyapu ke sekeliling. Taman itu sepi, hanya di hiasi suara samar burung yang pulang ke sarang dan desiran angin yang menggoyangkan dedaunan. Langit sore mulai berubah berwarna jingga, memberikan kesan damai yang kontras dengan gejolak di dalam dadanya.

Pramariz melangkah ke bangku besi yang terletak di bawah pohon besar dan merebahkan bokongnya dengan punggung yang sedikit membungkuk. Napasnya berat, dadanya terasa sesak. Pramariz mengedarkan pandangannya sekali lagi, memastikan tak ada yang mengikutinya.

Pramariz merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Jemari yang biasanya kokoh tampak sedikit gemetar ketika menekan angka-angka di layar. Dering pertama terdengar di indera pendengarannya. Pramariz menelan ludah, jantungnya berdebar lebih cepat. Dalam hatinya, ia tahu bahwa percakapan ini akan membuka kembali luka lama yang selama bertahun-tahun ia coba sembunyikan.

Dering kedua. Ketiga.

Akhirnya, suara berat di seberang menjawab.

"Ada apa, Bos?"

Pramariz langsung berbicara tanpa basa-basi. Suaranya dingin, namun setiap katanya mengandung tekanan emosional yang tersembunyi. "Saya butuh kamu cari informasi tentang seorang perempuan. Namanya Rana. Dia seumuran dengan Raja dan Ratu, dan bersekolah di tempat yang sama. Saya ingin semua data tentang dia. Siapa dia, darimana asalnya, siapa orang tuanya. Semuanya."

Suara di seberang terdengar ragu.

"Rana? Apa ada sesuatu yang khusus soal dia, Bos? Maksud saya, kenapa—"

"Kamu nggak perlu tahu alasannya!" bentak Pramariz dengan nada yang lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia menarik napas berusaha mencoba mengendalikan diri, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah tapi tetap tegas. "Kamu cukup lakukan apa yang saya minta. Saya butuh informasi itu secepat mungkin. Lapor langsung ke kantor begitu kamu selesai. Ngerti?"

"Baik, Bos. Saya akan segera urus."

Tanpa menunggu respon yang lebih lanjut, Pramariz menutup telepon terlebih dahulu dan memasukkan ponsel ke dalam kantong celana. Ia memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan pikirannya yang semakin kacau.

Pramariz membiarkan tubuhnya itu tenggelam dalam kesunyian taman yang hanya di iringi suara angin sore dan gemerisik daun. Tapi, pikiran di kepalanya bagaikan badai, berputar tanpa henti, membawa nama Rana. Nama yang mendadak muncul dari masa lalu, seperti hantu yang enggan pergi.

THE SIXTH [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang