30. Darah dan Janji

6.9K 298 17
                                        

selamat membaca semua dan semoga suka❤️

FOLLOW DULU BOSSS!

RAMEIN KOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥

JANGAN LUPA VOTE🔥

───

HAPPY READING

───

30. Darah dan Janji

•••

Ivory mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda, yang tidak terucapkan antara Rana dan Samudera, seperti bayangan yang selalu mengintai pada setiap langkah mereka. Setiap lelaki itu mendekat, ada perubahan yang aneh dalam sikap Rana. Mata gadis itu sering menghindar dan dia selalu menemukan alasan untuk membawa Ivory bersamanya, seolah itu mampu menghalau kehadiran Samudera yang terasa semakin mendesak.

Ivory terjebak dalam kebingungannya sendiri, menahan rasa penasarannya yang semakin membara. Apakah itu hanya perasaannya saja? Tapi, kenapa Rana selalu menghindari Samudera, padahal keduanya begitu dekat? Hati Ivory di hantui oleh ketidakpastian.

"Na!" Panggilan Ivory menghentikan langkah mereka. Dia menggenggam lengan Rana dengan kuat, memaksa gadis itu untuk berhenti. "Sebenernya lo kenapa sih sama Samudera?"

Tubuh Rana menegang. Sesaat gadis itu menghembuskan napas. Perlahan, dia berbalik, menatap Ivory dengan senyuman tipis di wajahnya. Namun, senyuman itu lebih seperti topeng untuk menutupi sesuatu. "Gue sama Samudera baik-baik aja, Iv."

Ivory tampak tidak percaya dengan jawaban itu, menatap tajam, "Kalau kalian baik-baik aja, lo nggak bakal ngindarin dia, Na," ujar Ivory sambil menyilangkan tangan di dada.

Rana menatap Ivory beberapa detik, lalu tertawa kecil yang di paksakan. "Gue nggak menghindar dari dia, Iv. Lo tau sendiri, Samudera itu ngeselin banget. Gue lagi pengen tenang. Udah itu aja," jawab Rana defensif.

Ivory mendekat, matanya menyipit tajam, seolah berusaha menembus dinding yang di bangun oleh Rana. "Masalahnya udah hampir seminggu, Na. Lo pikir gue nggak nyadar? Pasti terjadi sesuatu di antara kalian 'kan?" tanya Ivory tajam.

Rana mengalihkan pandangannya ke arah lain, seakan mencari pelarian. "Nggak ada apa-apa, Iv," jawab gadis itu lemah, hampir seperti menyerah.

Ivory melunak, lalu menarik napas panjang. "Na, gue temen lo. Kalau ada sesuatu yang terjadi, cerita aja ke gue. Gue cuma pengen bantu lo."

"Iv," panggilnya pelan, tetapi dengan penuh penekanan. "Masalah gue sama Samudera itu nggak penting. Lo nggak perlu ikut campur."

Ivory terhenyak oleh jawaban gadis itu. Ada rasa perih yang menyelinap di hatinya. "Jadi, lo beneran nggak mau cerita?" tanyanya sekali lagi, kali ini dengan suara yang lebih lembut.

THE SIXTH [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang