#THE SIXTH SERIES BOOK 1
Kisah ini menceritakan tentang murid-murid genius yang memiliki privilege di sekolah :
1. Sadewa Bagaskara, peringkat pertama. Sang pemilik nilai sempurna. Dingin, tidak tersentuh, misterius dan jenius. Jangan meragukan IQ s...
RAMEINKOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥
JANGAN LUPA VOTE🔥
───
HAPPY READING
───
26.Sisi Gelap
•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Studio musik Glora memiliki rooftop, tempat yang sering menjadi pelarian di tengah padatnya ibukota. Cahaya lampu di pinggir jalan warna-warni, papan iklan elektronik, dan lampu gedung-gedung menembus kegelapan, memantulkan kilauan yang terlihat memukau. Langit malam gelap tanpa bintang, hanya diterangi bulan pucat yang tampak samar di balik awan.
Di tepi rooftop, dua laki-laki berdiri bersebelahan. Tangan mereka yang bertumpu pada palang besi setinggi dada, tatapan mereka mengarah ke jalan raya di bawah. Kendaraan melaju cepat, lampu-lampu depan dan belakangnya seperti garis-garis cahaya yang membelah malam. Di trotoar, orang-orang berjalan dengan ritme berbeda. Ada yang melangkah santai, ada pula yang terburu-buru, hanyut dalam dunia mereka sendiri.
Angin malam berhembus, membawa suara kota yang samar. Gemuruh dari kendaraan, dengung mesin, beserta langkah kaki yang sesekali terdengar dari ketinggian. Namun di antaranya, keheningan yang lebih terasa nyata, menggantung di udara seperti sesuatu yang enggan di ucapkan.
"Gue suka Rana," ungkap Samudera tiba-tiba. Kata-kata tersebut memecah keheningan, menghantam seperti gelombang yang menghantam karang. Pandangannya tetap lurus ke depan, memandangi jalan raya yang sibuk di bawah, seolah takut kenyataan akan berubah jika ia menoleh ke sebelah.
Raja tetap diam. Tatapannya tertuju pada lampu-lampu kendaraan dari kejauhan, tapi pikirannya jauh dari sana. Meskipun tidak ada reaksi yang terlihat, ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini mengalir. Telinganya menangkap setiap kata Samudera yang lebih tajam, seolah ini adalah sesuatu yang tidak boleh di lewatkan.
"Gue nggak apa-apa kalau Rana nggak bisa suka balik ke gue. Gue juga bisa terima kalau dia milih cowok lain," Suara Samudera nadanya lebih pelan, hampir seperti gumaman yang penuh dengan beban. "Tapi, kenapa harus lo orangnya yang cuma mainin dia?"
Perkataan Samudera menghantam Raja seperti pukulan yang tidak dia antisipasi. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tanpa ekspresi. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Raja akhirnya membuka mulut, meskipun suaranya terdengar serak dan nyaris tidak terdengar. "Lo... tau darimana?"